9.0

194 38 7
                                        

Pembelajaran di kelas berlangsung seperti biasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pembelajaran di kelas berlangsung seperti biasa. Dimulai dari membahas singkat materi dari pertemuan sebelumnya lalu disambung dengan materi baru.

Cowok yang berada di bangku belakang akan sibuk bermain sendiri. Sesekali tawa mereka terdengar keras sampai ditegur oleh guru yang kesal pada anak didiknya yang tidak memperhatikan beliau bergelut dengan rumus-rumus di papan tulis lengkap dengan tinta spidol yang kerap kali macet. Dan jangan lupakan tulisan latin beliau yang seperti gambar rumput bergerigi yang dibuat oleh anak umur lima tahun.

Sedang siswi-siswi yang mendominasi bangku depan sibuk mencatat sembari mengeja pelan tulisan guru tersebut. Siswi yang menyerah membaca tulisan ataupun yang berkacamata akan menunggu teman sebangkunya selesai menulis, kemudian menyalinnya.

Benar-benar seperti biasanya. Abrita tidak bohong soal itu.

Begitu juga dengan gadis berpipi tirus yang duduk di sampingnya. Aca memperhatikan dan mencatat seperti biasa. Rambut yang ia gerai terkadang menutupi pupil matanya yang bergerak aktif mengikuti baris kata di papan maupun di buku tulisnya. Karena merasa terganggu, Aca menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Tak bertahan lama karena ketika gadis itu menunduk, maka rambutnya akan kembali merecokinya.

"Kenapa turun mulu, sih? Ganggu aja! Ta, lo punya ikat rambut lebih, nggak? Karet gelang bekas nasgor enggak apa-apa, deh." Aca yang mulai kesal sendiri akhirnya bertanya kepada Abrita.

Abrita tidak memberi reaksi. Gadis itu melamun sembari menatap Aca lekat. Tentu saja perangai anehnya membuat Aca kebingungan.

"Ta?" panggil Aca seraya melambaikan tangan tepat di depan wajah Abrita.

Cara tersebut tidak berhasil. Abrita masih termangu, terjebak dalam dunianya sendiri. Tidak kehabisan akal, Aca beralih mencubit lengan Abrita. Cubitan kecil yang pasti terasa sakit itu berhasil membuat Abrita mengaduh keras sampai beberapa pasang mata menoleh ke bangku mereka berdua.

"Apa sih, Ca? Pakai cubit-cubit segala, sakit tau!"

"Salah sendiri ngelamun. Mikirin apa, sih?"

Abrita mengatupkan bibir. Tidak menjawab pertanyaan Aca. Andai saja diperbolehkan menjawab, ia pasti akan berkata dengan lantang kalau sekarang sedang memikirkan bagaimana caranya menghentikan kematian yang sebentar lagi akan menyambut Aca.

"Harusnya gue kali yang gundah gulana kayak gitu ...."

Alis Abrita bertaut, tidak mengerti arah pembicaraan Aca. "Emang lo kenapa?"

Tiba-tiba sekelebat khawatir menghinggapi pikirannya. Apa jangan-jangan Aca merasa ada yang aneh? Atau ... gadis itu tau kalau waktunya hidup tinggal sedikit?

"Apa? Lo bilang, Ca, pasti gue bantu. Jangan semua dipendam sendiri. Kita teman, lo nggak boleh lupa itu," tutur Abrita dengan kekhawatiran yang kentara.

Aca menelengkan kepala. Gadis itu menatap Abrita aneh. "Oke. Ehm ... sebenarnya bukan masalah besar, sih .... Tapi kalau lo maksa gue cerita, hehe. Soalnya tumben-tumbenan lo mau denger gue berkeluh kesah soal ini," ucap Aca sambil tersenyum riang.

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang