5.0

205 39 8
                                        

Walaupun berlari sekuat tenaga, Aji yakin kalau dirinya tidak bisa menggapai tangan Bagas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Walaupun berlari sekuat tenaga, Aji yakin kalau dirinya tidak bisa menggapai tangan Bagas. Jarak mereka terhitung masih jauh dan pisau tajam pemotong rumput itu hanya berjarak beberapa senti dari wajah Bagas.

Wajah Bagas akan terkoyak, darah itu akan memuncrat seketika saat pisau itu bersentuhan dengan wajah Bagas.

"Bang, berhenti!" Teriakan Aji tidak didengar. Benda itu tetap bergerak mendekat.

Namun, dari arah lain ada orang yang berlari. Cepat. Dan lebih dekat dengan Bagas. Tangan itu berhasil meraih gagang yang dipegang tangan kiri Bagas. Orang itu membelokkan arah pisau tajam itu, sehingga mata yang semula menjadi sasaran pertama pisau bergerigi itu terselamatkan. Sialnya, Bagas memberi perlawanan dengan tidak membiarkan gagang itu berpindah tangan. Ia menarik kuat akibatnya, pipi Bagas tergores dan darah segar mengucur deras dari sana. Tidak kehilangan akal, cowok itu menendang lutut Bagas sampai tersungkur. Lawannya tidak berdaya, perbedaan kekuatan di antara mereka begitu besar sehingga cowok itu berhasil mengambil alih gagang pemotong rumput itu, melemparkan ke tanah sedikit jauh dari jangkauan Bagas.

"Ji! Matiin mesinnya!" ucap cowok itu sambil menahan Bagas yang bergerak kacau seperti kesetanan. Bagas masih berusaha keras meraih kembali pemotong rumput, tapi tidak bisa karena ada yang menahannya. Tapi, Bagas yang matanya memerah menggigit keras sampai cowok itu meraung kesakitan. Cekalan itu terlepas.

Aji yang sudah berada di dekat mesin itu terdorong oleh Bagas yang berlari sangat cepat ke arahnya. Tubuhnya terguling ke kiri sambil memegang kuat Bagas. Cowok yang sebelumnya digigit membantu Aji memegangi Bagas yang menggila.

Melihat situasi yang kian runyam, Abrita berinisiatif menggantikan peran Aji. Melakukan perintah orang itu untuk mematikan mesin. Gadis itu berlari, tatapannya tertuju pada tas oranye yang berada tak jauh darinya.

Akhirnya ... suara bising mesin itu terhenti setelah Abrita menekan tombol OFF pada mesin yang tergeletak. Aji yang terlentang menengadah, menatap Abrita sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi jempol kepada Abrita. Berterima kasih dan mengatakan secara tidak langsung kalau berkatnya, semua sudah aman terkendali.

"Bang Janu ngapain di sini?" tanya Aji dengan suara terengah-engah. Melengok ke samping untuk melihat orang yang berjibaku bersamanya.

Dan orang yang membantu Aji tadi tak lain dan tak bukan adalah abangnya sendiri, Januar.

"Bentar, gue napas dulu. Baru gue jawab."

Mereka belum melepaskan Bagas, masih mencekal kuat tangan dan tubuh Bagas agar tidak bergerak seinci pun.

"Sekarang udah ambil napasnya? Jawab, Bang."

"Gue disuruh Septihan ke sini."

Aji yang semula terlentang langsung bangkit. "Serius Bang Septihan?" tanya Aji sambil menatap Januar yang masih kepayahan.

Januar mengangguk. "Septihan nyuruh gue buat nyembunyiin alat pemotong rumput sialan itu," tukas Januar sambil menunjuk alat yang tergelatak di dekat Abrita. "Tapi sial banget gue malah nemuin hal ginian. Bagas Bangsat! Ngapain pakek atraksi segala!"

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang