5: Tears

570 133 17
                                    

Pria itu masih menatap lekat wajah wanita itu. Tanpa ragu, tanpa takut, tanpa malu. Sedangkan si wanita mendengus kesal sembari membanting garpu dan pisau dari tangan lentiknya pada piring steak miliknya.

"Tapi kalian tidak mirip sama sekali. Bagaimana aku bisa percaya?", ujar pria itu sekali lagi.

"Otakmu kemana? Isinya hitungan saham semua? Ada yang namanya kembar tidak identik bodoh!", sergah Sooyoung penuh emosi.

Sial baginya karna ia harus terlibat selama 1 jam 23 menit bersama dengan adik ipar saudara kembarnya. Dan satu hal, Ella. Ella nyatanya juga adalah miliknya dan keluarganya. Hatinya sedikit sakit mengetahui Jennie bahkan tidak diperbolehkan menemui anaknya.

Jennie hilang tanpa jejak saat berusia 15 tahun. Hati Sooyoung begitu sakit, hari dimana Jennie mulai menghilang nyatanya juga mulai mendatangkan mimpi buruk dihidupnya.

Ella berusia 12 tahun saat ini, maka faktanya ialah Jennie pergi saat sedang mengandung Ella.

"Baiklah Park Sooyoung-ssi", Taehyung berujar dengan tatapan kosongnya. Pria itu menghela nafas kasar lalu memijit pelipisnya pelan.

"Kakakku menikahi saudari kembarmu, Jennie. Dan ibuku tak pernah menyukainya. Gadis usia dini yang hamil dari pria yang hampir 10 tahun lebih tua darinya. Dan Jennie menyelingkuhi kakakku. Dia yang memilih pergi tanpa diminta", Sooyoung menatap Taehyung tajam.

"Lalu melarangnya dan Ella untuk bertemu itu menurut kalian benar? Dan juga aku dan keluargaku berhak atas Ella. Kalian seharusnya memberitahu kami tentang kelahiran Ella!", ujar Sooyoung dengan frustasi. Taehyung membalas tatapan Sooyoung tak kalah tajam.

"Jennie mengaku sebatang kara. Ibunya meninggal dan makamnya terang-terangan nyata adanya. Kemana kalian selaku keluarganya? Dan kenapa kau baru mencarinya sekarang?", balas Taehyung tak kalah sengit. Situasi memanas. Sooyoung bersumpah rasanya ia ingin sekali membogem wajah tampan milik Taehyung. Sooyoung mengibaskan rambutnya kebelakang ia benar-benar kepanasan saat ini.

"Cukup berikan alamatnya padaku dan jangan menggali informasi pribadiku lebih dalam lagi",

"Kembalikan Ella padaku dan keluargaku maka kau akan mendapatkan alamat saudari kembarmu", Sooyoung melotot menatap tajam kearah Taehyung. Tangan lentiknya yang ringan menepuk dengan keras meja makan restoran tersebut. Tak peduli ia akan menjadi bahan gunjingan. Taehyung mengikuti jejaknya menepuk meja makan tak bersalah itu sama kerasnya.

"Dasar pria licik! Percuma tampan jika kau licik seperti ini. Tak akan ada yang mau menikah denganmu! Bujang lapok!!!", hinaan meluncur dengan licin dari bibir penuh milik Sooyoung.

"Oh menurutmu aku tampan? Well terima kasih. Nenek sihir biasanya akan melajang sampai akhir hayatnya. Kau titisannya, berarti kemungkinan kau akan melajang seumur hidupkan?", balas Taehyung. Keduanya bertatapan dengan sengit seolah-olah berperang lewat tatapan keduanya. Sampai akhirnya dering ponsel milik Sooyoung membuatnya mengusaikan 'death glare' nya.

"Lalu ada apa jika kau melihatku dengan anak itu, appa?", tanya Sooyoung dengan nada ketusnya.

"...."

"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Jadi tunggu aku di rumah",

Sooyoung bangkit dari kursinya berjalan kearah dimana Taehyung duduk menarik dasi pria itu dengan keras. Menundukan tubuhnya mencondong kearah Taehyung, menyerah Taehyung yang terlihat akan segera mengeluarkan protes dari bibir penuh pria itu.

"Diam! Ikuti aku sekarang!", sedetik setelahnya Taehyung merasa tercekik dan akan mati jika tidak mengikuti Sooyoung yang berjalan sambil menarik dasi yang melingkar erat pada lehernya.

WHY HER ( VJOY ) MTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang