"Bagus kamu sudah berangkat. Ke mana kamu kemarin?" Renjun bersedekap dada menatap Jeno nyalang. Terlebih bak seorang polisi yang tengah menginterogasi seorang tahanan kriminal.
Empu yang ditanyai justru menghela napas. Baru juga Jeno duduk, sungguh.
"Sakit."
Singkat, padat, tapi Renjun marah. Terlihat ekspresi jengkel omega Huang itu yang amat kentara di wajah manisnya.
"Aku sendirian, kamu benar-benar tega. Donghyuck juga tidak berangkat kemarin, dia rut. Lalu kamu ... Ah, Jaemin membawakan surat izin sakitmu, bagaimana bisa?" Lagi, Renjun memandangnya seolah Jeno baru saja melakukan tindak kejahatan berat.
Jeno bertumpu di meja sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Duduklah, Njun."
Renjun tidak benar-benar mematuhi perintah Jeno. Melainkan omega itu menarik kursi di samping tempat duduk Jeno yang masih belum ditempati oleh pemiliknya, lalu duduk merapat pada Jeno.
"Katakan padaku, apa Jaemin yang melakukannya padamu?" tanya Renjun nyaris tak terdengar.
Tapi Jeno mendengarnya, Iapun terdiam. Dengan gerakan putus-putus kepalanya menoleh ke arah Renjun yang saat ini tengah memandangnya dengan raut serius. Tidak ada lagi ekspresi marah, jengkel, ataupun kesal, seperti beberapa menit yang lalu.
"A-Apa maksudmu?"
Renjun mendecak kesal. "Feromonmu tercium seperti milik Jaemin meskipun samar, tapi feromonmu dan feromon Jaemin menyatu. Aku tidak bodoh menyadarinya, Lee Jeno!"
"B-Benarkah?" Jeno sangat takut. Ia takut akan ada yang menyadari lebih banyak daripada Renjun saja yang langsung dapat menebak. Jeno bahkan sudah menyemprotkan penyamar feromon, bagaimana efeknya bisa secepat itu memudar?
"Njun, b-bagaimana ini? Aku tidak membawa parfum."
Bersamaan dengan itu, Jaemin masuk ke dalam kelas. Sorot keduanya bertemu. Namun, Jaemin melihat kekhawatiran pada raut sang kekasih.
Ting!
Jeno bergegas mengecek ponselnya. Sebuah notifikasi pesan dari Jaemin.
Na Jaemin
|Ada apa?
|Apa ada sesuatu yang
mengganggumu?
Feromon kita|
masih menyatu.
Renjun sudah|
mengetahuinya.
|Kamu membawa
penyamar aromanya?
Tidak😭|
Bagaimana ini?|
|Ikuti aku ke gudang
dekat lab biologi
Jeno melirik Jaemin yang sudah berjalan keluar. "Njun, tunggu sebentar," ucapnya berlalu pergi. Tak memberikan kesempatan pada Renjun yang ingin bertanya.
"Hahh, anak itu benar-benar!"
....
Jeno memejamkan mata saat aroma musk masuk ke dalam indra penciumannya. Terasa menyegarkan dan hangat, tidak memabukkan dan terkesan santai. Sangat sesuai untuk menyamarkan feromon yang telah tercampur dengan milik sang kekasih.
Jaemin membantu Jeno menyemprotkan parfum tersebut ke beberapa bagian di tubuhnya.
"Jika ada sesuatu yang tidak bisa kamu atasi, segera katakan padaku, mengerti?"
"Ehm, terima kasih. Aku tertolong."
Jaemin mengacak-acak surai hitam si manis seraya tersenyum penuh kelembutan. "Ya sudah, pergilah terlebih dahulu."
Jeno mengangguk patuh. Dia melangkah meninggalkan Jaemin, sementara Jaemin mengawasi dari belakang. Sudut matanya menangkap pergerakan seseorang yang tengah mengintip dari balik pilar lebar di depan ruang biologi.
"Tutup mulutmu dan lupakan apa yang sudah kamu lihat," perintah Jaemin tegas. Secara tiba-tiba sudah ada di depan pemuda itu.
....
Sejak kejadian Renjun datang ke kafe dan beradu argumen dengan Jaehyun, Taeyong merasa Jaehyun sedang menghindari dirinya dan menciptakan celah pada saat sebelumnya mereka sudah dekat.
Sangat jelas sekali bagaimana alpha Jung itu kerapkali mengikis jarak. Membatasi interaksinya dengan Taeyong, bahkan berpura-pura sibuk padahal pemuda itu tidak sedang melakukan sesuatu.
