"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Awas aja lo Kak Septihan yang merasa paling cakep se-SMANSA, emang cakep, sih ... tapi songong abis! Gue sumpahin nggak pernah dapet gratis ongkir! Tiap kentut pantatnya kerlap-kerlip dan bantal lo panas bolak-balik biar nggak bisa tidur nyenyak! Tersiksa terus sampai sadar lo harus bertaubat dan minta maaf karena udah nyakitin hati mungil seorang Carelica Azzahra!" seru Aca menggebu-gebu. Tangannya meninju angin sambil membayangkan wajah Septihan yang babak belur karenanya.
Gadis itu memotong jalan dari ruang guru ke jalan setapak dekat parkiran, agar ia tidak berjalan searah dan bertemu dengan Septihan lagi. Jalan itu adalah jalan andalan siswa kelasnya yang ingin membolos. Sebab kelas mereka terhitung kelas paling ujung sehingga kemungkinan berpapasan dengan guru besar. Jalan itu adalah kunci kesuksesan membolos cowok-cowok di kelasnya karena mempertipis kemungkinan mereka bertemu guru dan keamanan terjamin sampai ke parkiran dekat gerbang depan.
Walaupun minusnya, Aca harus melewati pohon beringin di belakang gedung. Tempat itu sepi dan lembab. Ada sumur yang sudah tidak terpakai di sana. Banyak rumor aneh beredar tentang tempat itu, tapi masa bodoh. Aca tidak percaya dengan hal seperti itu. Terlebih setelah Septihan menggunakan alibi kematian dan bunuh diri yang berkaitan era dengan hal mistis SMANSA untuk menolaknya.
Aca berjalan hati-hati melewati tanah lembab dan bebatuan. Sepatunya yang baru dicuci tidak boleh kotor. Namun, ketika menunduk dan mengawasi langkahnya, Aca merasa dipanggil seseorang. Gadis itu menoleh ke kanan kiri tapi tidak menemukan pemilik suara.
"Siapa, sih? Anak kelas gue juga, ya?" tanyanya lantang entah kepada siapa. Jika mereka menuju ke arah yang sama, akan lebih baik kalau berjalan bersama.
Aca kemudian berdecak. Firasatnya mengatakan kalau dirinya sedang dikerjai. Pasti ada yang bersembunyi dan bersiap untuk membuatnya terkejut. "Wah, iseng lo pada. Keluar cepetan!"
Tidak mendapi respons. Aca memutar tubuh searah jarum jam. Meneliti adakah semak ataupun pohon yang bergerak meskipun tidak ada angin di sana. Aca percaya kalau teman kelasnya bersembunyi di tempat seperti itu.
Tepat di arah jam lima, di mana pohon beringin berada, Aca menemukan seorang cewek berdiri di dekat pohon itu. Dia memakai seragam sama dengannya.
"Kan ... bener kata gue. Ngapain di sana? Bolos lo? Ayo balik ke kelas sama gue." Aca tidak tahu pasti siapa yang sedang berdiri itu lantaran wajahnya tertutupi rambutnya yang panjang. Tapi entah kenapa ia sangat yakin kalau itu anak kelasnya.
Namun, bukannya berjalan kemari, orang itu melambaikan tangan pelan. Memberi isyarat Aca untuk mendekat.
Aca mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa dipanggil ke sana tapi ia tetap melangkahkan kaki mendekat. Dalam hati ia akan menjewer telinga gadis itu karena bermain-main dengannya. Cukup Septihan saja yang membuatnya kesal, yang lain jangan.
Langkah yang ditempuh Aca terasa lambat. Dadanya berdesir kala melihat orang itu tidak bergerak seinci pun dari tempatnya. Berdiri menghadapnya seolah sedang menunggu Aca dan berniat melakukan sesuatu yang ... aneh? Entahlah. Dirinya mungkin jadi berpikiran aneh setelah melewati perbincangan menyebalkan dengan Septihan.