"Siapa yang akan mati kali ini?"
SMANSA, sekolah ternama di kota ini telah membuat heboh Indonesia dengan berita kematian murid-muridnya. Kasus bunuh diri yang belum diketahui aparat penyebab utamanya terus terjadi dan menghiasi seluruh laman pember...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Capek!" keluh Aca sembari mengelap peluh yang menetes.
"Kabur aja gimana?"
Sontak Aca terperanjat mendengar pertanyaan itu. Ia menoleh dan mendapati orang yang paling tak disangka-sangka akan ditemuinya pagi ini berdiri dan hormat di depan tiang bendera sepertinya.
"Kak Septihan? Ini bener Kak Septihan?" tanyanya masih tidak menyangka salah satu siswa teladan yang sering maju dipanggil ke depan saat upacara untuk menerima hadiah akan telat juga.
Dehaman singkat Septihan membuat Aca akhirnya yakin kalau cowok yang berdiri dan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya itu bukan hanya halusinasi. Ya, kalau dipikir-pikir sepanas apa pagi ini sampai membuatnya berhalusinasi? Lapangan SMANSA tidak akan membuatnya mengalami fatamorgana. Kesadaran Aca kembali.
"Wah, modelan kayak kakak bisa telat juga ya, mana ngajak kabur lagi. Tapi maaf, Aca gamau. Nanti kalau ketangkep pasti yang kena cuma Aca. Secara murid tak kasatmata kek gini pasti yang dituduh ngehasut murid berprestasi nakal." Aca menggeleng pelan menunjukkan tanda penolakan.
"Ya udah, gue pergi sendiri."
Eh. Mata Aca membeliak melihat Septihan dengan santai melenggang pergi.
"Wow, jalan aja ganteng," gumam Aca seraya menatap Septihan sampai batang hidung cowok berbahu lebar itu tak tampak.
Aca salah fokus.
***
Ganteng banget!
Kenapa dia nunggu di depan kamar mandi cewek, ya?
Ah, gatau deh. Kapan lagi kita bisa liat Kak Septihan muncul di kelas sebelas kalau gak sekarang?
Percakapan yang diakhiri dengan jawaban setuju antara para gadis di kamar mandi itu membuat Aca mengernyit. Hah? Kak Septihan yang tadi dijemur bersamanya?
Aca mengira kalau Septihan yang ada di kepalanya dan yang dimaksud mereka berbeda–Aca tidak kenal, makanya tidak berani bertanya. Mengabaikan hal itu, selepas cuci tangan ia segera keluar dan terkejut melihat Septihan berdiri tidak jauh dari pintu itu dengan tubuh membelakangi.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Aca sedikit ragu.
Septihan berbalik. Tangan yang semula bersidekap kini dimasukkan ke dalam saku. "Lo udah makan?"
Dan tiga kata dari mulut Septihan berhasil mengkuadratkan keherenan Aca.
**
"Ngaku. Kakak abis bikin salah apa sama Aca?"
Mereka berdua sedang berada di kantin dan sama-sama memesan semangkuk mi ayam.
"Gak ada." jawab Septihan tanpa menaruh minat sedangkan Aca kini menatap Septihan menyelisik, mencoba menilai cowok yang duduk di depannya ini berbohong atau tidak.