Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini Rain tidak pulang bersama Raja dikarenakan pemuda berbadan besar itu memiliki kesibukan dengan bandnya. Mengingat waktu kurang dari sebulan mendekati festival, Raja dan teman-teman sibuk latihan untuk penampilan mereka di festival nanti.
Maka dari itu hari ini dede kita ini pulang bersama Haikal yang memang tidak mengikuti kegiatan atau ekstrakulikuler apapun. Pemuda berkulit tan itu memang memilih mengikuti olimpiade-olimpiade untuk menunjang perkuliahan nanti dibandingkan mengikuti ekstrakurikuler yang dilakukan secara rutin.
Haikal memilih lelah otak dibanding lelah fisik kawan-kawan.
Dan sebuah keberuntungan bagi Haikal bisa pulang bersama Rain. Dia ingin sekali bersujud dan mencium Raja karena memilihnya untuk mengantar Rain pulang. Aduh dia harus membawa si manis ke mana dulu ya? Jajan atau jalan-jalan dulu ya?
Hehehe untuk apa cepat pulang. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan baik-baik. Kapan lagi coba memonopoli dede?
Sekarang Haikal sedang duduk tampan di atas motor besar berwarna merah kebanggaannya. Sebuah kunci motor diputar-putar iseng di jari telunjuknya. Siulan-siulan kecil terdengar, sesekali dia menggoda siswi-siswi yang melenggang di depannya.
Dasar lelaki ( ͡°ᴥ ͡° ʋ)
"IKAL!" pekik Rain dari lantai dua yang terlihat dari parkiran tempat Haikal menunggu. Si manis melambaikan tangannya semangat yang tertutup hoodie hitam yang diyakini Haikal pasti milik Raja. Tudung hoodie kebesaran itu berhasil menutupi kepala Rain sebatas hidung.
Haikal terkekeh gemas dan membalas lambaian Rain. "SINI TURUN! KITA PULANGNYA BARENG" teriak Haikal dibalas dua jempol oleh Rain.
Senyumannya tak luntur sebelum melihat perempuan yang tidak disukainya menempel pada Jovan. Gadis itu terus membuntuti dan mengajak sahabatnya berbicara, namun tak direspon.
Alisnya menukik, bibirnya berdecih pelan. Dia memilih mendekati Jovan yang sudah terlihat risih dengan Sania yang mulai menarik lengan kokoh pria itu dengan kasar.
"Kak Jovan dengerin Sania ga sih?" kesal gadis bernama Sania itu. Tangannya menarik kasar lengan Jovan membuat pemuda sipit itu hampir jatuh.
Urat-urat muncul samar di pelipis Jovan pertanda betapa kesalnya dia dengan Sania. Dari pagi hingga menjelang siang gadis itu terus mengganggu dan menggodanya. Dia tidak mengerti mengapa sasaran pria yang disukai oleh Sania adalah dirinya.
Anak ini benar-benar merepotkan dan menyebalkan. Jovan bisa saja menjambak atau menyentak Sania, namun memikirkan dia itu seorang gadis tak tega juga Jovan berbuat demikian.
Tanpa diduga Haikal menarik kasar lengan Sania membuat siswi berpipi cacat itu mundur beberapa langkah disertai ringisan kecil. Bagi Haikal tenaganya tidak ada apa-apanya, berbeda dengan apa yang dirasakan Sania.
Lengannya menjadi merah hanya dalam sekali tarikan.
"Mending lu balik deh. Nih cewek biar gue atur" Jovan mengerjapkan matanya sebelum berlari kencang mengabaikan teriakan melengking Sania di belakangnya.
Kaki terbalut sepatu hitam mengkilat itu terhentak kencang menandakan betapa kesalnya siswi itu atas sikap Haikal.
"Kak Haikal apaan sih? Aku kan lagi ngobrol sama Kak Jovan, kenapa diganggu?"
"Ngobrol pala lu kopong. Dicuekin dari tadi dari mana ngobrolnya, bego. Lagian lo bisa ga sih sehari aja ga usah ganggu, Jovan? Jadi cewek jual mahal dikit anjir. Ini enggak, tiap hari dilendoti. Najis"
"Suka-suka gue dong. Urusan lo itu apa? Gue ada ganggu lu ga? Engga kan, jadi urus urusan lo sendiri. Kak Jovan aja ga ada bilang risih tuh, sok tau"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain
Fiksi Penggemar[NORENMINHYUCK] [ON GOING] Like rainbow after rain. Happiness will come after sorrow #1 out of gay stories #1 out of norenminhyuck stories #2 out of renjun stories #3 out of fluffy stories #5 out of norenmin stories #5 out of markren stories #6...
