13.

180 31 3
                                        

"Yang gue lihat di gudang tadi lo, Ta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Yang gue lihat di gudang tadi lo, Ta. Asli!" jelas Aca menggebu-gebu.

"Lo masih mending. Yang gue lihat udah bukan wujud manusia lagi tapi kunti! Mukanya nyeremin banget. Sial! Apes banget!" Januar mengadu nasib.

"Ya itu salah sendiri, tahu kalau temennya lagi terancam malah buka sesi jumpa fans. Makan tuh kunti, makan!" cecar Aca.

Mereka berdua bersitegang. Terlihat sekali kalau Aca sedang menahan diri untuk tidak menjambak jambul Januar, begitu pun sebaliknnya. Yang satu kesal lantaran ditinggal, satunya lagi merasa kesal terus disalahkan padahal sudah meminta maaf tadi.

Abrita tentu tidak ingin ada pertandingan gulat di UKS yang kecil ini. Dia tidak siap melihat adegan temannya terpelanting dan menabrak alat-alat medis yang harganya tidak bisa dibilang murah. Oh, tidak! Ia harus menghentikan itu.

Untung saja ada Aji yang baru kembali dari kantin sembari membawa nampan berisi dua mangkok bergambar ayam. "Baksonya-baksonya! Mari-mari!" ucapnya dengan senyum lebar.

Ketidakpekaannya membawa berkah. Berkat Aji suasana tidak tegang lagi. Tapi yang menjadi pertanyaan, apa boleh membawa bakso kemari?

"Ini spesial buat kalian berdua yang habis ketemu idola SMANSA. Wih, Bang Janu akhirnya tahu juga, ya. Gimana? Cantik sangat bukan? Kan kan kan?" tanyanya dengan  menirukan nada Ipin di akhir. Puas sekali Aji melihat abangnya menderita.

Januar menerima uluran mangkok itu sedikit kasar, ia masih kesal. Sedang Aca yang ditawari menolak, katanya buat Aji saja. Dengan senang hati Aji menerima usul tersebut tanpa perlu berpura-pura tidak enak hati.

"Ngewakilin Januar yang nggak becus jaga lo, gue minta maaf, Ca. Gue pastiin kejadian kayak gini nggak bakal terulang lagi." Septihan yang daritadi hanya menjadi pendengar akhirnya berbicara.

"Iya, Kak. Enggak apa-apa."

Aca sedikit tersipu, di pikirannya Septihan baru saja bersikap posesif kepadanya dengan tidak membiarkan sesuatu terjadi kepadanya. Kalau Abrita mendengar isi kepalanya sekarang, gadis itu pasti akan mengatakan "Aca gendeng" dengan lantang.

"Terus hasil dari kalian yang pergi ke rumah Pak Satpam dapet apa?" lanjutnya.

Aji menuangkan dua sendok sambal ke mangkok baksonya, kecap sedikit dan saus yang lumayan banyak.

Septihan menggeleng. 

"Pak Satpam cuma tahu perkara Kuncoro, hantu anak kecil yang sering buat Aji celaka dulu. Tapi soal ini beliau nggak tahu apa-apa. Yang ada si bapak malah tanya-tanya kita mau ngapain dengan cari informasi itu. Jadi kita buru-buru pulang, biar nggak dikorek lebih dalam," sahut Abrita mengambil alih.

"Akhirnya tetap kita cuma kita yang bisa nyelesain ini?" Januar lemas membayangkan harus bertemu sosok itu lagi.

"Nggak ada pilihan lain. Plus kita juga harus bergerak cepat, waktu kita nggak banyak," timpal Septihan.

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang