"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka sedang menepikan mobil di pinggir jalan, Januar dan Aji baru kembali dari minimarket membawa kantong plastik berisi minuman. Januar sepertinya sedang membagi-bagikan minuman itu dan menitipkan milik Aca kepada yang lainnya.
Aca ingin membuka mata, tapi terlalu berat untuk melakukannya. Setengah sadar, Aca sebenarnya mendengar percakapan yang tidak melibatkan orangnya tapi terus menyebut namanya itu. Tunggu, sekarang ia berada di dekapan siapa?
"Gue ngeliat sendiri setannya duduk di kursi belakang! Gue dan Aca kekunci di dalam dan di depan kita juga, samping gue juga ada. Sial masih kebayang muka rusaknya!" ucap Januar seraya bergidik ngeri, "kita tadi juga sempet dicekik walau cuma sebentar."
"Kalian ada yang luka?" Itu suara Abrita. Gadis itu khawatir.
"Gue sih enggak ada, coba cek Aca."
Aca merasakan orang yang mendekapnya tadi kini menyibak rambutnya untuk melihat keadaan lehernya.
"Enggak ada."
Suaranya Septihan terdengar begitu dekat. Dan kenapa pula Septihan yang menyahut pertanyaan Januar soal keadaannya?
Jangan-jangan ... orang yang memeluk sedari tadi adalah Septihan?
Buru-buru Aca terbangun. Lemah letih lesu yang ia rasakan tadi lenyap seketika. Dan benar saja. Matanya bersirobok dengan Septihan, spontan Aca mengalihkan pandangannya. Menjauhkan tubuhnya dari pemilik dada bidang yang memeluknya cukup lama.
"Aca udah bangun!" seru Aji.
"Minum dulu." Septihan menyodorkan air mineral yang telah dibuka dan Aca menerimanya ragu-ragu.
Aca berdeham sebelum berujar, "Makasih, Kak."
Septihan tidak membalas, tapi tangannya sibuk membenahi rambut Aca yang berantakan.
Demi kunti yang nyekik gue tadi! Lo bisa diem, nggak?! Jantung gue belum siap! Astaga, balik dari sini gue lamar juga lo, Sep! Tentu Aca sekadar bergumam karena sekarang tubuhnya mematung, terhipnotis oleh kelakuan manis Septihan.
"Tadi berhasil masuk ruang kepsek?" tanya Aca mengalihkan perhatian.
"50-50. Dibilang berhasil masuk iya tapi di sana kita hampir ketahuan Pak Kepsek. Beliau random banget anjir! Ngapain malem-malem masih di sekolah?" Aji menggeleng heran. Padahal dia juga melakukan hal sama, ke sekolah malam-malam.
"Tapi tenang!" Aji berseru riang seraya mengepalkan tangan. Semangatnya tetap tumpah ruah meski telah melakukan hal yang melelahkan. "Gue dapet clue yang bener-bener berguna."
Pernyataan itu menarik atensi semua pasang mata, kecuali Abrita. "Gue rasa Pak Kepsek ada hubungannya sama kunti itu. Kenapa bisa berpendapat demikian? Karena gue dan Abrita ngeliat sendiri isi lemarinya dan udah dipastiin sama Abrita kalau itu memang sisir antik yang dulu bikin gue ketempelan kunti. Dan ada kekuatan magisnya!"