"Kalau aku bisa tersesat di sana lagi, aku bisa milih mau masuk ke semesta yang mana! Bisa gak, kita ulangi lagi glitch kayak gitu?"
Kurang lebih satu jam kemudian, saat sudah ditarik kembali ke dalam tubuhku di dalam tabung TT di laboratorium, dengan bersemangat aku segera menceritakan pengalaman yang baru saja terjadi, lengkap berserta penafsiranku atas potongan gambar pada serabut cahaya di lorong gelap itu.
Bio yang kedua matanya juga tampak bersinar-sinar oleh rasa semangat menjawab, "Bisa! Kali ini pasti bisa!"
"Gimana? Gimana caranya kita mengulangi suatu kesalahan yang bahkan kita aja gak tahu salahnya di mana?" tanya Diandra cepat.
"Gue udah tahu. Kali ini gue yakin."
"Gimana? Bisa langsung diulangi hari ini, gak?" tanyaku tak sabar.
"Waktu Di nyeritain glitch yang Alin alami di perjalanan kuantum, gue bilang mungkin alasannya adalah faktor alam dari alam kuantum itu sendiri, kan? Padahal, saat itu gue udah punya firasat bahwa yang menjadi masalah adalah daya listrik di gedung ini yang kurang besar untuk pengoperasian mesin TT yang udah dimodifikasi dengan fitur re-trip. Tapi, saat itu gue belum yakin, karena walaupun ditambah fitur baru, Time Turner juga punya fitur energy-saving. Lagipula, toh glitch itu gak pernah terjadi lagi, padahal kita pake mesinnya sampai tiga kali sehari."
"Sebentar. Maksud lu, karena daya listrik kurang memadai, jadi proses perjalanan gak semulus biasanya?" tanya Lukas memastikan.
"Iya, harusnya kan Alin langsung sampai dalam dua atau tiga detik. Ini dia melayang-layang dulu di sana, seolah kurang dorongan. Dugaan gue, hal itu terjadi karena daya listrik yang kurang."
"Tapi kenapa listriknya kadang muat dan kadang nggak?" tanya Diandra heran.
Alih-alih menjawab, Bio malah melemparkan pertanyaan lain. "Kalian inget gak, di percobaan kedua yang Alin ngalamin glitch untuk pertama kali, yang jadi operator siapa?"
"Gue," jawab Diandra lugas.
"Nah, bukannya gue ngeremehin lu, Di. Gue percaya banget sama kemampuan otak lu yang di atas rata-rata. Tapi pada dasarnya, urusan mesin ini adalah ranah gue. Salahnya, atau mungkin untungnya, saat itu gue malah tidur karena serius gak kuat ngantuk banget saat itu." Bio berhenti sejenak. "Sejak saat itu gue mikir, apa yang beda dengan pengoperasian mesin ini di hari Sabtu pagi itu, dengan pengoperasian mesin ini di percobaan-percobaan selanjutnya. Dan cuma satu perbedaan yang bisa gue temukan, yaitu bukan gue yang jadi operatornya. Tapi, gue masih belum juga sadar, memangnya apa ngaruhnya siapa yang jadi operator?
"Sampai pas Rabu malam, gue sadar akan sesuatu. Alin yang bikin gue sadar. Waktu lu bilang, Di kadang emang suka lupa matiin lampu kamar mandi. Inget gak, Lin?" Bio mengedikkan kepala ke arahku. "Di situ gue sadar. Perbedaannya ada di fitur energy-saving."
Bio berhenti sejenak untuk menatap Diandra penuh arti. Sementara gadis itu terkesiap dan menutup mulut dengan tangannya. Matanya berbinar-binar sepertinya sudah paham akan apa yang tengah dijelaskan Bio. Sementara aku dan Lukas masih menunggu kelanjutan penjelasan dari pemuda tambun yang cerdas itu.
"Pada dasarnya, cara kerja energy-saving di Time Turner seperti mode hemat daya di smartphone. Kalau kita pake fitur itu, mesin beroperasi kayak biasa, hanya di tingkat energi yang lebih rendah. Time Turner dengan mode energy-saving membutuhkan waktu minimal satu jam hingga beroperasi lagi. Gue selalu pake fitur itu. Makanya, kita selalu ngasih waktu Alin di semesta lain selama satu jam, kan? Karena kalau kurang dari satu jam, harus pake energi normal. Sementara, listrik yang dipakai untuk pengoperasian mesin ini tuh gede banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Glitch
Научная фантастикаGlitch (completed) ------------------------------------------------------- "Neo lagi apa, Yah? Aku mau bicara, dong." "Siapa?" "Neo. Udah bangun belum dia?" "Neo siapa, Lin?" Aku bersumpah jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik. "Maksud...
