Update nih, maap ngaret. Lagi seneng karena hari ini umur bertambah :v
••••
"Aku tau jika dia memang alpha payah—eh, Jaehyun hyung? Kau berkerja di sini?"
Ocehan Mark berhenti ketika dirinya menemukan presensi yang amat dikenalinya berada di tempat yang akan Ia singgahi untuk beberapa menit ke depan. Jaehyun, salah satu kawannya itu berseragam atasan putih dan bawahan hitam seperti para pegawai lain, dibalut celemek senada dengan celana.
Jaehyun tampak sedang mengelap meja ketika Mark bersama ketiga teman omeganya masuk.
"Selamat datang," ujar Jaehyun dengan suara dan ekspresi datar. Melihatnya membuat Mark tergelak di tempat.
"Hyung, kalau cara hyung menyambut pelanggan seperti itu, aku yakin pasti pelangganmu akan kabur dan tidak mau ke sini lagi."
"Aku hanya mengucapkan 'selamat datang', seperti yang biasa para pegawai rumah makan melakukannya. Bukan ranahmu berkata seperti itu, Mark Lee. Duduk, memesan, membayar, lalu segera pergi," tekannya sedikit tersinggung. Pasalnya, Jaehyun itu bersumbu pendek. Dia anti menerima kritikan orang lain terhadap dirinya.
"Temanmu benar, Jaehyun," timpal sebuah suara menginterupsi. Sosok pemilik kafe; Taeyong, melangkah dengan seragam yang sama sembari menenteng tiga buku menu bercover cokelap gelap di tangan kanannya. "Kau harus ramah, tersenyum contohnya. Pelanggan tidak akan segan ketika datang untuk bersinggah. Kau bekerja diantara banyak kelompok yang berbeda-beda dan pastinya punya sifat bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Keramahan adalah nomor yang terpenting dalam peraturan di kafe ini. Anggap ini sebagai pemahamanmu agar tidak mengulanginya. Tersenyum dan bertindak santun, bisa?"
"Hm."
Taeyong tersenyum tipis. Tangannya terangkat mengacak-acak surai legam sosok alpha bermarga Jung itu, yang mana langsung mendapat tepisan kasar serta tatapan tajam menusuk.
Mark menyaksikan itu semua. Dia menelisik presensi alpha di samping Jaehyun tersebut dengan pandangan tak tertebak.
"Silakan duduk, maaf membuat kalian menunggu. Silakan, ini buku menunya." Suara Taeyong memecah kecanggungan yang sempat melanda. Ketiga omega itupun kemudian duduk, membuka buku bercover tebal di tangan masing-masing.
Jaehyun memerhatikan secara cermat cara Taeyong mengayomi pelanggan. Ini memang masih hari pertama Jaehyun bekerja, tetapi sempat ada beberapa masalah yang membuat kinerjanya terhambat. Itu semua juga karena Jaehyun memang tidak pernah bekerja seperti ini. Tapi dari cara Taeyong yang suka mengingatkannya, Jaehyun jadi belajar sedikit pengetahuan kecil berlaku lembut kepada orang lain.
Setahu Jaehyun, Taeyong bukanlah sosok seperti yang ada di depan matanya kini. Sosok yang dikenalnya selalu adalah Taeyong dari kubu musuh, menyebalkan, memuakkan, dan bertindak tenang disaat yang lain terbawa amarah meledak-ledak. Alpha Lee itu memang sesuatu. Dia menanggapi semua masalah dengan kepala dingin, di mana bagi tipikal orang yang kesabarannya mudah habis seperti dirinya itu, amat menyulitkan.
"Jaehyun?"
Jaehyun berkedip. Netranya menatap Taeyong. "Apa?" tanyanya kelewat singkat. Terkesan tak niat menjawab.
"Kau tidak mendengarkanku rupanya," ujar Taeyong berpura-pura sedih dari nada bicaranya.
"Apa, kenapa?"
Taeyong mengikis jarak, membuat Jaehyun segera menegakkan badannya. "Kau manis," ungkap Taeyong berbisik. Telinga Jaehyun langsung memanas dibuatnya. Taeyong hanya mampu terkekeh kecil sebelum akhirnya pergi membawa kembali buku menu, memberikan pesanan ketiga pelanggannya pada karyawan yang mengurus konsumsi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha's Sworn Enemy
FanficKeduanya adalah musuh bebuyutan. Sikap mereka bahkan hampir mendekati mirip jika dibandingkan; sama-sama keras kepala, suka main tangan dan ingin menang sendiri. Sampai pada suatu ketika, kedua Alpha itu mengalami siklus Rut secara bersamaan dan ent...
