"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah bernuansa klasik eropa dengan dominasi warna putih terlihat sederhana dan kokoh berdiri. Meski diapit jejeran rumah bergaya kekinian, tapi rumah ini seolah tidak kehilangan wibawanya sebagai rumah "tua". Warnanya yang serba putih tampak bersinar di bawah cahaya matahari, berbeda jika disandingkan dengan barisan rumah yang mengapitnya, rumah lain lebih dominan dengan warna hitam dan cokelat tua.
Dapat dibayangkan ketika langit gelap menyelimuti pun hunian serba putih ini tidak akan kehilangan sinarnya. Pendaran cahaya dari lampu taman akan menjadikannya tampak lebih megah, layaknya tokoh utama dalam sebuah film yang sedang mendapatkan momennya.
Itulah pendapat Septihan tentang rumah ini.
Ia kemudian melangkah mendekat. Karena pagar pendek sebatas dada terbuka rumah terbuka, seolah memang mempersilakan siapa pun untuk bertamu, Septihan mengurungkan niatnya membunyikan bel dan langsung memasuki pekarangan serba hijau rumah itu.
Septihan meneguk ludah, otaknya kembali memutar perkataan Aji.
Wih, ini rumah Aca kayak rumah orang borjuis dari lahir. Gue ramal bapaknya pasti TNI berpangkat tinggi, punya kumis tebel—oh, terus mukanya galak banget! Hayoloh ... Bang Sep, Aca udah dibuat nangis berapa kali, tuh? Coba prepare mental dulu sebelum masuk, siapa tahu nanti dihukum push-up seratus kali sama camer.
Mengingat nada bicara adiknya membuat Septihan kesal sendiri, lantaran saat itu Aji tampak sangat antusias. Seolah sedang menantikan kakaknya berada di posisi yang tidak menguntungkan lengkap dengan nyali yang menciut.
Tidak ingin terhipnotis gurauan iseng Aji, Septihan mengembuskan napas seraya menyugesti diri untuk tetap tenang dan tetap menjadi Septihan seperti biasa. Sebab ucapan Aji belum tentu benar.
Septihan menggulung lengan jaket denimnya sampai siku, lalu mengetuk pintu tiga kali. Ketukan itu berulang lantaran si pemilik rumah belum menyahut. Saat ia berniat mengetuk lagi, kenop pintu berputar dan pintu terbuka pelan.
Ia berjengit, refleks mundur selangkah kala melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Cari siapa?"
Separuh perkataan Aji terbukti kebenarannya. Pria paruh baya yang kini berdiri di depan Septihan punya kumis tebal serta guratan halus di dahi, membuat Septihan secara tidak sadar meyakini bahwa ayah Aca adalah sosok yang tegas.
"Sore, Om. Saya temannya Aca. Aca-nya ada?" balas Septihan dengan senyum sopan.
"Ya, kamu perkenalan dulu, lah. Namanya siapa, temen les atau temen apa, kok langsung aja nyari anak saya. Papahnya Aca di depanmu ini cuma pajangan gitu? Dan buat apa kamu cari anak saya?"
Mampus ... first impression gue jelek ini pasti, gerutu Septihan dalam hati. Menyesali langkahnya yang terburu-buru lantaran diselimuti rasa gugup.
Septihan tersenyum tipis, ia menutupi tangannya yang berkeringat dengan menyembunyikannya di balik badannya. "Maaf, Om, karena saya kurang sopan dengan tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Septihan kakak kelasnya Aca, saya ke sini mau ...."