"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sedang apa kalian di ruangan saya?"
Aji berani bertaruh, jantungnya baru saja berhenti berdetak sekian detik saking terkejutnya mendengar suara Pak Aziz yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
"Sekali lagi saya tanya, siapa kalian dan apa yang kalian cari di ruangan saya?!"
Aji dan Abrita ketahuan. Tapi, yang lebih penting untuk diketahui, apa yang dilakukan kepala sekolah di sini malam-malam?
Aji berbalik seraya meraih tangan Abrita. Beruntung lampu tidak dinyalakan sehingga wajah mereka terlindungi walaupun ia sendiri tidak tahu sampai kapan Pak Aziz tidak mengenali Aji.
Hawa menakutkannya begitu terasa, jelas kalau semua akan berakhir tidak baik kalau mereka sampai tertangkap. Tanpa sadar Aji menggenggam erat tangan Abrita. Ketika pria paruh baya itu mendekat, dilemparnya berkas yang ada di meja kaca ke arah beliau. Geraman dan umpatan Pak Aziz menggema di seluruh ruangan, tapi Aji tidak peduli. Ia harus pergi sebelum satpam datang ke sini dan membuat semua semakin runyam.
Tak cuma satu, semua yang di meja dilempar asal oleh Aji dan saat Pak Aziz lengah, Aji menarik tangan Abrita dan menyeret gadis itu untuk berlari kencang menjauh dari sana. "Kita pergi dari sini, Ta!"
Saking paniknya, mereka berdua berlari ke arah berlawanan dari mereka datang. Dan membuat mereka lebih jauh dari gerbang belakang yang sudah susah payah dibuka.
"Gila! Bang Sep otaknya ketinggalan di mana, sih?! Udah disuruh kabarin kalau ada yang mencurigakan malah ngilang!" rutuk Aji setengah berbisik.
Napasnya terengah-engah karena masih belum berhenti berlari dan ajaibnya gerutuan cowok itu tak berhenti meski dalam kondisi seperti itu.
Awas saja. Segala macam umpatan akan dengan senang hati ia haturkan kepada abangnya tersayang.
Pulang nanti PS lo gue re-start biar mampus!
___
Sementara itu, di sisi lain di mana orang yang tak henti-hentinya diumpati Aji berada ....
Septihan tidak berbohong, cowok bertopi Nike itu memang menunggu Aji dan Abrita di tempat yang telah mereka sepakati. Semua berjalan sesuai rencana, aman. Sampai ia mendengar suara orang menangis, tidak keras tapi ia telinganya menangkap jelas suara itu karena sunyinya suasana di sekitar.
Ia menyalakan senter kecil yang dibawa. Menyorot ke segala arah tapi tidak menemukan apa pun. Tidak ada yang mencurigakan. Septihan mencoba berjalan, sedikit menyusuri sekitar tanpa meninggalkan tempatnya berjaga.
Akan tetapi, sepertinya ia harus menyampingkan sesi jaganya kala melihat ruang TU terbuka. Alis Septihan menukik tajam melihat hal itu. Aneh. Dan tentunya mustahil. Tidak pernah sekali pun ruang kelas SMANSA dibiarkan terbuka setelah jam enam petang apalagi ruangan penting seperti ruang tata usaha ini?