"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bang, lo pasti abis ikut pesta kecubung di SMA sebelah. Ya, 'kan?" Aji-lah yang pertama kali memecah keheningan di gazebo ini.
Januar mengangguk setuju. "Nah! Masuk akal, nih! Gue denger dari anak basket tadi. Kemarin di SMANDU yang ikutan teler pada dipanggil orang tuanya."
Sedang yang dijadikan objek fitnah tidak berniat untuk membela diri. Ia hanya duduk diam dan memandang malas ke arah dua saudaranya itu. Seolah, Septihan memang sudah terbiasa melihat kebodohan yang bersatu padu.
Kemudian suasana kembali hening.
Setelah lima menit berlalu, Aji dan Januar membelalakkan mata secara bersamaan. Akhirnya menyadari kalau Septihan benar-benar serius dengan perkataannya.
"Gila! Ini gila! Abang gue bisa ngeliat masa depan!" seru Aji heboh. "Jadi lo beneran tahu pas gue hampir mati gara-gara ketempelan kunti?" lanjutnya masih dengan kehebohan yang sama.
Septihan menggeleng. "Nggak. Gue nggak tahu itu. Di mimpi gue cuma lihat lo yang mau loncat dari rooftop, hampir ketabrak truk karena nolongin Brita, dan kesialan-kesialan lainnya. Kalau lo lupa, gue tadi bilang bisa liat musibah dan kematian lewat mimpi, bukan indigo, Ji."*
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya. Kemudian melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. "Gue kira 'Aji Ketempelan' cuma rumor anak SMANSA.* Ternyata bener? Baguslah. Waktu lo sering ngelibatin diri ke dalam hal-hal yang bisa bikin lo mati, gue udah ngira lo lagi masuk fase pubertas ekstrem."
"Baguslah-baguslah apaan! Gue hampir mati gitu kok dibagus-bagusin!" ketus Aji lantaran tidak terima dengan kalimat panjang Septihan. Abangnya ini memang jarang berbicara panjang lebar, tapi kalau sudah dalam mode itu, Aji cuma punya satu kata untuk menggambarkan bagaimana modelan Septihan ini berbicara. Menyebalkan!
"Ji ...," potong Januar dengan suara lembut. Tak lupa seraya menatap lekat orang yang dipanggil. Tiba-tiba sekali Januar yang bar-bar bertutur halus.
"Septihan ...." Sekarang Januar menoleh ke arah Septihan. Agaknya suara dan mimik wajah yang diperlihatkan Januar tidak sinkron. Matanya tersenyum sampai tampak menyipit, tapi tidak dengan senyuman di bibir yang terlihat seperti menahan geraman kesal.
Abrita yang duduk di samping Januar semula mengira kalau Septihan mode gahar sudah cukup membuatnya tak berani bersuara. Namun, melihat orang di sampingnya ini gadis itu menarik kembali ucapannya. Tangan penuh urat dan tampak amat sangat lakik itu mengepal kuat. Ia bahkan tidak berani membayangkan sebuah bogeman melayang dari tangan itu.
Sambil bergidik ngeri, Abrita tanpa sadar menggeser duduknya dekat dengan Aji. Bahu mereka bersinggungan, sehingga gadis itu spontan menoleh ke cowok jangkung di sampingnya. Tak disangka, ternyata Aji tak terlihat lebih baik darinya. Bahu cowok itu kaku dan entah sejak kapan peluh menetes di sekitar wajahnya. Sedang Septihan yang berada sedikit lebih jauh dari Abrita merubah posisi duduknya. Yang semula santai kini menjadi siap siaga.