7.0

206 38 11
                                        

"Bang Sep utang penjelasan ke gue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bang Sep utang penjelasan ke gue. Tahu dari kapan? Kok bisa? Siapa yang ngasih tahu?"

Septihan yang baru saja memarkiran motor ternyata sudah ditunggu. Aji yang bersandar pada kusen pintu seraya melipat tanganlah yang baru saja melayangkan pertanyaan itu.

"Abang pulang," ucap Septihan sambil menepuk singkat bahu Aji lalu berjalan melewati sang adik. Ia mengabaikan pertanyaan pun pelototan Aji.

Aji mendengus kesal. Septihan benar-benar ingin menguji kesabarannya yang setipis tisu. Dengan posisi masih bersidekap, matanya menatap nyalang pada sang kakak yang melenggang ke dapur dengan wajah tak berdosa. Mencium tangan ibunda yang sedang memasak sambil tersenyum manis. Mereka berdua terlibat dalam percakapan kecil seputar kegiatan sekolah Septihan hari ini.

Aji tidak mungkin ikut nimbrung dan tiba-tiba mencecar Septihan dengan pertanyaan yang kalau dilihat dari sisi orang awam, membuat kewarasan Aji akan dipertanyakan. Bisa-bisa spatula yang sedang dipegang sang ibunda melayang tepat mengenainya seraya berkata, Daripada gangguin abangmu yang baru pulang dengan pertanyaan aneh, mending Adek belajar. Jangan kira Ibunda nggak tahu nilai ujian Adek yang sengaja diumpetin di bawah kasur. Sana masuk kamar!

Cowo itu menggeleng cepat. Jangan pernah menjadikan bunuh diri sebagai opsi. "Gue yang lebih kayak anak pungut nih, kalau bikin gara-gara sama Bang Sep yang jelas anak kesayangan tepat di depan Ibun, ya ... auto ilang nama gue dari KK."

"Awas aja lo, Bang! Nanti gue menyusup ke kamar terlarang lo," lirih Aji yang dibarengi dengan senyum licik, "dan ke mana aja, mau lo itu lagi ke kamar mandi pun gue kintilin!"

Namun, rencana hanyalah sebuah rencana. Belum sempat terealisasi, Septihan lebih dulu mencuri langkah. Abangnya itu terang-terangan menghindarinya. Tepat saat keluar dari dapur, Septihan langsung berlari kencang menaiki tangga. Aji terkesiap. Buru-buru ia ikut berlari untuk mengejar Septihan sambil berteriak memerintah Septihan untuk berhenti.

Sayangnya Aji terlambat. Pintu yang penuh dengan stiker Avanged Sevenfold itu lebih dulu tertutup, hampir di waktu yang sama dengan dirinya yang berdiri di depannya. Sekarang, pintu kamar yang biasa terbuka bagi siapa pun—kecuali untuk Januar karena sering merusak barang—terkunci rapat.

"Bang, bukain! Kita harus ngelanjutin omongan kita tadi!" Gedoran ataupun teriakan Aji tidak digubris.

Cowok yang sekarang memakai sandal refleksi plastik milik sang ibunda itu merogoh saku, mengambil HP bermaksud untuk menelepon Septihan. "Sial! Telepon gue juga nggak diangkat. Babi lo, Bang!"

Karena kehilangan kesempatan, Aji hanya bisa mengusak rambutnya kesal. Ternyata tak cuma dirinya yang keras kepala di keluarga ini, Septihan juga! Gen Pambudi bersaudara memang tidak bisa bohong.

Kepala Aji terus memutar pertanyaan yang sama, setelah mendapati abangnya yang mengelak untuk memberi tanggapan. Tinggal dijawab apa susahnya, sih?

Apa yang sebenarnya sedang Septihan sembunyikan?

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang