Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

34. Kebun Binatang

544 22 4
                                        

 "Gendis, tolong ambilkan keripik singkong di dapur!"

"Gendis tolong ambilin air perasan jeruk yang semalam mamaku bawain!"

"Gendis, sekalian ambilin bantal sofa yang gambar pete!"

"Gendis!"

Teriak Aidan dengan kencang menggelegar di ruang bersantai yang ada di samping rumahnya. Aidan tengah menonton acara olahraga mumpung hari minggu. Namun ritual Aidan menonton memang sangat meresahkan, harus ada keripik singkong rambat yang berwarna ungu, air perasaan jeruk dan merangkul bantal bergambar pete. Kecintaan Aidan dengan pete membuat pria itu membeli beberapa benda custom pete, salah satunya adalah bantal.

Aidan merasa tenggorokannya sudah sakit karena terus berteriak, tapi yang dipanggil tidak kunjung datang.

"Gendis!" teriak Aidan lagi sampai otot lehernya seolah keluar.

Aidan seperti orang yang memiliki kepribadian ganda. Namun Aidan hanya bersikap kondisional saja tergantung tempat dan situasi. Kalau di kantor, boleh lah ia bersikap berwibawa karena dia seorang CEO, tapi kalau di rumah, Aidan seolah mengasuh anak gadis yang yang sangat menyusahkan. Jarak usianya dengan Gendis delapan tahun, tidak terlalu banyak, tapi Aidan benar-benar seperti mengasuh anak gadis yang saat dipanggil bapaknya malah minggat entah kemana.

Gendis, gadis berusia sembilan belas tahun, anak dari mantan sopir papanya yang rumahnya di Magelang. Dan kini mamanya memaksanya untuk membawa Gendis ke Jakarta menjadi asisten rumah tangga.

"Lolita Gendis Mustika, kamu di mana?" teriak Aidan memukul sofa sampingnya dengan perasaan teramat kesal.

Aidan segera melompat dari sofanya, pria itu menuju ke samping kiri rumahnya yang di mana itu daerah teritorial milik Gendis.

Selama dua puluh tujuh tahun Aidan tidak pernah memelihara binatang. Namun sejak kedatangan Gendis beberapa bulan lalu, bagian samping kiri rumah Aidan menjadi kebun binatang. Ada kura-kura jenis aligator bernama Guston, ada kura-kura Sulcata bernama Bubu, ada Kura-kura Brazil berwarna hijau bernama Gozila. Selain kura-kura juga ada cacing-cacing peliharaan Gendis bernama Cacing besar. Ada juga iguana berbagai jenis dan ukuran, ada biawak yang juga diletakkan di kolam.

Aidan berkacak pinggang tepat di depan Gendis yang tengah berjongkok sembari menguliti udang untuk makan kura-kura Aligatornya. Semua hewan itu Aidan yang membelikan karena ia tidak tega melihat Gendis membeli hewan dengan uangnya sendiri. Namun memang Gendis tidak tahu diuntung, setelah dibelikan Hewan malah melupakan dirinya yang lebih membutuhkan perhatian.

"Cup cup kura-kura, Bunda ada di sini, makan yang banyak ya biar makin gede," ucap Gendis mengelus tempurung kura-kura yang bahkan sangat lancip. Aidan sangat ngeri melihat hobi Gendis yang sangat menyeramkan.

"Ekheeem." Aidan berdehem kencang membuat Gendis tersentak. Gendis segera berdiri menatap Tuan Rumahnya.

"Pak Aidan, maaf. Aku masih memberi makan anak-anakku," ucap Gendis mendekatkan Guston pada Aidan.

"Bawa menjauh, Gendis!" titah Aidan dengan kencang. Gendis pun menjauhkan kura-kuranya.

"Aku menggaji kamu bukan untuk menjadi pengurus kebun binatang. Aku sudah berbaik hati memberimu satu bagian untuk kamu memelihara hewan-hewan kamu, tapi bukan berarti kamu melupakan kewajibanmu, Gendis!" oceh Aidan masih berkacak pinggang.

"Anu, Pak ... Eh anu ...." Jawab Gendis dengan kikuk. Ia belum menyiapkan jawaban apa-apa, membuatnya kini sangat bingung.

"Anu apa, anu apa?" tanya Aidan masih dengan raut garangnya.

"Ini Pak, kasihan Guston sudah tirakat satu minggu, ini waktu dia buka puasa," ucap Gendis.

"Peduli setaan dengan Guston, yang wajib kamu urus itu aku. Aku sejak tadi manggil-manggil kamu tapi kamu tidak kunjung nyaut. Apa aku perlu beli toa agar kamu dengar?" ucap Aidan menarik telinga Gendis dengan kencang.

Belah Duren Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang