Chapter Two: The Train and The House

458 65 10
                                        

8 Juli 2019

"Gak ada yang ketinggalan, Lin? Udah semua tasnya?"

"Udah, Yah. Ayo, berangkat, sebelum Neo bangun," jawabku sambil menutup pintu BMW X5 hitam mengilat kesayangan Ayah. Ia sudah duduk di kursi kemudi, bersiap mengantarku hingga ke stasiun kereta. Hari masih gelap, matahari belum menyapa. Aku sengaja memesan tiket keberangkatan paling pagi, Neo tidak terbiasa mengucapkan selamat tinggal. Bocah yang baru akan masuk kelas satu SD itu belum mengerti arti perpisahan sementara.

Ayah mulai melajukan mobil menjauhi rumah minimalis kami di perumahan modern kawasan Kemang. Dengan tangan pada kemudi, ia mencoba menenangkanku. "Well, kamu tenang aja. Ayah gak akan ambil lembur selama kamu di Bandung. Jadi, Neo sama Bi Dedeh cuma sampai maghrib doang."

"You'd better be." Aku menjawab pelan. Masalahnya, Ayah tidak lembur adalah hal yang sangat jarang terjadi. Ia bekerja di perusahaan logistik multinasional yang mengharuskannya melakukan perjalanan dinas ke luar negeri beberapa kali dalam satu minggu. Sejak ibu meninggal, aku dan Neo lebih sering menghabiskan waktu dengan Bi Dedeh ketimbang dengannya.

"Ayo dong, Lin, jangan cemberut gitu. Apa salahnya, sih, liburan seminggu ke rumah sepupu? Kamu dan Di itu hampir sebaya dan anak Bude cuma satu, anak Ayah juga cuma dua. Kalian ini harusnya akrab seperti saudara kandung. Jangan lupa, belajar yang bener. Kamu harus masuk ITB kayak Di. Biar kamu bisa tinggal di rumah Bude. Kasihan mereka, cuma tinggal berdua sejak perceraian tiga tahun lalu. Kalau ada kamu kan enak, rumah mereka jadi agak ramai."

Aku bergidik tapi mencoba menyembunyikannya dengan merogoh ponsel dari dalam tas selempang transparan yang kukenakan. Tentu saja aku akan sengaja mengacaukan ujian masuk ke universitas di Bandung itu, karena tidak bisa membayangkan harus tinggal setiap hari selama empat tahun di rumah yang sebisa mungkin aku hindari. "Aku udah nyoba untuk akrab sama mereka, Yah. Aku tiap liburan selalu ke sana, setahun dua kali. Kenapa gak giliran, sekali-kali dia yang nginep di Jakarta?"

"Bude itu kakak Ayah, Diandra itu kakak sepupumu. Sudah sewajarnya yang muda bertandang ke yang tua."

Aku hanya menganggukkan kepala lalu mencoba memusatkan konsentrasi pada webtoon di layar ponsel. Percuma saja mengutarakan keberatan ini pada Ayah. Aku sudah melakukannya puluhan kali. Hasilnya? Lihat ke mana aku akan pergi sekarang.

Perjalanan dari rumah kami ke Stasiun Gambir hanya memakan waktu dua puluh menit, berkat jalanan yang masih kosong melompong. Ayah mengantarku sampai ke pintu keberangkatan. Setelah mencium tangannya dan mengucapkan sampai jumpa, aku berjalan memasuki gerbong kereta yang lima belas menit lagi dijadwalkan untuk melaju. Gerbong itu baru terisi setengah, mudah saja menemukan bangku dengan nomor yang tertera di potongan tiket dalam genggaman. Beberapa penumpang tengah memasukkan kopernya ke kabin, membuatku berjalan sambil memiringkan tubuh menuju ke sana.

Bangku itu berada di sisi jendela dan menghadap ke depan, setidaknya aku mendapatkan posisi terbaik. Dengan kedua tangan, aku mengangkat koper cabin-sized milikku, mencoba menaikkannya ke kabin di atas bangku. Lelaki botak paruh baya yang tengah duduk di hadapan berdiri sambil tersenyum ramah, lalu membantu menyimpan koper yang memang lumayan berat itu. Aku balas tersenyum sopan dan mengucapkan terima kasih.

"Kirain kursi samping jendela ini kosong, baru saja saya berniat akan pindah." Ia kembali duduk setelah memberi ruang padaku untuk menyelip ke bangku di sebelahnya itu.

Aku tertawa kecil. "Maaf, saya terpaksa harus menolak. Bosan kalau harus duduk tanpa menikmati pemandangan. Sebagai gantinya, mau coba cemilan?"

Aku mengacungkan amunisi perjalanan yang terkemas rapi di dalam kantong merah. Isinya adalah beberapa bungkus keripik kentang berbagai rasa, air mineral, biskuit krim, kacang pilus, permen aneka rasa, juga se-Tupperware penuh bakwan sayur hangat. Semua disiapkan oleh Bi Dedeh. Seperti biasa, wanita berhati baik itu selalu berlebihan. Hanya perjalanan darat empat jam, ia membekaliku seolah aku akan melancong ke Korea Selatan.

GlitchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang