⚠️Cerita ini bisa dibaca tanpa harus "mengikuti" RETISALYA yang pertama⚠️
Kata mereka, perginya di tengah jalan. Tiada pamit terlontar sebelum pulang. Meninggalkan orang-orang bersama kerinduan terbalut penyesalan.
Waktu itu mentari siang menjadi sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dulu, Elina tak pernah 'sengaja' membiarkan remaja yang dari tampilannya enggan terpikir akan wanita paruh baya biarkan sekadar injakkan kaki di Rumah Singgah, apalagi menjadi bagian dari mereka. Namun, anak-anak malah dengan sukarela membukakan pintu untuk pemuda itu—menyambutnya penuh riang dan hangatnya peluk dari anak-anak polos tersebut.
Arkan menjadi satu-satunya orang yang pernah Elina batinkan agar anak-anaknya tidak tumbuh lewat sentuh, atau bahkan 'menjadi' seperti pemuda itu. Secara sadar dia gumamkan ingin agar remaja tersebut tak akan lagi singgah, tetapi Arkan malah sering mampir walau hanya sekadar membawakan makanan ringan. Yang pada waktu itu, buruknya Elina pernah niatkan untuk langsung membagikan jajanan dari Arkan untuk warga sekitar-takutnya mengenai 'asal' makanan ringan dan tak sukanya pada sang pemberi, sempat menghilangkan hati nurani wanita paruh baya, tentu turut tak rela jika anak-anak memakan makanan dari hasil yang mungkin adalah haram.
Namun, kalimat yang diucapkan pemuda tersebut sebelum melenggang pergi berupa, "Titip buat anak-anak, dan saya beli ini bukan pakek uang curian."
Waktu itu, dada milik Elina mencelos begitu saja. Mendengar bagaimana pemuda tersebut lontarkan kata yang terkesan sudah biasa, menjadikan wanita paruh baya berpikir tentang; seberapa banyak ucapan buruk yang remaja itu dengar hingga seakan menjadi wajar.
Pada akhirnya, secara perlahan Elina mulai bukakan tangan untuk menerima hadir dari sosok tersebut. Dan hari demi hari terlewati dengan ia yang saksikan dengan netra sendiri mengenai baiknya Arkan di antara gencarnya dunia paparkan berbagai buruknya. Elina bahkan diam-diam pernah menangisi remaja tersebut, sebab bagaimana orang-orang di sekitar Rumah Singgah memperingatinya agar tidak terlalu sering membiarkan anak-anak bermain dengan 'pemuda berandalan'. Katanya, takut jika anak-anak akan meniru segala 'cacat' yang ada di diri Arkan.
"Anaknya baik kok, Mbak. Memang penampilannya saja yang kurang enak dilihat," bantah Elina waktu itu.
"Haduh ... kamu mah selalu berpikiran positif, tau-tau nanti barang punya anak-anak hilang semua. Hati-hati, Mbak."
"Iya, Mbak. Pas main sama anak-anak juga awasi terus, takut dimacem-macemin."
Pemuda berjaket bahkan tak pernah membuat keributan dengan orang-orang di sekitar Rumah Singgah, tetapi sejahat itu mereka menilai pemuda yang dengan dinginnya begitu berusaha untuk memberikan hangat kepada anak-anak. Pemuda yang dengan segala sifat tak pedulinya, selalu berusaha memaparkan kepada Elina bahwa seujung kuku pun Arkan turut tak rela memberikan buruknya pada anak-anak.
Remaja laki-laki yang dulunya kerahkan segala bisanya untuk temani Elina dalam memikul duka, kali ini malah menjadi lara terhebatnya. Kini, wanita paruh baya hanya mampu redam tangisnya sendirian agar tak didengar anak-anak, setelah hingga larut dia mati-matian tegarkan diri saat saksikan mereka semua meraung tak terima terhadap kabar yang mau tak mau harus segera dibagi. Sakit rasanya melihat anak-anak tersebut merintih sebab enggan percaya akan kenyataan hilangnya sosok Kakak yang paling ditunggu hadirnya. Pedih ketika indera pendengarnya penuh dengan tangis milik mereka.