"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kunti itu di sini?" Aji bertanya dengan ragu. Matanya mengikuti arah telunjuk Abrita, tapi ia tidak bisa melihat apa pun.
"Minggir semua!"
Siswa-siswi yang sebelumnya berkerumun terpencar. Mereka tergesa-tergesa membubarkan diri setelah mendengar teriakan menggelegar dari arah belakang. "Semua kembali ke kelas masing-masing!"
Aji menoleh ke asal suara, ternyata itu Pak Cipto. Satpam SMANSA yang paling ditakuti dan hanya keluar saat ada hal penting. "Ta, kita harus pergi sebelum Pak Cipto ke sini! Asli beliau ini kalau jewer telinga nggak nanggung-nanggung!" desak Aji.
Aji pernah sekali dijewer Pak Cipto. Mengingat hal itu saja ia sudah merasa sakit pada telinganya. Apalagi kalau sampai terjadi lagi. Aji bergidik. Telinga orang ganteng harus diselamatkan! Tidak menyerah, Aji terus mengajak Abrita pergi. Bahkan ia sudah menarik tangan Abrita, tetapi gadis itu masih bergeming. Aji tentu terheran-heran. Sekarang apa lagi? Pertanyaannya di awal tadi tidak digubris dan sekarang gadis itu juga terdiam.
"Heh! Lo kalau budeg tahu tempat, dong! Mau cosplay Haji Bolot lo? Ayolah, Ta, kooperatif. Apa jangan-jangan lo sengaja, ya? Ngidam pengen dijewer Pak Cipto lo?" Aji membelalakkan mata tidak percaya. Di saat telinganya terancam, gadis ini ... ck! Pantas saja gadis ini diam sedari tadi.
Abrita melepas paksa cekalan tangan Aji, lalu tanpa menggubris keadaan yang ricuh, gadis itu berlari ke sudut gedung, ke tempat di mana sosok itu berada. Teriakan Aji yang menyuruhnya agar tidak pergi sendiri ia abaikan. Abrita sudah menunggu momen ini. Saat sosok itu mau menampakkan batang hidungnya adalah hal yang ia nanti-nanti.
Berbagai adegan menangkap sosok itu telah ia reka sejak lama. Jadi, saat kesempatan itu datang, tidak akan Abrita lepaskan. Tangan mungilnya akan menjambak rambut kusut itu sampai sosok tersebut tidak berani lagi mencari gara-gara. Dan tidak lupa, ia akan menarik paku berkarat yang menancap di kepala kuntilanak itu sampai terlepas. Membayangkan hal tersebut membuat semangat Abrita meningkat, ia mempercepat lajunya agar bisa segera merealisasikan itu.
Namun, saat jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, telinga Abrita tiba-tiba berdenging hebat. Gadis itu spontan menutup telinga rapat-rapat. Kepalanya sangat pusing sampai-sampai ia memejamkan mata. Rasanya, Abrita baru saja mendengar radio rusak diputar kencang tepat di sampingnya. Abrita tidak dapat melangkah lagi, dengingan itu terdengar keras dan semakin keras sampai Abrita rasa gendang telinganya hampir pecah.
Lalu, kebisingan itu tiba-tiba berhenti. Abrita melepas tangan yang menutup telinganya sambil menatap bingung sekitar. Jika tadi terlalu bising, sekarang Abrita tidak bisa mendengar apa-apa. Bahkan suara kaki yang bergesekan dengan pasir pun ia tidak mendengarnya. Seolah-olah semua suara di bumi ini lenyap seketika. Diserap oleh sesuatu yang Abrita sendiri tidak tahu.
"Barusan itu apa?" tanyanya kepada diri sendiri. Abrita berusaha tenang, ia menetralkan napasnya yang masih memburu.
Belum menemukan penyebab suara itu muncul, mata Abrita membelalak ketika sosok yang ada di depannya menghilang. Sial! Abrita kecolongan. Kalau saja perhatiannya tidak teralihkan.