Sooyoung menggigit bibirnya pelan lalu tanpa sadar memainkan kedua tangannya sendiri. Gelisah dan sialnya perutnya kini malah merontah-rontah meminta untuk diisi. Setelah kejadian sore tadi didalam mobil dengan Kim Taehyung, ia mulai merasa ada yang salah dengan dirinya.
Ia memejamkan matanya untuk menenangkan diri selama beberapa saat namun sialnya otaknya sendiri membuatnya untuk berakhir lagi-lagi mengumpat.
'Aish! Kenapa sekarang dia jadi menghantui otakku!', jerit Sooyoung dalam batin lalu berjalan cepat dan melemparkan dirinya kembali ke ranjang. Menutupi wajahnya dengan bantal miliknya sembari menendang-nendangkan kedua kakinya frustasi.
Ia tahu perbuatannya tadi sangat gila.
'How could I end up make out with him?',
Sooyoung jelas tahu ada yang salah dengan dirinya ataupun Kim Taehyung.
'Ani Park Sooyoung. Sadarkan dirimu. Kau hanya akan merusak dirimu sendiri jika terbawa perasaan. Ingatkan bagaimana Jung Jaehyun menyakitimu?',
Sooyoung membalikan tubuhnya menatap kearah langit-langit lalu membuang nafas kasar.
'Jantung bodoh. Bisa-bisanya kau berdebar sebegitu kerasnya',
Sooyoung mendudukan dirinya lalu meraih scrunchie miliknya untuk mengikat rambut panjangnya keatas. Menyerah dengan perutnya yang terus meminta makan.
Berakhir dengan ia menutup pintu kamarnya dan berjalan keluar dari kamar yang ia tempati selama disana. Ia menenangkan dirinya begitu netranya mendapati Taehyung yang terlihat tengah sibuk dengan laptopnya dan duduk di meja bar milik pria itu. Pria itu terlihat begitu tampan dengan mata tajam dan raut muka dinginnya.
Sooyoung mengerutkan keningnya. Mulai bertanya pada dirinya sendiri.
'Dia bahkan jauh dari tipeku. Aku menyukai pria berlesung pipi dengan tatapan mata yang hangat. Sedangkan pria ini... Ani! Apa yang sedang kau pikirkan Park Sooyoung?!', Sooyoung membalikan tubuhnya lupa dengan rasa laparnya begitu kembali dihadapkan secara langsung dengan Taehyung.
"Kau akan melewatkan makan malammu?", suara barithon itu berucap membuat Sooyoung menghentikan langkahnya lalu memejamkan matanya sambil mengumpat pada dirinya sendiri.
"Bukan urusanmu", balas Sooyoung seadanya.
"Ella akan marah padaku jika sepulang dari sini kau menjadi tengkorak berjalan. Makanlah aku membeli burger dan ayam goreng tadi.", Taehyung berucap tanpa memandang kearahnya sama sekali.
Sooyoung menatap Taehyung sengit lalu berjalan mendekati meja bar dimana pria itu berada.
"Soal Ella, besok kita harus mengatakan niat kita pada Jennie dan juga Taeyong",
"Jangan lupakan jangan sebut aku temanmu lagi. Kita akan menikah dan kau tahu itu",
"Aku merasa bersalah sekarang. Aku memisahkan Ella dengan ibunya yang notabene nya ialah saudari kembarku", Sooyoung berujar sembari melahap ayamnya dan menyeruput cola dari sedotannya.
"Lantas kau ada jalan keluar lainnya?", Sooyoung menatap Taehyung singkat lalu menggeleng perlahan.
"Ella membutuhkanmu", Sooyoung menatap kearah pria yang kini tengah menatapnya dengan mata teduh pria itu.
Perasaan milik Sooyoung menghangat.
'Beginikah rasanya dibutuhkan oleh seseorang?',
......................................................................
"Rumahmu indah sekali Jen! Kau menatanya dengan baik", puji Sooyoung sembari menatap takjub interior milik Jennie. American classic yang begitu elegant.
"Ah tidak. Taeyong yang menata semua ini. Dia seorang arsitek", Sooyoung menahan dirinya untuk tak banyak bertanya. Sooyoung meletakan piring-piring kosong pada ke empat titik pada meja makan yang cukup luas itu sambil membiarkan otaknya terus diisi dengan pertanyaan-pertanyaan.
Tentang bagaimana bisa Jennie dan Taeyong yang berkencan saat itu dan berakhir Jennie menikahi Jong In lalu melahirkan Ella. Namun ia menahan dirinya daripada membuka luka lama.
"Aku dan Taehyung sebenarnya...",
"Kalian berkencan kan?", tebak Jennie sembari meletakan masakannya pada meja makan. Sooyoung yang semula sibuk menata meja membalikan tubuhnya menatap ke arah Jennie.
"Aku bisa melihatnya dari mata Taehyung. Mata pria itu selalu terlihat tajam dan marah setiap hari. Lalu irit bicara. Tapi saat berbicara padamu... Ia cukup cerewet dan banyak bicara", jelas Jennie sembari tersenyum mengejek Sooyoung.
"Jen. Ini mengenai Ella", perlahan Jennie mengendurkan senyumannya lalu menatap Sooyoung dengan wajah sayunya.
"Kau sudah bertemu dengan keponakanmu?", tanya Jennie lirih. Sooyoung menghela nafas kasar lalu mengangguk pelan sebagai jawaban. Sooyoung melangkahkan kakinya kearah Jennie lalu menarik pelan tangan milik Jennie untuk mengikuti langkahnya. Menuju halaman taman dimana Taehyung dan Taeyong dengan berbincang disana.
"Kita berempat butuh bicara", ujar Sooyoung begitu mendudukan dirinya di samping Taehyung. Keduanya duduk bersebrangan dengan Jennie dan juga Taeyong.
"Kami akan menikah",
"Ella itu putriku",
Mata keempat manusia yang ada disana membulat. Nafas keempatnya tercekat dalam keterkejutan.
"Ulangi", pinta Taehyung. Wajah pria itu menegang dan rahang pria itu mengeras. Sooyoung menganga tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Ella adalah putriku dan Jennie",
Kedua tangan milik Taehyung terkepal.
"Aku menahan diriku sejak kemarin untuk tak menghajarmu. Kau merebut istri kakakku dan sekarang kau mau merebut anaknya?! BRENGSEK!!!", Taehyung menonjok wajah milik Taeyong dengan begitu impulsif hingga pria itu terhuyung dan jatuh ke tanah. Tak peduli dengan pekikan kedua wanita disana dan juga Sooyoung yang terus menerus menariknya untuk menjauh dari Taeyong dan menghentikan tingkahnya.
"KIM TAEHYUNG JEBAL!", Jennie berteriak begitu keras sembari menangis.
Taehyung terdiam lalu bangkit dari posisinya menghajar Taeyong yang tengah meringis tanpa melawan perbuatan Taehyung.
"Aku baik-baik saja, Jen. Tenanglah",
Sooyoung menggenggam kepalan tangan milik Taehyung lalu menggeleng pelan pada pria itu. Meminta pria itu untuk lebih tenang dari sorot mata lentiknya. Taehyung membuang mukanya lalu mendengus kesal. Ia menurut lalu mendudukan tubuhnya pada kursinya semula.
Sudut bibir milik Taeyong terlihat berdarah dengan beberapa noda yang akan menjadi calon lebam di wajah tampan pria bermarga Lee itu.
"Biarkan aku yang bicara", tukas Jennie. Sooyoung tak melepaskan genggamannya sama sekali. Tangan Taehyung masih terkepal menahan emosinya.
"Ella benar-benar putriku dan juga Taeyong..",
"SIALAN!", maki Taehyung memotong ucapan milik Jennie. Sooyoung mempercepat refleksnya meraih wajah pria itu lalu menggeleng dengan tegas sembari menatap mata pria itu. Taehyung menghela nafas kasar lalu membuang mukanya melepaskan jemari lentik itu dari wajahnya.
"Tenangkan dirimu Taehyung-ssi. Setidaknya dengar sampai akhir. Jebal", Taeyong pria itu bahkan ikut memohon.
"Lanjutkan Jen",
TBC
.............................................................
Jangan lupa vote and komen ya. Author benaran DOUBLE UP hari ini. Sesuai janji.
Tetap tinggalkan jejak ya. 19.00 nanti author up lagi
KAMU SEDANG MEMBACA
WHY HER ( VJOY ) M
FanfictionTentang apa, dimana, kapan, bagaimana dan yang paling penting. "Mengapa harus Park Sooyoung? Ada apa memangnya dengan Park Sooyoung?",
