19.

121 14 13
                                        

Langkah Abrita tersendat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langkah Abrita tersendat. Hanya sejenak, karena beberapa saat kemudian ia memantapkan hati mengikuti sosok itu. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Abrita memutuskan untuk langkah pelannya menjadi berlari sehingga kini ia dapat mempersempit jarak beberapa meter dari sosok berperawakan nenek tua itu.

Abrita baru menyadari bahwa langkah beraninya itu membawanya ke sebuah gedung yang tak begitu besar jika disandingkan dengan bangunan-bangunan menjulang di sekolah ini. Abrita berada di gedung lama, lebih tepatnya adalah tempat yang pertama kali berdiri di sekolah ini. Hanya kelas sepuluhlah yang menggunakan tempat ini, sehingga tak ayal Abrita tidak terlalu familier lantaran ia adalah murid pindahan kelas sebelas.

Gadis itu yakin tidak banyak yang tersisa manusia yang tersisa di sini atau mungkin hanya tertinggal dirinya saja. Mengingat betapa jarangnya ia bersimpangan dengan siswa-siswi kelas sepuluh di luar gedung. Lagian siapa coba yang mau berlama-lama di sekolah yang merupakan tempat kejadian kematian beruntun?

Senandung lirih dari sosok itu mengembalikan perhatian Abrita yang sempat teralih. Abrita tidak tahu lagu apa yang sedang disenandungkan, hanya sebuah gumaman berulang dan suasana merinding yang dapat ia rasakan saat ini.

Dan sebenarnya, sampai kapan ia harus mengikuti nenek ini?

Seekor kunang-kunang kembali melintas. Datang dari arah belakang dan melewatinya. Abrita mengira hanya seekor itu saja, tapi ternyata ada beberapa ekor lagi mengikuti. Pendar cahaya temaram itu silih berganti melewati dan menuju ke tempat sosok nenek yang tak jauh ada di depannya. Mereka mengitarinya dan terbang beriringan di sekitarnya. Senandung yang dilantunkan seperti memiliki magnet yang menarik mereka mendekat.

Abrita mengerjap, merasa tak yakin dengan apa yang dilihat sekarang. Kenapa hewan-hewan kecil itu bertindak seolah anak kecil yang mengikuti neneknya? Mereka berperilaku terlalu acak dan menuruti sosok itu untuk seukuran hewan yang tidak memiliki pola pikir seperti manusia. Interaksi-interaksi kecil yang tertangkap matanya itu membuat Abrita bingung.

Tidak ingin terlarut dengan pikirannya sendiri, Abrita memutuskan untuk membuka suara. "Kamu siapa? Dan apa tujuanmu mengajakku kemari?"

Tidak ada jawaban. Namun, sosok itu kini menghentikan langkahnya pun gerakan tangannya yang sedari tadi mengelus rambut putih panjangnya. Tangan kanan keriputnya kini terangkat dengan telapak tangan terbuka. Abrita tidak mengerti apa yang coba sosok ini lakukan, tapi ia harus tetap waspada. Kemudian kunang-kunang itu berkumpul di tangan nenek yang terulur itu. Setelah itu, sosok itu meniup kemerlip kecil yang berada di tangannya hingga terbang dan kini menuju Abrita.

Mereka temanmu.

Suara rendah nan tenang khas perempuan di usia tujuh puluhan itu bagaikan sebuah bom yang secara tiba-tiba dilontarkan ke arahnya. Apa maksudnya itu?

"Kunang-kunang itu bukannya alat yang kau gunakan untuk menandai calon korbanmu?" tanya Abrita menelisik. Ia butuh penjelasan, dan jangan harap ia akan terkecoh dengan mudah.

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang