Kendaraan beroda dua itu berhenti tepat di depan pagar yang menjulang tinggi. Jeno menapakkan salah satu kakinya seraya berpegangan pada bagian belakang motor manakala kakinya terasa begitu menyakitkan. Dirasa sudah sepenuhnya bisa berdiri tanpa harus berpegangan, Jeno mengucap terima kasih kepada Jaehyun sebab telah mengantarnya.
Namun, baru sejengkal langkah Jeno berjalan, dirinya hampir saja kembali ambruk jika Jaehyun tidak lekas menangkapnya. Jeno mencengkeram lengan Jaehyun. Mendesis sakit. Ia tampak terlihat lemah jika seperti ini. Jika omega yang menolongnya, itu tak masalah. Namun, apabila sesama alpha seperti dirinya, itu cukup memalukan.
"Pagarnya tidak terkunci, kan?" Jaehyun bertanya. Jeno menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
Alpha Jung itu memapah Jeno perlahan-lahan. Tangannya bergerak mendorong pintu pagar yang tak terkunci. Jeno menjadi tidak enak karena harus merepotkan Jaehyun. Sudah mengantar pulang, membawanya agar bisa sampai ke dalam rumah pula.
"Terima kasih, h-hyung," ucap Jeno setiba mereka di dalam rumah. Jeno di dudukkan di kursi sofa.
"Tidak masalah. Kalau begitu, aku akan pergi. Cepat sembuh." Jaehyun pamit setelah mendapat anggukan dari sang tuan rumah.
Dari luar sana, Jeno dapat mendengar suara motor Jaehyun yang menyala, tapi itu tak bertahan lama. Setelah suara motor Jaehyun menghilang, Jeno menepuk kepalanya berulang kali. Ia sedang memikirkan rasa malunya ketika bertemu dengan Jaehyun lagi. Bagaimana jika ia bertemu disaat salah satu anggotanya atau anggota musuh bebuyutannya berulah? Disaat berkelahi, lalu Jaehyun ikutserta yang justru malah menjadi lawan bertarungnya? Bukankah itu semua tampak seperti tak tahu berterima kasih?
"Seharusnya aku tidak menerima tawarannya. Aku tidak sudi berbalas budi dengan siapapun. Ini akan menjadi semakin rumit."
Tapi mau dikata bagaimana, nasi sudah menjadi bubur. Jeno tak mau memikirkan hal ini dulu. Ia memikirkan kakinya yang mengapa tak menunjukkan adanya regenerasi pemulihan.
"Kau yang membuatku malu!" gerutu Jeno sembari memandang sengit kaki kanannya yang terdapat luka setelah menarik sampai ke lutut celana sekolahnya.
ㅡㅡㅡ
Dering ponsel mengagetkan empunya yang sedang memberi makan kucing peliharaannya. Lekas Jeno pun berdiri, meraih benda pipih yang berbunyi, memeriksa siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Ternyata oh ternyata, satu-satunya omega di kelompoknya, Huang Renjun. Jeno segera menarik ikon hijau guna menyambungkan panggilan.
"Halㅡ"
"Jeno, kau jatuh dari motor?!"
Jeno menutup kedua matanya dengan tangan menjauhkan smartphone dari telinga. Omega Huang itu berteriak tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Gendang telinganya hampir saja pecah jika Jeno tak bergerak cepat menjauhkan ponselnya.
"Jangan berteriak. Iya, benar, aku jatuh dari motor selepas pulang sekolah. Tidak perlu berlebihan, Ren. Sudah menjadi hal biasa pemimpin sepertiku terjatuh."
"Jangan sombong, tuan Lee. Dan katakanlah, apa kau baik-baik saja?"
"Menurutmu? Apakah seseorang yang jatuh dari motor itu akan baik-baik saja?"
"Bukan itu maksudku. Jika kau mendapatkan luka, apakah lukamu sudah meregenerasi? Aku sungguh cemas."
"Tenang saja, aku sudah tidak apa-apa. Regenerasi pada lukaku tak secepat biasanya. Entahlah. Dan mengenai ini, bagaimana kau tahu jika aku jatuh?" Jeno bertanya heran. Pasalnya, Jeno bersumpah hanya ia dan Jaehyun saja pada saat itu. Tak ada orang lain atau pihak ketiga yang mengetahui jika Jeno mengalami kecelakaan. Lantas, bagaimana bisa Renjun tahu? Tidak mungkin Jaehyun mengatakan berita ini kepada Renjun atau anggota kelompoknya.
"Dari Taeyong hyung."
Dari Taeyong hyung? Lalu, darimanakah Taeyong tahu jika dirinya terjatuh?
Jeno terdiam seribu bahasa.
ㅡㅡㅡ
"Jaehyun."
Empunya nama melirik. Sorot dingin dari kedua alat penglihatannya memandang datar si pelaku pemanggilan namanya.
"Persiapkan malam ini, aku membutuhkan lubangmu." Seseorang itu menyeringai sambil memberi kerlingan menggoda.
Jaehyun tak merespons. Hanya diam dengan tangan terkepal menahan amarah. Sosok itu terkekeh renyah. Tahu jikalau alpha Jung itu pastinya tengah menyimpan kemarahan. Namun, Jaehyun tak bisa membantah atau melakukan penyerangan terhadap dirinya.
Orang itu mengusap acak rambut legam Jaehyun. Terakhir, memberi kecupan singkat yang juga tak ditolak oleh si empu
"Sampai jumpa nanti malam, baby boy."
Sosok itu meninggalkan area kafe yang lenggang pengunjung. Menyisakan Jaehyun dengan amarah membeludak seraya mengusap kasar bibirnya hingga memerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha's Sworn Enemy
Fiksi PenggemarKeduanya adalah musuh bebuyutan. Sikap mereka bahkan hampir mendekati mirip jika dibandingkan; sama-sama keras kepala, suka main tangan dan ingin menang sendiri. Sampai pada suatu ketika, kedua Alpha itu mengalami siklus Rut secara bersamaan dan ent...
