Chapter 1

39.9K 2.1K 45
                                        

Jeno menggertakkan giginya penuh emosi manakala menyaksikan sesuatu yang membuatnya meradang seketika.

Sorot mata tajamnya menangkap dua orang yang sedang asyik memagut bibir sampai-sampai menghiraukan keberadaannya yang telah memergoki mereka tengah berbuat hal tak senonoh di dalam kamar mandi khusus laki-laki. Namun, bukan itu yang menyebabkan Jeno naik pitam, melainkan salah satu dari kedua pemuda di hadapannya merupakan kekasih Jeno.

Omega laki-laki berparas manis itu berpasrah diri ketika mendapat sentuhan yang amat memabukkan dari alpha yang tak lain adalah musuhnya, Na Jaemin.

Aroma keduanya menguar menjadi satu di dalam kamar mandi, bersama diiringi desahan putus-putus berasal dari kekasihnya yang banyak menerima rangsangan kenikmatan.

Kedua telapak tangan Jeno terkepal kuat, tak sanggup melihat lebih adegan di depannya yang menjadikan dadanya berakhir sesak. Amarah menggebu-gebu bercampur dengan kesedihan tatkala harus mengetahui perbuatan sang omega bersama musuh paling dibencinya.

Bahkan selama ia dan omega manis itu menjalin hubungan, sebagai seorang alpha yang berusaha menahan keinginannya dalam menyetubuhi, mati-matian menahan rasa tersebut dengan tujuan tak ingin merusak. Jeno tak pernah menyentuh lebih omeganya selain sekedar menggenggam tangan atau merangkul, namun sekarang ia harus diperlihatkan sesuatu yang amat menyakiti hatinya.

Jeno tak kuat jika harus menonton ini lebih lama. Ia memilih meninggalkan kamar mandi bersama kedua orang terkutuk di dalamnya yang pasti akan berhubungan lebih dari sekedar ciuman biasa.

Jeno bersumpah akan menghabisi Jaemin menggunakan tangannya sendiri, karena untuk yang kesekian, setiap omega yang berhubungan dengannya, pasti selalu berakhir menjadi incaran alpha itu untuk membuat Jeno terlihat lemah.

"Jaemin bajingan, aku tidak akan mengampunimu!"

Langkahnya membawa Jeno ke tempat parkiran. Pikirannya benar-benar kalut. Pandangan Jeno mengedar mencari motor kepunyaan Jaemin dari banyaknya kendaraan beroda dua di sana. Ia akan sedikit mensabotase untuk membalas musuh bebuyutannya itu.

Berbekalan pisau lipat yang entah sejak kapan berada di saku celananya, Jeno berniat akan membuat rem sepeda motor Jaemin tak dapat berfungsi semestinya.

Tanpa banyak kata, Jeno lekas melancarkan aksinya. Motor Ninja berwarna hitam itu akan mencelakakan Jaeminㅡatau jika memang masih diberi kesempatan untuk hidup, mungkin Jaemin akan tiada.

Jeno menyeringai. Mungkin ini berlebihan, tapi Jeno sudah cukup sabar untuk memberi kesempatan kepada Jaemin merebut setiap omeganya. "Semoga Moon Goddness memberikan kesempatan untukmu tetap hidup, bajingan tengik."

ㅡㅡㅡ

Kericuhan terdengar memekakkan telinga manakala pemuda-pemuda di dalam sebuah basecamp saling melontar argumen dengan suara yang lantang. Ditambah dentuman musik Rock derasal dari  sound system, menciptakan suasana layaknya di sebuah kelab malam.

Jaemin melangkah masuk dan menemui teman-temannya yang sibuk pada urusan pribadi. Ada yang asyik bermain Playstation, bermain ponsel, bahkan tidur. Ruangan tersebut walau tidak terlalu luas, namun bisa menampung beberapa barang yang pastinya dapat digunakan saat sedang kumpul bersama.

"Wah, pemimpin kita sudah datang."

Jaemin mendecih oleh penuturan berlebihan salah seorang temannya yang duduk di sofa. Ia mendekat, mendudukkan diri disamping pemuda yang sedang bermain ponsel sembari berbaring beralaskan karpet beludru.

Plak

"AKHH! Na Jaemin sialan, sakit bodoh!" pekik pemuda tersebut ketika tiba-tiba mendapat sebuah tamparan kecil di bokongnya. Dia balik membalasnya dengan menendang kaki Jaemin menggunakan telapak kakinya yang menganggur.

"Aku sudah mengingatkanmu, aroma feromonmu tercium sangat aneh. Dan lagi, tak biasanya kau akan berteriak marah seperti ini kepadaku. Kau menyembunyikan sesuatu padaku, huh, Mark Lee?"

"Aku berteriak marah karena kau menampar pantatku dengan seenaknya. Bahkan jika kau melakukan hal serupa kepada Jaehyun hyung, dia pasti akan memenggal kepalamu!"

"Dari sekian banyak nama di sini, mengapa harus aku yang kau libatkan?" Sosok pemuda lain menyahut dengan nada suara ketus. Mark menyengir, tak bermaksud membuat Jaehyun kesal oleh ucapannya. Dia memekik histeris saat Jaemin kembali menampar pantatnya.

"Sudah kubilang, ini sakit, Na Jaemin!" geramnya kini bangkit duduk dan menendangi kaki Jaemin tanpa ampun. Empunya terkekeh, merasa gemas dapat menjahili satu-satunya omega di anggota mereka.

"Bukankah sekolah masih ada waktu 20 menit lagi sebelum dipulangkan, bagaimana bisa kau datang kemari disaat jam sekolah belum usai?" tanya Jaehyun sembari membawa secangkir bening teh hangat di tangannya, ikut duduk di samping Jaemin.

Alpha Na itu mengubah senyumnya menjadi seringaian tatkala mengingat satu figur yang kini muncul dalam benaknya. "Aku hanya iseng hyung ... sekedar iseng ingin membuat seseorang yang mengharapkanku celaka, menunggu kabar itu dengan percuma."

Di sisi lain, Jeno dibuat uring-uringan manakala motor yang ia sabotase justru tak kunjung meninggalkan area sekolah sejak jam sekolah dinyatakan selesai. Hari sudah semakin sore, matahari dengan malu-malu enggan menampakkan diri di balik awan gelap yang sebentar lagi akan menumpahkan tangisannya ke bumi pertiwi.

Jeno menyugar rambutnya ke belakang dengan ftustasi. Mengumpati Jaemin yang kemungkinan besar pulang tidak menggunakan motor Ninja berwarna hitam tersebut.

"Terkutuk kau, Na Jaemin sialan!"





















"Terkutuk kau, Na Jaemin sialan!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Disini, Jeno cantik banget ㅜoㅜ

Alpha's Sworn EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang