Entah naluri apa yang membuat Sheerin untuk datang sepagi ini. Sheerin melangkahkan kakinya di atas koridor yang masih dingin itu. Ia memeluk tubuhnya sendiri mencoba menghangatkan tubuhnya.
Sheerin membuka pintu kelasnya yang masih tertutup rapat. Sheerin berjalan memasuki kelas sambil menutup pintu itu lagi. Tapi pandangan Sheerin terhenti ketika melihat seseorang menaruh sesuatu di kolong mejanya. Sesuatu yang sering Sheerin terima. Sesuatu yang selalu Sheerin dapatkan setiap pagi.
Sheerin bergerak menghampiri orang itu yang sama sekali belum menyadari kehadiran Sheerin.
"Lo.. siapa?"
Orang itu menoleh. Tapi pergerakan itu yang membuat Sheerin dan orang itu sama-sama kaget.
"Azrie?"
"Eng.. itu gue."
"Lo. Jadi--Lo kenapa ga pake seragam? Terus ngapain di bangku gue?"
"Gue sebenernya hari ini ga mau ke sekolah. Gue ga enak badan. Tapi--"
"Lo sakit?" Sheerin mengangkat tangannya ke dahi Azrie. Dan saat itu pula Sheerin menelan ludahnya kasar.
Mr. A yang Sheerin kenal, sakit. Sekarang Azrie sakit. 2 hari lalu Azrie tidak masuk sekolah. Dan Mr. A yang Sheerin kenal mengaku tidak masuk sekolah juga. Awalan nama Azrie, huruf A. Dan yang biasanya memberi surat kepada Sheerin mengklaim dirinya sebagai Mr. A.
Sheerin masih tidak melepaskan tangannya di dahi Azrie. Ia juga tidak berhenti menatap Azrie dengan tatapan yang membuat Azrie menjadi kikuk sendiri.
Badan Sheerin melemas tangannya merosot menjadi di bahu Azrie. Pandangannya pun kini menjadi kosong, walau tetap menatap Azrie.
"Kenapa gue ga pernah nyadar kalo itu lo?"
Azrie mengernyit menatap Sheerin yang berbicara dengan mata kosong.
"Nama lo awalnya huruf A?"
Azrie mengangguk, membuat senyuman tipis di bibir Sheerin.
"Gue ga peka ya Zrie?"
"Hm. Lo emang ga peka."
"Maaf."
Azrie tersenyum lalu menepuk kepala Sheerin pelan.
"Bisa ga lo minta maaf buat gue terus-terusan?"
"Kenapa?"
"Seneng aja liat lo merasa bersalah sama gue."
Sheerin sedikit terkekeh mendengar jawaban Azrie. Melihat itu Azrie pun ikut terkekeh.
"Lo ga pulang?"
Azrie mengernyit, lalu menatap Sheerin sinis. Sheerin yang ditatap seperti itu hanya menaikkan kedua alisnya.
"Lo ngusir gue?"
Sheerin tertawa. Lalu tangannya ia kibaskan di depan muka Azrie.
"Lo lagi sakit. Mending istirahat dulu, lo juga baru pulang 'kan?"
Azrie mengangguk lalu menepuk kepala Sheerin lagi sebagai tanda perpisahan. Azrie melangkah pergi meninggalkan Sheerin.
"Oh ya Zrie."
"Hm." Azrie membalikkan badannya melihat Sheerin.
Sheerin tersenyum miris dan akhirnya menggeleng. "Ga jadi."
Azrie tersenyum ringan sebelum kembali meninggalkan Sheerin.
Sesudah Azrie meninggalkan kelas, Sheerin duduk di tempatnya lalu mengambil amplop di kolong mejanya. Tetapi ia juga menemukan suatu kotak berwarna biru tua. Seiring Sheerin mengeluarkan kotak tersebut, seseorang datang dan kemudian duduk di sebelah Sheerin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. A
Teen Fiction[INI BUKAN FANFICTION] Sheerin tidak akan pernah mau mengenal dan berhubungan dengan masalah percintaan. Karena baginya cinta itu membawa kekecewaan. Membawa penderitaan. Dan juga membawa tangisan. Hingga pada akhirnya Sheerin bertemu dengan seseora...