11.

207 35 6
                                        


"Ehem

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ehem." Dehaman singkat yang keluar dari mulut Septihan memecah keheningan yang bertahan cukup lama di ruang tamu pemilik rumah.

Akan tetapi, hanya berlangsung sebentar. Selang beberapa detik keadaan sudah hening kembali. Sepertinya ia akan berakhir tertidur di sini kalau kesunyian ini bertahan lima belas menit lagi.

Oh, iya. Septihan harus berterima kasih sekali lagi nanti kepada Aca karena telah meminjamkan baju ayahnya. Gadis itu masih baik kepadanya meski ia telah bersikap kurang sopan selama ini bahkan telah sampai pada titik menyakiti hatinya.

Melihat dari baju yang dipinjamkan adalah kaos dengan logo perkumpulan sepeda, Septihan yakin Ayah Aca adalah ayah yang gemar menghabiskan Minggu paginya menggoes keliling kota. Baiklah, demi memikat hati beliau, ia akan menawarkan diri untuk ikut bersepeda. Menarik perhatian ayahnya dulu juga bukan hal yang buruk, pikir Septihan setelah melihat Aca yang masih sulit diraih. 

Tapi yang terpenting sekarang adalah Aca mendengar semua yang harus ia tahu.

Rambut lepek Septihan sudah setengah kering, tapi cowok itu masih bingung bagaimana caranya ia harus membuka percakapan. Terlebih, setelah pengakuan bak dilan yang dilakukannya meninggalkan efek samping yang berkelanjutan. Septihan malu berat. Dia baru saja menciptakan adegan cheesy yang lebih cocok disandingkan dengan dua saudaranya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur, Septihan tidak bisa berbuat apa-apa. Semua demi Aca dan misi yang diamanatkan kepadanya.

Menarik napas panjang, Septihan sudah siap untuk menjelaskan.

"Ada yang ingin lo tanyain nggak, Ca?" lontarnya ngawur karena terlalu gugup. Terbiasa bersikap dingin ke semua orang membuatnya lupa kalau sekarang posisinya sekarang adalah pemohon.

Aca mendongak, membalas tatapan Septihan. "Banyak. Tapi bukannya lo yang harus jelasin, Kak? Kenapa harus nunggu gue tanya?"

Bodoh lo, Sep! Septihan mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

"Sori, gue nggak peka."

"Dari dulu kali," sambar Aca pelan yang lebih terdengar seperti sebuah gumaman, tapi karena di sini hanya ada mereka berdua, Septihan dapat menangkap dengan jelas kalimat itu.

"Apa yang gue bilang tadi bener ...."

Aca menyela, "Yang mana? Banyak. Yang kakak teriak–"

"Gue nggak mau lo terluka karena gue," potong Septihan.

Bibir Aca terkatup. Gadis yang sebelumnya menampilkan raut marah terdiam seketika.

"Masih inget sama apa yang gue omongin di lorong sekolah? Waktu kita bawa buku paket kelas lo." Septihan kembali mengingat Aca yang menatapnya putus asa, meminta penjelasan kenapa ia tidak dapat menerima gadis itu berada di sekitarnya. "Lo harus percaya gue, Ca, kalau lo bisa cepat mati berada di dekat gue."

Chasing Fireflies | NCT Horror StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang