"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bu Binti datang!" teriak salah satu siswa yang mengintip sejak tadi di depan pintu. Siswi yang bercengkerama ria atau para cowok yang sibuk memainkan game konyol lekas menghentikan kegiatannya. Lalu mereka berpencar untuk kembali ke bangkunya masing-masing. Riuh terjadi lantaran mereka terburu-buru, tapi tak berlangsung lama karena setelah mendengar suara langkah mendekat semua menjadi senyap.
Suara pantofel Bu Binti terdengar dan selang beberapa saat, beliau memasuki kelas sambil menebar senyum yang terlihat ... sedikit dipaksakan? Penampilan beliau masih seperti biasanya. Kerudung berwarna cerah dan perona bibir merah yang sudah menjadi ciri khas. Akan tetapi, tak seperti biasa, wajah beliau tampak sedih. Seperti hendak mengatakan hal yang cukup memberatkan hati.
"Selamat pagi semua." Bu Binti menatap murid-muridnya sembari menarik napas pelan. "Maaf ya, di pagi yang harusnya tenang, Ibu datang membawa berita yang kurang mengenakkan. Hari ini, Anissa, teman sekelas kalian resmi pindah dari SMANSA. Untuk alasannya Ibu tidak bisa memberitahu, tapi yang jelas, kalian masih bisa menyapa Anissa di luar sekolah. Kalian tetap bisa menjadi teman baik. Jadi jangan sedih, ya."
"Iya, Bu ...," balas mereka serentak.
Selepas penjelasan Bu Binti bisik-bisik terdengar. Mereka semua seolah sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
"Oke. Sekarang kita bahas soal yang Ibu berikan kemarin. Siapa yang mau maju ke depan menjelaskan ke teman-teman?" Tidak ada yang mau menjawab. Pertanyaan Bu Binti seperti angin lalu.
Bu Binti menghela napas lagi, kali ini karena pasrah tidak ada anak didiknya yang mau maju ke depan.
"Ayo, Ca. Ketua kelas, ketua kelas."
Demi Septihan yang ganteng banget! Kenapa selalu ketua kelas sih yang kena? lirih Aca yang diakhiri dengan decakan kesal.
"Nomor tiga kan, Bu?" tanya Aca sembari melangkah ke depan. Aca mengambil buku tulisnya kemudian berjalan ke depan. Ia juga bergumam beberapa kali, entah apa itu. Yang pasti, apa yang gadis itu gumamkan tidak akan jauh-jauh dari sebuah gerutuan kepada teman-temannya yang hidupnya seratus kali lebih mudah karena Aca telah mengambil peran sebagai murid—tumbal maju ke depan—kesayangan Bu Binti. Pipi Aca menggembung lucu, tapi tidak dengan umpatannya. Tidak mencerminkan wanita berpendidikan sama sekali.
Abrita dapat melihat semua gerak-gerik Aca karena duduk tepat di sampingnya, tapi ia tidak menanggapi apa pun. Ia menunduk dalam sampai wajahnya tidak terlihat. Membalikkan lembaran buku dengan serius seolah memang menyimak agar tidak menjadi korban Bu Binti selanjutnya. Tentu ia tidak benar-benar membaca. Raganya memang di sini, tapi pikirannya berkeliaran ke mana-mana.
Banyak hal yang melintas di pikiran gadis itu. Salah satunya tentang teman sekelasnya yang memilih pindah ke sekolah lain. Mungkin jika tidak di masa sekarang, pasti semua bertanya-tanya kenapa ada yang pindah secara tiba-tiba? Mengingat SMANSA adalah sekolah terbaik di kota ini. Namun setelah kejadian itu, pindah sekolah adalah hal yang lumrah terjadi. Tak terhitung jumlahnya karena setiap minggu, ada saja yang mengundurkan diri. Bahkan di kelas IPA-5 ini hanya tinggal separuh yang masih bertahan di SMANSA termasuk Abrita.