21.

60 9 1
                                        

Halo! Sebelum lanjut baca aku kasih tw dulu ya, di episode ini juga banyak darahnya dan ada kekerasannya. Tapi tetap ga sebanyak itu sih karena kan ni cerita bukan fokus betul ke horornya tapi tu ada. Paham kan maksud i? /pahammm~

Maaf di episode sebelumnya aku ga pernah kasih tw cw tapi aku sudah cantumin kok di sinopsis cerita *ngeles

anw, happy reading!

Selepas menanggalkan jaket, Septihan melemparkan dirinya di atas kasur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selepas menanggalkan jaket, Septihan melemparkan dirinya di atas kasur. Tubuhnya terasa remuk. Entah kenapa menyelesaikan hal ini lebih sulit dari soal-soal olimpiade yang ia selesaikan dulu, rentan waktu yang dibutuhkan lebih lama, lebih rumit, dan mempertaruhkan nyawa.

Septihan merindukan hari-hari damainya yang teratur. Tidak harus berkutat dengan hal tidak terduga, hanya berkutat di sekolah dipenuhi memori tidak berguna bersama dua saudaranya dan tak lupa gangguan manis dari Aca. Ah iya, bagaimana kabar gadis itu sekarang?

Merogoh saku celana, Septihan mengambil telepon genggamnya, mencari kontak nama Aca sekadar untuk mengabari bahwa ia sudah rindu.

Gua udah sampai rumah.

Oh, tentu jangan pernah berharap Septihan akan bilang rindu. Berterus terang soal perasaannya memang belum ada di kamus hidup Septihan, saudaranya yakni Januar pernah berkata seperti itu. Adiknya juga pernah berkata bahwa ia alergi bilang kangen.

Pesan sudah terkirim. Centang satu. Tumben, tapi Septihan tidak ambil pusing. Sudah malam, tentu waktunya gadis itu beristirahat.

Belum sampai Septihan menaruh ponselnya, benda persegi panjang itu berbunyi. Sebuah panggilan masuk, dari Abrita. Gadis yang didekati Aji sedari dulu.

Kak, tadi Aca beneran udah lo anter pulang, kan?

Dahi Septihan mengerut, sedikit penasaran. "Udah."

Lah.

"Lah apa, Ta. Kenapa?" tanyanya bingung.

Ibunya Aca barusan telepon gua, Kak. Nanya, kok Aca belum pulang dan nanyain dia nginep di sini apa enggak.

Tidak ada balasan dari Septihan, dan Abrita juga tidak repot-repot menunggu cowok itu bereaksi.

Duh, Aca ke mana, sih? Di telepon juga gak bisa. Dia ada bilang mau pergi ke mana gitu gak, Kak?

"Gak ada." Septihan yang sepenuhnya sudah bangkit dari kasur meneruskan, "Biasanya Aca ke aman kalau gak di rumah?"

Abrita sempat bergumam sebentar sebelum menjawab, Ehm... mall, tempat les, taman main dekat rumahnya, atau gak ke sekolah, terus Abrita dengan suara yang semakin lirih.

Kak, pikiran gue jelek. Jangan bilang kalau sekarang Aca ada di sekolah.

Suara Abrita terdengar ragu.

Kemudian Abrita menunggu respons dari Septihan, tetapi yang didapati hanya suara barang jatuh dan langkah kaki yang begitu tergesa.

Kak?

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang