Kehidupan

6.2K 715 35
                                        

☁️ : Full of naration. Bagian ini menceritakan kondisi Rain di masa lalu. Jadi tidak ada percakapan di bagian ini.

🌧️🌧️🌧️

Rain

🌧️🌧️🌧️

Rain Nathanael Darian adalah malaikat kecil yang dititipkan Tuhan di keluarga Darian. Lahir pada 23 Maret dengan kondisi tubuh sempurna. Saat lahir, Wenda Sakura Wijaya— istri dari Darian Mahameru dan ibu dari Winter serta Rain menangis bahagia kala telinganya menangkap tangisan bayi mungil yang menemaninya selama sembilan bulan.

Bayi Rain memiliki wajah yang kecil, mata serupa rubah, pipi gembil merona, bibir kecil merah bak apel matang, serta rambut tebal yang hampir setiap hari dielus oleh sang ayah.

Kelahiran Rain adalah berkat terindah yang diterima pasangan suami istri itu— harusnya.

Saat Rain menginjak umur satu tahun, ada kejanggalan yang dirasakan oleh Wenda. Dia berpikir kalau si bungsu mengalami keterlambatan dalam segala hal. Dimulai dari berjalan, berbicara, kadang lupa melakukan sesuatu, dan suka menangis tanpa alasan. Hal itu cukup membuatnya khawatir berakhir membawa bungsu kecilnya ke dokter.

Ditemani sang suami, Wenda akhirnya membawa Rain ke rumah sakit. Omong-omong saat itu Winter dititipkan pada kakek neneknya agar si sulung tidak merasa bosan di rumah sakit.

Menurut penjelasan dokter anak, Rain mengalami autisme. Autisme adalah salah satu macam gangguan tumbuh kembang anak di mana sang anak sulit untuk bicara dan berinteraksi, menunjukkan tindakan emosional berlebihan, sulit memahami situasi. Itu alasannya mengapa Rain di usia satu tahun susah untuk berjalan dan berbicara disertai emosi yang tak terkontrol.

Dianogsa dokter membuat Wenda selaku ibu merasa terpukul. Matanya berkaca-kaca menatap si bungsu yang ikut menatapnya dengan tatapan polos. Mengapa, mengapa harus anaknya? Wenda selalu merawat anaknya penuh dengan cinta dan kasih sayang. Tak pernah sedetik pun Wenda meninggalkan Rain seorang diri. Dia juga selalu membawa Rain dalam doanya. Lantas mengapa berakhir seperti ini? Jujur Wenda tidak siap akan kondisi anaknya. Sementara Darian hanya bisa menghela nafasnya mencoba untuk sabar menghadapi situasi.

Sesuai anjuran dokter, Rain akan rutin dibawa ke rumah sakit untuk melakukan terapi agar meningkatkan kemampuan berjalan dan berbicara sang anak yang disetujui oleh kedua orang tua muda tersebut.

Hingga pada waktunya Wenda merasa muak menghadapi Rain. Dia selalu merasa sebal saat Rain menangis tanpa henti di ruang tamu. Dia sudah berusaha menenangkan si kecil, namun dia malah dilempari dengan lego berukuran sedang yang mengenai tepat di dahinya.

Hal itu membuat Wenda murka berakhir Rain dikunci di loteng seorang diri. Ibu muda itu sudah kehilangan kesabaran menghadapi kelainan anaknya dan sekarang dia tidak peduli lagi pada anak kecil itu. Dia bersumpah tak akan mengurus Rain yang terus mengorek kesabarannya. Tidak peduli jika anak itu harus mati di loteng sana, malah mungkin dia akan bersujud syukur karena merasa tidak terbebani lagi.

Terapi yang seharusnya rutin dilakukan pun terhenti. Wenda ogah membawa Rain ke rumah sakit dengan dalih menghabiskan uang yang tidak akan membuahkan hasil. Alhasil, Darian— sang ayah sukarela mengurus dan mengajari anak bungsunya itu dibantu Winter selaku abang.

Wenda tidak pernah mengizinkan Rain untuk turun ke lantai bawah. Urusan belajar, mandi, makan, dan bermain dilakukan di loteng yang sekarang menjelma menjadi kamar tidur si bungsu. Menyedihkan, namun begitulah adanya.

Ketika Rain menginjak umur 10 tahun, dia mengalami perkembangan pesat. Berbicara sudah lancar, berjalan pun tidak merasa kesulitan, makan mulai rapi, dan emosinya cukup stabil. Walau kadang suka berteriak atau menangis sendiri. Ini semua berkat Darian dan Winter yang sabar merawat Rain.

Rain Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang