Suara ringisan kesakitan kembali terdengar. Di dalam toilet yang sepi ini hanya ada dua anak Adam yang sedang duduk di ujung dengan yang lebih kecil terus meringis kala obat merah menyentuh luka kecil di telapak tangannya.
Gilang terus meniup pelan tangan Rain agar merasa lebih baik. "Udah Ayin istirahat aja. Tangan Ayin udah banyak lecet karena kebanyakan nyuci" ucapnya sembari meletakkan obat merah ke saku celananya.
Ceritanya sehabis mereka mencuci tumpukan peralatan makan kotor, Rain mengeluh rasa perih dan gatal di telapak tangannya dan benar saja sudah banyak luka lecet di sana serta di sela-sela jarinya.
Tangan si kecil terlihat sedikit mengkhawatirkan mengingat ruam merah disertai luka lecet begitu banyak di sana. Agaknya Rain tidak terbiasa mencuci sebanyak ini makanya tangannya terkena iritasi ringan.
"Tapi nanti Siria marah sama Ayin"
"Kalau dia marah entar Gilang marahin balik. Ayin nurut aja, jangan nakal oke?" bibir tipis itu maju sesenti mendengar perintah mutlak teman sekelasnya.
Tak lama tiga orang lainnya menyusul ke toilet— niatnya ingin mengambil kembali peralatan makan eh malah mereka menemukan Rain jongkok di ujung toilet bak anak hilang disusul Gilang yang mulai mendorong sebaskom peralatan makan.
"Loh, kok kalian berdua doang? Perasaan urusan cuci piring gantian deh. Ini gue sama anak lain baru aja mau bantuin nyuci" ucap seorang siswi, panggil saja Riana dengan raut wajah bingungnya.
Gilang mengoper baskom tadi pada Aldo yang berdiri di belakang Riana, "Tanyain noh sama si paling ketua. Jancok dia nyuruh Rain sendirian yang nyuci"
"Anjir dia bilang ke kami kalau Rain pergi entah ke mana" ucap Fitri kikuk. Gilang hanya menatap ketiga temannya datar. "Lo bilangin sama ketua lo untuk enggak egois dan seenaknya. Anak orang jadi kesakitan anjir disuruh berapa jam nyuci. Goblok banget tuh orang" maki Gilang.
Pemuda itu tampaknya sudah jengah dengan kelakuan Siria yang seenak jidatnya menyuruh anak-anak lain mengikuti perintahnya sedangkan gadis itu sendiri hanya berdiri dan memerintah tanpa melakukan apapun.
Itu juga alasan Gilang lari ke toilet— untuk menghindari perintah Siria. Jika saja bukan perempuan sudah habis Siria di tangannya.
Riana berjalan mendekati Rain yang hanya menatap merek dengan tatapan polos. Sepertinya si mungil ini kebingungan dengan pembahasan empat kawannya di depan pintu toilet makanya anak itu memilih diam sembari memainkan plester di tangannya.
"Boleh lihat tangan kamu?" Rain mengacungkan kedua tangannya tanpa beban. Riana yang melihat lecet di mana-mana pun ikut meringis— dalam hati bertanya berapa lama kedua tangan itu terkena sabun dan air?
"Bawa ke depan deh. Tadi gue lihat Bang Raja sama Bang Haikal ada di stand kita. Kayanya nyari Rain" ucap Fitri takut-takut. Pasalnya dia tidak bisa membayangkan nasib Siria ke depannya setelah Raja tau apa yang diperbuat gadis bergingsul itu pada adiknya.
Terlebih Raja tidak pandang bulu terhadap lawannya. Mau perempuan atau laki-laki akan dihantam oleh Raja sshhh.
"Ayin nda apa-apa kok. Tangannya udah nda sakit lagi, kan udah diobati sama Gilang hehe" ucap Rain menenangkan teman-temannya yang tampak khawatir akan kondisinya. Sebenarnya Rain merasa terharu juga melihat ada orang yang lain yang merasakan simpati jika dirinya sedang terluka.
Rain bisa melihat tatapan tulus mereka padanya dan itu membuatnya bahagia. Setidaknya di masa menengah atas ini dia di kelilingi orang-orang baik.
Fitri mencubit pipi tembam itu gemas, "Lain kali kalau Siria nyuruh lo ini itu tolak aja. Jangan mau dibabuin ama dia" Rain mengerjap pelan kemudian mengangguk sebagai jawaban. Sudah ada tiga orang yang menegurnya mengenai sikap Siria padanya berarti gadis itu tidak sebaik yang dia kira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain
Fiksi Penggemar[NORENMINHYUCK] [ON GOING] Like rainbow after rain. Happiness will come after sorrow #1 out of gay stories #1 out of norenminhyuck stories #2 out of renjun stories #3 out of fluffy stories #5 out of norenmin stories #5 out of markren stories #6...
