4.0

197 39 8
                                        

__________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

__________

"Kenapa sih tiga bersaudara itu tingkahnya nggak ada yang bener? Satu kelewat cuek satunya lagi over ceriwis!"

Satunya lagi Januar, yang membantu Abrita ketika pingsan. Apa cowok itu juga nggak jelas? Tidak tahu dan Abrita tidak mau tahu juga. Kalau bisa tidak usah berinteraksi lagi. Mereka tiga bersaudara, jadi sudah pasti gen menyebalkan juga mengalir di darah Januar.

Membayangkan dirinya berjalan diapit oleh mereka saja Abrita tidak mampu. Ndiak kuat! Gadis itu dibuat bergidik oleh pikirannya sendiri.

"Kenapa lo? Dingin? Perasaan panas banget sampai gue ke mana-mana bawa kipas." Entah dari mana Aca tiba-tiba muncul di sampingnya, menyodorkan kipas portable berwarna biru yang tak pernah lepas dari genggaman. "Lo tadi jadi ke perpus? Liat Septihan di sana nggak?"

Ini lagi. Bucin Septihan garis keras datang untuk merecoki. Orang-orang di sekitarnya memang aneh semua! Abrita tidak menjawab, ia berjalan lebih cepat meninggalkan Aca yang tidak bisa mengikuti langkahnya.

"Gue cuma mau tanya Septihan tadi pas baca buku keliatan ganteng apa ganteng banget—eh eh kok ditinggalin!

__________

Sudah hampir sebulan ini, jatah istirahat Abrita terenggut demi mengamati pergerakan kunang-kunang yang menempel di bahu murid SMANSA. Mata gadis itu melirik ke kanan-kiri sambil menopang dagu dan sesekali mengerutkan alis ketika menemukan hal yang menurut gadis itu janggal.

"Anak IPS-3 kemarin bersih, tapi sekarang dia dihinggapi juga. Berarti ini hari pertamanya."

"Yang rambut jamet itu? Oh, Dzikin namanya. Oke gue catet, Dzikin hari pertama," sahut Aji yang duduk di undakan satu tingkat di bawah Abrita. Tangan kanannya memegang pensil 2B dan di paha cowok itu terdapat buku tipis untuk mencatat nama-nama orang yang sudah "terjangkit" kunang-kunang.

Aji dan Abrita saat ini tengah duduk di pinggir lapangan. Sudah menjadi rutinitas mereka untuk menghabiskan jatah istirahat kedua di sini. Abrita yang mengamati dan Aji bagian mencatat. Dari kegiatan ini, mereka menemukan sedikit petunjuk. Cahaya kunang-kunang itu akan sangat terang di fase pertama, saat mereka baru menghinggapi inangnya dan kian meredup ketika mendekati masa akhir, yaitu kematian.

Mata Aji menangkap seseorang yang tidak asing. "Itu Arlan IPA-3. Harusnya ini hari kedelapan dia dihinggapi kunang," ucap Aji tidak yakin. Ia membalik kertas catatannya dan berseru riuh karena perkataannya benar.

"Iya, kah?" Abrita menatap Arlan, kemerlip kunang yang hinggap di bahunya memang sedikit meredup. "Lo dulu batas akhirnya tujuh hari kan, Ji?" Gadis itu memastikan.

Yang ditanya mengangguk. "Tepat setelah hari ketujuh kalau kunang-kunang itu belum bisa lepas, gue bisa mati."*

"Kayaknya kali ini emang enggak ada batas waktu pasti kapan hewan itu bikin ulah."

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang