Sooyoung memijat pelipisnya pelan tepat setelah ia terduduk pada ranjang miliknya. Entah sudah keberapa kali ia menghela nafas. Terlalu rumit, ini semua terlalu rumit untuk dia pahami. Bagaimana bisa, dan...
Sooyoung membaringkan tubuhnya lalu berdecak kesal dengan sendirinya. Ia memejamkan matanya membiarkan semua bayangan kejadian beberapa jam yang lalu berputar kembali dalam ingatannya.
Few hours ago
Sooyoung menggenggam kepalan tangan pria itu dengan erat lalu menggeleng. Menyalurkan permohonannya lewat sorot matanya. Mata lentiknya sesekali menatap kearah Jennie dan juga Taeyong yang babak belur ulah Taehyung.
"Tenangkan dirimu Taehyung-ssi. Setidaknya dengar sampai akhir. Jebal", Taeyong pria itu memohon. Jelas Taehyung ingin segera bangkit dan kembali melayangkan tinjunya kearah pria itu namun tertahan. Sooyoung menariknya dengan keras untuk kembali terduduk.
"Lanjutkan Jen", pinta Sooyoung. Kepalanya sudah mulai pening sejujurnya. Situasi ini terlalu panas dan membebaninya.
"Taeyong, seperti yang kau ketahui. Ia melanjutkan kuliahnya di London. Aku terlanjur hamil dan dia sudah tak ada di Seoul",
Sooyoung menatap Jennie penuh tanya. Menunggu saudarinya untuk melanjutkan ucapannya.
"Sudah cukup aku hidup sebagai anak dari wanita simpanan, aku tak ingin membuat appa malu. Aku memilih pergi saat itu. Aku bekerja disalah sebuah restoran dimsum hingga seorang pria datang padaku",
Taehyung tertawa sinish selama beberapa detik lalu menatap Jennie penuh intimidasi.
"Lanjutkan. Aku tidak menyuruhmu berhenti", Sooyoung mendengus kesal. Oh ayolah, Jennie adalah saudarinya. Dan Taehyung bersikap tidak baik pada Jennie. Wajar jika Sooyoung terbawa emosi dan kesal.
"Jong In. Ia datang padaku, menawarkanku kesepakatan. Kau tahu yang Jong In butuhkan?", Taehyung dalam diamnya.
"Teman bicara, support system dan aku mendapat bayaran dengan hidup terjamin sebagai kedok. Maaf ini mungkin akan menyakitimu, Kim Jong In pecinta sesama jenis.."
"Jangan memotong ucapanku!", lanjut Jennie diakhiri dengan pekikan penuh emosi karna Kim Taehyung terus menatapnya penuh kebencian dan terlihat mulai membuka mulutnya ingin menyanggah ucapannya.
"Kau pikir Jong In benar-benar meninggal karna tekanan batin? Tidak!",
"Persetan dengan apa ucapanmu Ruby! Ah Jennie. Atau kau punya nama samaran lainnya?",
"Kim!", kali ini Sooyoung yang sebelumnya memilih diam membuka suara.
"Duduk dan dengarkan sampai akhir! Paham?!", Taehyung membuang mukanya lalu mendengus kesal.
"Aku memiliki semua buktinya. Taehyung-ssi. Aku berhak atas putriku",
"Lantas kenapa selama ini kau tidak menuntut ini semua? Kenapa kau tidak membawa Ella untuk pergi?!", Taehyung mencoba meredam emosinya untuk tidak berbuat impulsif ataupun meneriaki seorang wanita yang notabene nya ialah mantan kakak iparnya.
"Ibumu. Tae, aku tahu rasanya kehilangan seseorang untuk selamanya. Ia akan gila jika yang ia kira cucunya juga pergi. Dan aku akui saat itu aku berpikir untuk meninggalkannya karna Ella akan hidup lebih terjamin. Kutegaskan sekali lagi, aku dan Taeyong memiliki hak penuh atas Ella", Jennie mengakhiri kalimatnya.
"Lalu bagaimana dengan hasil diagnosis rumah sakit? Aids? Tipuan macam apa lagi Park Jennie",
"Jaemin yang menanganinya, bukan? Jaemin berjanji pada Jong In untuk merahasiakan ini semua. Pikirkan, Jong In hanya tak ingin membebanimu dan ibumu lalu menjadi aib. Dan Soo, Jong In tahu soal kita. Ia kenal denganmu. Katanya kau sempat menumpang dirumahnya. Itulah mengapa ia begitu yakin untuk bertanggung jawab atas aku dan Ella saat itu. Ia ingin mengusir rumor tentangnya dan tak ingin menjadi aib keluarganya. Kau orang pertama yang memberikannya sebuah jepit rambut dengan desain mewah. Kau orang pertama yang foto bersamanya dengan penampilan dibalik keseharian...",

KAMU SEDANG MEMBACA
WHY HER ( VJOY ) M
FanfictionTentang apa, dimana, kapan, bagaimana dan yang paling penting. "Mengapa harus Park Sooyoung? Ada apa memangnya dengan Park Sooyoung?",