Keduanya adalah musuh bebuyutan. Sikap mereka bahkan hampir mendekati mirip jika dibandingkan; sama-sama keras kepala, suka main tangan dan ingin menang sendiri. Sampai pada suatu ketika, kedua Alpha itu mengalami siklus Rut secara bersamaan dan ent...
Mungkin Jeno bisa saja langsung mendatangi basecamp musuhnya berada, namun itu adalah suatu tindakan anarkis yang tidak mungkin Jeno lakukan. Jeno adalah alpha. Sejak kecil dirinya sudah mendapatkan pelatihan untuk menjaga orang-orang terdekatnya suatu saat nanti. Kekuatan alpha jauh diatas rata-rata beta maupun omega. Itulah yang membuat Jeno sangat dispesialkan di lingkungan keluarga ataupun saat di sekolah. Jeno adalah alpha yang banyak digandrungi omega hingga beta sebelum semua kesenangan itu runtuh.
Jaemin mengambil segalanya. Jaemin merebut semua kesenangan yang seharusnya hanya untuknya nikmati. Jeno tak suka jika ada satu kelebihan yang menandingi kemampuannya. Anggap bahwa Jeno hanya mementingkan dirinya sendiri, karena itu memanglah benar. Jeno membenci Jaemin dan berusaha membuat alpha itu berada jauh di bawahnya. Tapi untuk menjatuhkan Jaemin, benar-benar membutuhkan usaha yang besar agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Jaemin sangat susah dijatuhkan. Alpha itu bahkan semakin hari semakin membuat Jeno mengerang jengkel. Jeno pernah ingin menyerah dan memilih berdamai, namun yang diterimanya justru penghianatan. Semenjak muncul Jaemin dalam kehidupannya, semua kekasih Jeno berakhir berpaling darinya. Jeno sangat membenci Jaemin. Dia telah merusak semua yang telah ia miliki dan menghancurkannya berkeping-keping.
Jeno akui bahwa Jaemin merupakan alpha yang sulit ditandingi. Untuk mengalahkannya, mungkin percuma. Apalagi teman-temannya. Jika dibandingkan dengan Jeno, memang sudah seharusnya Jaemin yang lebih pantas mendapatkan semua yang pernah didapatkan Jeno sebelumnya. Tapi bukan berarti Jeno mengakui kemampuan Jaemin. Jeno bahkan tak sudi untuk mengatakan sejujur-jujurnya jikalau Jaeminlah lebih unggul darinya. Itu hanya akan membuat harga dirinya dipermalukan sebagai alpha primadona di sekolahan.
"Apa yang menganggu pikiranmu?"
Jeno melirik sebentar kawannya yang duduk tak jauh dari tempatnya singgahi. Ia kembali menatap lantai basecamp dengan pandangan kosong.
"Jaemin lagi?"
Alpha Lee itu tak menjawab. Membuat kawannya yang lain menganggap diamnya Jeno adalah jawaban benar dari pertanyaan alpha bersurai cokelat.
"Eric menjadi yang berikutnya setelah Hyunjin. Alpha keparat itulah yang membuatnya sekarang menjadi muram," sahut pemuda lain dari seberang kursi Jeno. Memiliki wajah manis dan bertubuh mungil dari kebanyakan pemuda di ruangan ini.
"Sejujurnya aku ikut kesal mengetahui orang yang kita cinta justru dirampas oleh orang yang tidak kita sukai sebelumnya. Entah apa motif Jaemin merebut setiap kekasih Jeno, yang jelas aku malah menyimpulkan suatu artian lain."
Para pemuda di dalam basecamp itu berangsur-angsur memberikan reaksi wajah berbeda-beda untuk pemuda yang barusan bersuara. Kecuali Jeno yang bahkan enggan menimbrung ke dalam percakapan teman-temannya.
"Apa maksudmu?"
"Aku menyimpulkan jika Jaemin menyukai Jeno."
Kini barulah Jeno mengangkat pandangannya. Sorot tajam itu sepenuhnya berfokus pada pemuda bernama Donghyuck yang asal mengasumsikan.
"Aku alpha, dia alpha, jangan gila!" sanggah Jeno bersungut-sungut. Ia tak suka jika disatukan dengan nama musuhnya dalam satu perumpamaan.
"Tapi bagaimana jika itu benar?" timpal yang lain.
