Jaehyun membukakan pintu untuk para pekerja yang membantu untuk berbenah hari ini di kafe milik Taeyong. Beberapa tumpukan kardus telah berada di dalam, tinggal dikeluarkan lalu dipasang-pasang. Tapi sebelum itu tampaknya bakal ada renovasi besar-besaran karena rencana yang telah didiskusikan oleh si pemilik kafe itu sendiri, yaitu Taeyong, bagian tembok juga tidak masalah jika ingin diubah.
Pekerjaan dimulai. Para pekerja mulai mengecat ulang tembok yang sebelumnya berwarna cokelat muda menjadi putih gading. Jaehyun menunggu di dapur kafe, tengah membuatkan minuman sekaligus menyiapkan beberapa dessert untuk dinikmati para pekerja itu.
"Duduklah, biar aku yang melanjutkan," titah Taeyong lembut. Dia muncul dari ruangan yang menghubungkan antara dapur ke penyimpanan bahan-bahan.
"Tidak perlu, sebentar lagi selesai."
Taeyong menghela napasnya panjang. Jaehyun sangat keras kepala. Dengan berani, Ia menarik pergelangan Jaehyun, lalu didudukkan di salah satu kursi yang ada di sana. "Dari tadi pagi kau sudah banyak bergerak, giliran aku sekarang. Kau harus beristirahat."
"Tapi aku tidak lel—"
"Menurut, oke?" sela Taeyong disertai usapan lembut di kepala Jaehyun
Netra keduanya saling bertatap. Jaehyun dapat melihat sorot tajam tersebut seolah tak ingin dibantah. Terpaksa Jaehyun pun mengangguk untuk meminimalisir perdebatan terjadi. Ia sedang malas beradu argumen dengan Taeyong, dan kalau boleh jujur sebenarnya Jaehyun juga sedikit lelah.
"Kuenya tinggal dikasih keju, terus minumnya belum aku tambahkan gula," seru Jaehyun ketika Taeyong melangkahkan kakinya ke pantry dapur guna melanjutkan pekerjaannya tadi.
"Baik-baik, aku akan menambahkannya." Taeyong menjawab sembari terkekeh geli.
•••
"Kamu ingin berangkat sekolah?" tanya Jeno menyadari Jaemin masuk ke kamarnya sudah mengenakan jaket.
"Hm, sekaligus mengabsen kehadiranmu kalau kamu belum bisa berangkat. Oh ya, aku membuatkanmu bubur, apa kamu mau makan sekarang sebelum aku pergi?"
Jeno menggeleng. "Aku bisa mengambilnya sendiri. Lebih baik kamu segera berangkat, nanti terlambat."
Jaemin tersenyum lembut. Dia menghampiri Jeno dan mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. Sorotnya menatap teduh paras manis sosok yang telah menjadi pasangannya itu. Jaemin mendekat lebih rapat, kedua tangannya hinggap di pipi Jeno untuk memudahkannya memberi kecupan di kening yang tertutup oleh poni tersebut.
Jeno memejamkan mata merasakan sensasi yang membuat perasaannya menghangkat.
Mereka saling beradu pandang setelah Jaemin menjauhkan jaraknya. Demi Moon Goddess, mengapa Jeno baru menyadari pesona menawan Jaemin saat ini? Jantung Jeno dibuat berdebar-debar tak karuan, rasanya ingin meledak menjadi kepingan-kepingan yang tidak beraturan.
"Aku mencintaimu," ucap Jaemin tiba-tiba.
Tolong, tanyakan keadaan Jeno sekarang!
Semburat merah muda menghiasi kedua pipi semi berisi itu. Pelaku yang membuatnya tersipu hanya terkekeh.
"Aku akan ke sini lagi sepulang sekolah. Hubungi aku kalau kamu menginginkan sesuatu." Jaemin bergegas keluar dari kamar Jeno. Kini tinggallah pemuda itu yang langsung menarik selimut hangatnya sampai ke atas kepala.
•••
Jaemin sampai di sekolah. Dia memarkirkan motornya seperti biasa di tempat yang sudah menjadi patennya.
"Jaemin!"
Dari dalam aula, seseorang berlari menghampirinya. Tanpa berbasa-basi, sosok tersebut menarik Jaemin sedikit menjauh dari area parkiran.
"Mark, kamu ini kenapa?"
Empunya nama sama sekali tidak menggubris barusan yang diserukan Jaemin. Malahan dia memandang Jaemin cemas. "Katakan dengan jujur, apa terjadi sesuatu padamu semalam?"
"Apa maksudmu? Jelas aku bisa berdiri dan berbicara denganmu, jadi apakah sekarang aku sedang terluka?"
"Tidak, tidak, tidak! Semalam, Na Jaemin, semalam! Aku ... J-Jeno ... telepon ... Dongh—"
"Tenanglah, Mark," sela Jaemin. Melihat ekspresi khawatir yang amat kentara di wajah omega di depannya ini, membuat Jaemin bingung. "Aku tidak apa-apa, tenanglah. Lagipula semalam adalah hari di mana aku mengikat pasanganku seutuhnya. Aku tidak ingin membahasnya, kuharap kamu mengerti maksudku."
Mark cengo. Kedua mata bulatnya berkedip beberapa kali dibersamai kerutan di dahinya yang muncul.
Jaemin tertawa geli, lalu menutup mulut Mark yang sedikit terbuka. Lantas Iapun melenggang pergi.
"Na Jaemin sialan! Berhenti, kamu masih harus menjelaskan semuanya padaku!" Mark berlari menyusul Jaemin yang ternyata sudah sangat jauh dengan jaraknya.
•••
Gak ada ide, suerrr!
Maap ngegantung lama, lagi mikirin masa depan soalnya🗿
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha's Sworn Enemy
FanfictionKeduanya adalah musuh bebuyutan. Sikap mereka bahkan hampir mendekati mirip jika dibandingkan; sama-sama keras kepala, suka main tangan dan ingin menang sendiri. Sampai pada suatu ketika, kedua Alpha itu mengalami siklus Rut secara bersamaan dan ent...
