19. Istimewa

789 67 6
                                        

𝙋𝙖𝙙𝙖 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙪𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙖𝙣

—dɑri yɑng berusɑhɑ wɑrɑs—

Lantunan ayat suci menggema dalam kediaman rumah besar tersebut, sebagai bentuk do’a kepada dia yang telah tiada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lantunan ayat suci menggema dalam kediaman rumah besar tersebut, sebagai bentuk do’a kepada dia yang telah tiada. Dia yang sosoknya berwajah serupa dengan orang yang tadi pagi baru saja datang dari rumah sakit. Sudah diminta untuk istirahat, tetapi karena malam ini adalah malam terakhir tahlil tujuh harian, dirinya memutuskan ikut bergabung dengan orang-orang.

Terdapat pula para sahabat. Namun, meski ada Reno yang sebelum dimulainya pengajian sempat menghibur agar sendu yang dirasa sedikit pudar, nyatanya Azkan hanya merespon dengan senyum tipis—ketara dipaksa, ketara pura-pura.

Sedari dimulai, sesak terus menggerogoti dada hingga menyebar pada seluruh badan. Lalu, beberapa saat kemudian, bibir rasanya tak lagi sanggup untuk keluarkan suara—perlahan dikatupkan. Ingatan mengenai sang kembaran seakan terpampang di hadapan. Kepalanya menunduk sembari netra dipejamkan sejenak, sekadar menghalau rasa panas yang takutnya jadi tangis di depan banyak orang.

Azkan baru kehilangan Kak Al, yang merupakan sosok tempatnya tumpahkan segala risau. Tempatnya keluhkan ketidak sanggupan hadapi dunia dengan senyuman. Sekarang, adiknya—kembaran—yang bertahun-tahun coba dia rengkuh kembali, coba perbaiki retak dalam ikatan, Tuhan ikut panggil.

“Arkan mau ikut Kak Al. Boleh kan, ya?”

Arkan kecil selalu ‘menempel’ pada Kakak. Selalu mau bersama kakak ke manapun Kak Al pergi, bahkan ketika mereka sedang bermain bersama, Arkan rela hentikan untuk lari ke arah kakak sebab ingin ikut. Dulu, Azkan sama sekali tidak keberatan, karena tahu betul ‘sesuka’ apa adiknya pada sang kakak sulung. Namun, saat kakak kembali pada Tuhan, dan ternyata Arkan turut ikut, rasa tak rela malah hinggap di hatinya. Tuhan, kenapa harus mereka?

--

“Kebangun?”

Malam itu, pada balkon salah satu ruang dalam rumah sakit, saat duduk sendiri sebab pikir yang lain telah istirahatkan tubuh, sebuah suara berhasil sedikit pecah lamunannya. Enggan respon tanya, bahkan menoleh sejenak pun tak dilaksanakan, lebih pilih semakin lekat pandangi langit malam dengan posisi tangan memeluk kedua lutut—salah satunya menggenggam infus. Hingga, ketika sebuah selimut tersampir pada tubuh, dia refleks menoleh—sekejap—ke arah orang yang miliki wajah serupa dengannya.

Tersenyum tipis sembari tempatkan diri untuk duduk di sebelah sang kembaran, rasa lega lantas mendera ketika aksinya tak mendapat tolak. Jelas, gemuruh senang hadir lantaran telah lama tidak dalam satu tempat yang sedekat sekarang—hanya berdua, tanpa dengkusan, tanpa usiran.

RETISALYA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang