"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Septihan tahu sedari tadi gadis yang diboncengnya tiada henti mencuri lirik dari spion. Hanya berselang beberapa detik, Aca akan meneliti wajahnya kemudian mukanya memerah tanpa sebab yang jelas.
"Langsung pulang?"
Pertanyaan Septihan yang terlalu tiba-tiba membuat Aca mengerjapkan mata, terkejut lamunannya diganggu tapi ia lekas merespons dengan anggukan walau Septihan tidak melihatnya.
"Iya ...." Sebenarnya Aca ingin menjawab sebaliknya, tapi ia merasa bukan waktunya untuk mengelilingi kota dengan perasaan berbunga-bunga. Ada yang harus ia katakan kepada Septihan. Hari ini.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Aca. Rumah serba putih itu sudah terlihat dan ketika sampai tepat di depan rumahnya Aca turun dan basa-basi menawari Septihan untuk mampir yang dibalas dengan penolakan sopan oleh kakak kelasnya itu, kapan-kapan saja katanya.
"Kak ...," kalimat Aca menggantung, ia merasa ragu untuk meneruskan, "ada sesuatu yang mau Aca omongin."
"Apa?" balas Septihan seraya menerima uluran helm bogo cokelat milik Aji yang ia pinjam tadi.
Aca menggigit bibirnya, dalam hati merutuk kenapa sulit sekali bicara di situasi seperti ini. Padahal tadi ia menangis puas dipelukan Abrita membahas hal yang sama. Kenapa membicarakan hal ini dengan Septihan terasa berat? Ada rasa sesal yang mungkin ia tanggung nanti.
Astaga, ini karena ia tidak mau kehilangan Septihan.
"Aca mau ngucapin makasih atas bantuan kakak dan teman-teman lainnya. Jujur, kalau tanpa kalian Aca nggak tahu harus ngapain, waktu ngeliat hantu itu pertama kali di dekat sumur dan nggak mau masuk sekolah setelahnya ... kayaknya sampai sekarang Aca bakal tetep milih opsi untuk absen sekolah karena Aca terlalu takut."
Aca mengembuskan napas, merilekskan tubuhnya yang kaku.
"Tapi sekarang enggak, Aca udah berani. Aca santai aja nanggepin semua yang terjadi, Aca sudah mulai menerima," ucapnya mengisyaratkan kalau mati esok pun ia tidak apa-apa jika memang itu takdirnya.
Sayangnya itu semua bohong dan hanya orang bodoh yang tidak tahu Aca enggan berkata jujur.
Aca tersenyum getir. "Jadi udah aja ya, Kak? Kak Sep dan lainnya sekarang bebas, nggak perlu lagi nolongin Aca. Selepas ini, Aca mohon Kakak hidup bahagia dan lebih sering tersenyum. Jangan judes-judes nanti nggak ada yang mau, lho ...."
"Maksud lo apa, Ca?" Rahang Septihan mengeras, ia menatap lekat mata Aca yang berkaca-kaca.
"Please, kabulin permintaan gue yang ini, Kak. Jangan bantuin Aca lagi, Aca nggak mau," pinta gadis itu dengan nada memohon. Ia tidak mau merepotkan mereka lebih dari ini.
"Nggak." Septihan menolak tegas.
"Tapi Kakak dan yang lainnya bakal kesulitan! Lawannya bukan orang biasa, kita bisa apa? Kepsek bukan musuh yang mudah dihadapi apalagi hantu sialan itu. Biarin gue nerima kalau nyawa gue tinggal sedikit lagi."