(10) Pisau di Belakang, Bunga Mawar di Depan

322 8 4
                                    

Sheerin duduk bertiga di kantin bersama Keisha dan Rendy. Azrie? Entah sedari tadi juga Sheerin terus mencari-cari sosok laki-laki itu.

"Lo berdua makin deket aja." Ledek Sheerin pada Rendy dan Keisha yang sejak tadi saling mencibir satu sama lain.

"Lo ama Azrie juga makin deket aja."

Sheerin sedikit tertawa mendengar ledekan Keisha. Tetapi raut wajahnya terlihat sedikit miris. Melihat itu, Rendy lalu menyikut Keisha dan kemudian Keisha menyikut Rendy dan seterusnya.

"Azrie mana dah ga nongol-nongol." Ucap Keisha sambil mencoba melirik sekitar memastikan apakah Azrie ada di sekitarnya.

"Lagi sama gebetan kali."

Rendy dan Keisha menoleh mendengar ucapan Sheerin yang terdengar sedikit ketus. Lalu beberapa saat kemudian Rendy tertawa yang membuat Keisha semakin bingung.

"Azrie punya gebetan? Setau gue aja gebetannya Azrie itu lo." Ucap Rendy yang membuat Sheerin memutar bola matanya.

"Serius. Bahkan kemarin aja gue ketemu Azrie sama gebetannya di mall. Dan mereka ngaku kalo mereka emang janjian."

"Ck! Ngehayal lo. Lagian Azrie juga lagi di Amerika. Gebetan mana yang mau dia temuin?"

"Amerika?"

"Hm. Baru semalem dia pergi. Emang dia ga pamit sama lo?"

"Di bilang dia kemarin jalan sama gebetannya."

"Serah orang yang cemburu deh."

"Kok cemburu?"

"Iya lah. Nih ya, lo ngomongin Azrie sama gebetan yang lo sebut itu sambil pake nada-nada ketus gitu. Apa coba kalo ga cemburu?"

"Gue lagi ga mood doang kali. Jadi ngomongnya kek gitu."

"Serah."

Sheerin meminum es-nya sambil melihat sekelilingnya. Sheerin mengambil handphonenya dan mencoba memanggil nomer Azrie. Setelah menunggu beberapa saat Sheerin tersenyum, panggilannya di angkat.

"Zrie."

"Hm."

"Lo.. Ga jadi deh."

Sheerin mematikan panggilannya dan kemudian menyandarkan punggungnya lalu mendesah kasar. Rendy dan Keisha yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala. Pasalnya merekal sendiri tidak tahu apa yang harus di lakukan, sedangkan Sheerin adalah tipe orang yang susah di tebak.

"Gue balik ke kelas ya."

Sheerin berjalan meninggalkan Rendy dan Keisha. Sheerin berjalan menuju kelas dengan perasaan gelisah tidak karuan. Sesuatu seperti menyelimuti dirinya dan ia tidak bisa menghilangkan itu.

"Sheerin." Panggil Luna ketika Sheerin sudah duduk di kursinya.

Sheerin menoleh dan mencoba tersenyum di depan Luna. Tapi sungguh, Sheerin bukan tipe orang yang bisa berakting jika seperti ini.

"Gue minta nomernya Azrie dong."

Dahi Sheerin berkerut. Mencoba berfikir hal yang bisa membuat Luna meminta nomer Azrie.

"Jaketnya Azrie ada di gue. Jadi.."

Wajah Sheerin berubah seketika,  menatap Luna dengan tatapan 'Alasan apaan coba'. Tapi setelah itu Sheerin menyerahkan handphonenya dan memberikan nomer Azrie dengan cuma-cuma.

Luna lalu pergi keluar kelas tanpa mengucapkan kata terima kasih ataupun sejenisnya yang membuat Sheerin harus menghela nafas kasar. Sheerin mengotak-atik handphonenya dan mememcet tombol panggil.

Mr. ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang