Maap ye, hampir 2 bulan yak ga up:D
_______
Pagi berikutnya, setelah kegiatan panas yang membuat Jeno harus membolos sekolah, kini dirinya telah kembali berangkat. Namun, bukannya langsung masuk ke dalam kelas, pemuda itu memutar arah menuju kantin. Memberi sapaan kelewat ceria kepada bibi Im yang sedang mengelap beberapa mangkuk basah.
"Pagi, bibi Im."
Wanita itu menoleh, tanpa ada niatan untuk berhenti melakukan pekerjaannya. "Pagi juga, Jeno. Hey ... mengapa kemarin kau tidak berangkat sekolah?"
"A-ah ... itu. A-aku hanya sedang tidak enak badan. Yeah, beberapa hari lalu sempat banyak urusan, mungkin aku sakit karena kelelahan. Dan ya, itu sebabnya aku tidak berangkat."
Bibi Im mengangguk-anggukkan paham. Meletakkan mangkuk yang sudah dikeringkan menggunakan kain lap bersih disebuah rak piring berukuran sedang.
"Lalu, mengapa tidak langsung ke kelas? Sebentar lagi bel masuk berbunyi."
"Aku ingin membantu bibi, boleh?"
Bibi Im menatap Jeno lekat. "Kau sudah membolos kemarin, sekarang di jam pertama ingin membolos juga? Sebaiknya kau kembali, Jeno. Bibi tidak ingin kebiasaan burukmu ini akan mempengaruhi nilaimu. Ingatlah, sebentar lagi kau akan menghadapi ujian kelulusan. Kau harus belajar lebih giat."
"Aku tahu, tapi aku tak ingin bertemu dengan si bajingan itu. Membayangkan wajahnya saja sudah membuatku ingin muntah."
Bibi Im menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Benar-benar pusing oleh tingkah Jeno yang sulit ditebak. "Jadi, sekarang kau tengah membayangkan wajah Jaemin, hm?"
"Eeeh ... bukan begitu! Hanya sebuah perumpamaan. Lupakan. Boleh, ya, aku membantu bibi? Biarkan Nono menjadi anak baik, kumohon~" harapnya dengan menyatukan kedua tangan ke depan dada, sembari menampilkan ekspresi menggemaskan supaya bibi Im luluh.
"Hahh ... baiklah-baiklah, kau menang. Tapi bibi minta lain kali kau tidak begini. Mengerti, anak nakal?"
Jeno mengangguk patuh. Segera beranjak dari duduknya, menghampiri bibi Im lalu mengambil alih lap kain dari tangan wanita itu.
"Lakukan dengan hati-hati. Satu mangkuk atau piring yang pecah, bibi tidak akan memperbolehkanmu datang kemari."
"Aku mengerti. Aku tidak akan mengacaukannya, karena aku sudah mahir. Percayakan semua padaku." Jeno berseru sambil menepuk dadanya bangga. Bibi Im berdehem singkat. Memilih menyingkir guna melakukan pekerjaannya yang lain.
Siapa yang mengira Jaemin akan dapat menyaksikan interaksi manis Jeno bersama bibi Im. Dari awal, saat Jaemin melihat kehadiran Jeno yang datang, membuatnya mengikuti Jeno begitu alpha Lee tersebut tak langsung pergi ke kelas. Jaemin singgah dibalik tembok yang masih menghubungkan dinding kantin, mendengar sekaligus menyaksikan percakapan antara Jeno dengan bibi Im.
Alpha Na diam-diam tersenyum.
ㅡㅡㅡ
Taeyong berjalan cepat mengikuti sosok yang berada sedikit jauh dari depannya. Bukan tanpa sebab Taeyong dengan repot mau mengikutinya. Sosok itu adalah Jaehyun. Salah satu anggota kelompok Jaemin, yang merupakan musuh bebuyutannya juga.
Gerak-gerik Jaehyun mengundang kecurigaan Taeyong yang tak sengaja melihatnya. Taeyong tak ingin menduga jika anggota Jaemin sedang merencanakan sesuatu untuk kelompoknya. Guna mencegah, Taeyong akan memastikan terlebih dahulu kemana Jaehyun melangkah.
Hingga sampailah disebuah club. Taeyong menghentikan langkahnya. Memandang bangunan di depannya dengan perasaan bingung. Mengapa Jaehyun masuk ke dalam tempat itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha's Sworn Enemy
FanfictionKeduanya adalah musuh bebuyutan. Sikap mereka bahkan hampir mendekati mirip jika dibandingkan; sama-sama keras kepala, suka main tangan dan ingin menang sendiri. Sampai pada suatu ketika, kedua Alpha itu mengalami siklus Rut secara bersamaan dan ent...