Pembukaan kafe dengan suasana baru sempat mendatangkan pelanggan yang cukup banyak. Tak hanya di hari pertama saja, beberapa hari ke depan seakan mendapat tip tambahan untuk kinerja kafe, pelanggan tak henti-hentinya terus berdatangan.
Kali ini Jaehyun tengah membuatkan pesanan minuman pelanggan. Di meja belakang, ada Taeyong yang terlihat melamun, bersama adonan tepung yang hanya Taeyong pijat-pijat tak minat.
Jaehyun melirik Taeyong melalui ekor matanya. Namun, tidak ada niatan menegur, Jaehyun justru keluar dari pantry guna mengantarkan pesanan pelanggan.
Sekembalinya ke dapur, Jaehyun pun menyodorkan sebotol air putih di hadapan Taeyong. Empunya memandang botol yang masih tersegel itu dengan pandangan sayu sebelum sorotnya beralih menatap sendu kedua netra yang senantiasa nenyorot tajam itu.
"Apa? Jangan menatapku begitu. Minumlah dan istirahat sana, biar aku lanjutkan pekerjaanmu."
Taeyong masih enggan mengambil botol tersebut, sehingga Jaehyun kemudian meraih tangan Taeyong agar mengambil alih. "Duduklah," titah Jaehyun. Mulai mengeksekusi adonan yang dibuat main-main oleh Taeyong tadi.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
Jaehyun menengok pada Taeyong dibersamai kerutan di dahinya. "Apa maksudmu?"
"Katakan padaku, apa aku melakukan kesalahan? Kamu menjauhiku, Jaehyun."
Gerakan menguleni yang Jaehyun lakukan berhenti. Dia berbalik menghadap Taeyong dengan menampilkan ekspresi datar. "Aku tidak mengerti maksudmu. Mengapa kamu merasa aku menjauhimu?"
"Kamu menjauhiku. Kamu menjauhiku, Jung Jaehyun. Aku tidak tahu apa kesalahanku jika kamu terus mengelak untuk memberitahuku. Kamu tidak seperti Jung Jaehyun yang aku lihat."
"Kamu ingin melihat versiku yang seperti apa lagi? Inilah aku, kamu butuh yang bagaimana lagi?"
Taeyong menaruh botol pemberian Jaehyun dengan kasar di atas meja pantry. Saking kerasnya menghantam meja, botol itu bocor sehingga air di dalamnya menetes keluar. Dia mendorong Jaehyun dan memojokkannya dinding dapur. Sorotnya menajam bak pedang yang siap menebas mangsa. Feromon alpha Lee itupun terasa mengintimidasi, membuat beberapa pelanggan langsung menyadari, terutama para omega. Taeyong tak peduli, karena Ia lebih mementingkan orang di depannya ini.
"Jangan membuatku marah, Jaehyun! Berhenti bertele-tele!"
Jaehyun sama sekali tidak merasa takut oleh sikap Taeyong saat ini. Pemuda itu hanya memandang Taeyong dengan pandangan tenang tak terganggu.
"Aku berbicara sesuai apa yang kamu tanyakan, tapi kamu sendiri yang mempersulit dirimu, lalu salahku di mana? Justru yang berhak marah itu aku, kamu mendorongku, berteriak padaku, dan memerintahku. Pertanyaanku, kamu ini siapa bisa berbuat seenaknya atas diriku?"
Taeyong membisu. Cengkeramannya pada bahu Jaehyun berangsur-angsur melemah.
Ucapan yang terdengar santai tapi memberikan kesan berbeda itu Taeyong terima. Kalimat terakhir Jaehyunlah yang membuat Taeyong seketika membisu tak berdaya.
"Aku keluar."
Taeyong mengeraskan rahang. "Jangan bercanda, Jung Jaehyun!"
Jaehyun memilih menulikan telinga. Dia melepas celemek yang menjadi tanda pengenal pekerja di kafe Taeyong lalu menaruhnya di samping botol air putih yang isinya hampir habis itu.
"Terima kasih sudah menerimaku bekerja di sini, tapi kupikir sebaiknya aku berhenti," ucapnya bersiap pergi. Namun, baru satu langkah, Jaehyun kembali berhenti. "Dan satu lagi, hapuslah perasaanmu. Tidak ada hubungan antara alpha dan alpha, kecuali kamu ingin melihat satu diantara kita mati."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha's Sworn Enemy
FanfictionKeduanya adalah musuh bebuyutan. Sikap mereka bahkan hampir mendekati mirip jika dibandingkan; sama-sama keras kepala, suka main tangan dan ingin menang sendiri. Sampai pada suatu ketika, kedua Alpha itu mengalami siklus Rut secara bersamaan dan ent...