"Tidak mungkin. Berhenti membahas bajingan itu, kalian membuat moodku semakin buruk!"
"Baiklah, kami minta maaf. Dan Taeyong hyung, kau sungguh berniat kumpul atau hanya ingin bermain ponsel? Aku sungguh akan membantingnya jika kau lebih memilih handphone itu!" celetuk Renjun. Sedari tadi ia sudah kelewat jengah oleh pemuda itu.
"Hm, aku harus pergi."
"Lihat! Sebenarnya kau mau kemana sih? Setiap berkumpul kau lebih sering pergi. Jangan mengatakan, "aku ada ada urusan." karena itu alasan klasik yang sudah bosan kudengar. Berikan alasan lain."
"Aku ada kepentingan." Taeyong berlalu dari basecamp. Menghiraukan cibiran omega Huang yang sedang merutukinya.
Jeno bangkit berdiri. Tanpa mengatakan sepatah kata, dirinya langsung pergi.
ㅡㅡㅡ
Jeno mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan penuh. Siapa yang tahu, dibalik helm yang dipakainya saat ini, ia tengah menangis. Sial, bayangan tentang kejadian tadi saat di sekolah, ketika tak sengaja menyaksikan kekasihnya berciuman dengan musuhnya, di depan matanya sendiri, membuat hati Jeno benar-benar teriris.
Terserah ingin mengatakan Jeno cengeng, tapi kenyataannya ia sungguh merasakan sakit yang teramat tatkala sosok yang dicintainya selalu berakhir ke pelukan Jaemin. Siapa yang terima?
Jeno putus asa. Hancur sehancur-hancurnya. Rasa benci terhadap Jaemin semakin besar. Tapi Jeno harus melakukan apa lagi supaya lawannya dapat tumbang?
CKIIITT!
BRAKK!
Motor Sportnya menghantam aspal. Menjatuhkan Jeno dan menorehkan luka di lutut berbalut celana sekolah juga siku yang tak terhalang apapun. Alpha malang itu melepas helmnya secara tergesa, lantas dibuang hingga menimbulkan suara banter dari helm mahal yang memantul ke jalanan keras.
Kedua mata merahnya tampak menyedihkan. Airmata membasahi wajah tampannya. Kali ini Jaemin berhasil membuat Jeno kacau dengan merebut omeganya. Mempermainkan emosi yang dari awal memang pemuda itu tak dapat mengontrolnya.
Dari kejauhan, sebuah motor mendekati. Jeno berkutik, lekas menghapus airmatanya. Ia tak ingin seseorang menyaksikan penampilan kacaunya, sebab itu akan membuatnya terlihat seperti orang lemah.
Dan benar saja, seseorang yang mengendarai motor tersebut menghentikan laju motornya. Jeno menampilkan ekspresi datar seperti biasa kala mengetahui orang itu merupakan salah satu teman dari musuhnya; Jung Jaehyun.
Pemuda itu turun dari atas motor setelah melepas helm. Berjalan mendekat guna membantu mendirikan motor Sport yang ambruk menimpa kaki Jeno. Kedua alpha itu saling bungkam. Jeno diam menatap Jaehyun yang membantunya berdiri.
"Bisa mengendarai sendiri?" Jaehyun bertanya.
"Bisa."
Jaehyun melepas pegangan tangan Jeno, sontak membuat alpha Lee itu kembali terduduk di aspal sembari meraung kesakitan. Kakinya mungkin terkilir akibat terjatuh dari atas motor.
Jaehyun mendecih diam-diam kemudian kembali mengangkat Jeno berdiri. "Aku antar. Kau tunjukkan arah rumahmu."
"Motornya?"
Jaehyun tak menjawab. Itu sudah memakai helmnya. "Naik."
Jeno mau tidak mau terpaksa menerima tawaran Jaehyun. Kondisinya tak memungkinkan untuk berkendara sendiri, sebab kakinya benar-benar terasa sakit. Motor Jaehyun melaju dengan kecepatan sedang, bersamaan dengan Jeno yang memberikan panduan letak rumahnya berada.
Jeno tak menyangka salah satu anggota musuhnya dengan berbaik hati mau menolong. Jeno sempat mengira ketika dari awal kedatangan Jaehyun. Ia pikir Jaehyun akan mengejeknya, namun ternyata malah membantu dan kini mengantarkannya pulang.
Alpha Lee itu tanpa sadar tengah tersenyum.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.