Chapter 23

11.5K 793 39
                                        

"Sudah lebih baik?"

"Masih sedikit mual."

Jeno kembali mengoleskan minyak herbal ke belakang kepala Jaemin. Keadaan Jaemin cukup memprihatinkan. Badannya pucat pasi, ditambah berulang kali bolak-balik ke kamar mandi dikarenakan terus muntah. Namun, selalunya cairan bening yang keluar. Hal itu yang menyebabkan Jaemin sangat lemas.

Badan Jaemin juga tidak panas. Lantas apakah yang menyebabkan Jaemin seperti ini? Jeno bingung.

"Aku buatkan bubur, ya?"

Jaemin menggeleng lemah. Dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Mencoba menjernihkan pikirannya saat gejolak mual kembali dirasakannya.

"Na, aku khawatir. Aku panggilkan dokter saja, ya?"

Lagi dan lagi Jaemin menggeleng, menolak tawaran Jeno. "Tidak perlu, Sayang. Biarkan aku tidur sebentar, mungkin nanti jauh lebih baik saat sudah bangun. Aku minta maaf sudah membuatmu cemas, tapi aku baik-baik saja."

"Sungguh?" tanya Jeno memastikan. Ia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban meyakinkan dari Jaemin.

"Iya, Sayang."

"Ya sudah, aku keluar. Kalau kamu masih merasa mual, katakan padaku sesegera mungkin!"

"Hu'um."

Jeno menutup pintu kamar. Membiarkan Jaemin mendapatkan waktu istirahatnya, harap-harap saat bangun nanti sudah mendingan.

....

Brak!

"Hyuck, aku butuh bantuan ... mu ...." Langkah Jeno terhenti pada saat menyaksikan secara tidak langsung adegan pornografi di depan matanya. Dia langsung berbalik badan dengan panik, hendak keluar. Namun, Donghyuck memanggil.

"Tunggu, Jeno! Astaga, kamu ini menganggu sekali!" pekiknya kesal seraya membantu sosok omega yang tak lain tak bukan adalah Mark; salah satu teman sekelompok Jaemin, mengacingkan kemejanya dengan tergesa-gesa.

"Kamu juga tidak tahu tempat! Ada kamar, mengapa melakukannya di sini, sialan?!" balas Jeno tidak terima lantaran disalahkan karena kebiasaannya yang memang kalau datang ke rumah Donghyuck langsung menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kecuali jika pintunya dikunci.

Sebenarnya apa yang Jeno lihat tadi masih dikatakan belum keterlaluan. Karena tadi Donghyuck hanya menyusu saja, tidak sampai ... ya, kamu tahu sendirilah.

"Sudah, kemarilah," ujar Donghyuck pada Jeno, lalu beralih menatap sang pujaan hati. "Honey, kamu mau ke kamar di sini saja?"

Mark melirik Jeno yang terlihat canggung. "Aku ke kamar saja," jawabnya lemah lembut. Beranjak meninggalkan kedua sepasang sahabat itu untuk memberikannya privasi.

"Nah, ada urusan apa lagi kamu ke sini? Baru saja kamu dan Jaemin pergi dari rumahku, sekarang sudah kembali lagi. Apa Jaemin bersamamu? Aku tidak mau dia menyakiti Mark jika sampai kelepasan marah seperti tadi."

"Tck! Sepulang dari sini, Jaemin mendadak muntah-muntah. Aku tidak mengerti ada apa dengan Jaemin. Dia tidak demam, suhu badannya juga normal, tapi dia terus muntah."

Donghyuck mengernyit bingung. "Bagaimana bisa? Dia terlihat sehat bugar sepulang dari sini, mengapa jadi muntah-muntah?" ujarnya heran.

"Kupikir aku tahu penyebabnya," sahut Mark dari ambang pintu kamar. Kedua alpha di ruang tamu itu seketika langsung menoleh ke arahnya.

"Apa?" tanya Jeno.

Mark tersenyum lebar. "Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi kamu perlu ke rumah sakit, lebih tepatnya menemui dokter kandungan," jawabnya lugas.

....

Jeno masuk ke dalam kamar sembari membawakan semangkuk bubur. Ia melihat Jaemin bersandar pada headboard ranjang, dan untuk yang kesekian kalinya dia sempat muntah sehabis bangun tidur tadi.

"Maaf, Sayang, maaf," ucap Jaemin pelan. Ia membuat Jeno bolak-balik ke kamar hanya untuk mengurusnya.

"Kamu makin parah, sebaiknya aku menelepon dokter. Kamu jangan menolak, aku benar-benar takut terjadi hal buruk padamu Na," ucapnya sembari menyuapi Jaemin.

"Eumhh ...."

"E-Eh, ada apa? Buburnya masih panas?"

Jaemin menggeleng. Senyumnya berusaha diperlihatkan meski lebih ke meringis. "Maaf, buburnya sedikit asin, tapi rasanya pas di lidah. Aku menyukainya," ucap Jaemin hati-hati. Tak ingin membuat Jeno terluka karena ucapannya.

Jeno menyendokkan buburnya ke telapak tangan, kemudian dicicipinya. Baru menyentuh lidah, Jeno langsung menyemburkan butiran lembut itu seraya meringis pedih.

"Ewhh, ssssh ... sedikit dari mananya? Ini sangat asin, Na. Astaga, aku minta maaf. Aku akan membuatnya ulang."

Jaemin mencengkal pergelangan Jeno, ingin Jeno tidak pergi ke mana-mana. Tangan kirinya mengambil mangkuk di meja yang bersebelahan dengan tempat tidur, lalu menyodorkannya pada Jeno.

"Apapun yang kamu masak dengan susah payah, aku akan memakannya. Ayo, suapi aku lagi. Aku yakin habis ini pasti langsung sembuh," tuturnya berusaha menghibur Jeno.

"Tapi, buburnya tidak layak dimakan."

"Nyatanya aku ingin disuapi olehmu. Walaupun buburnya asin, sambil lihat kamu, asinnya langsung hilang."

"Jangan membual. Ya sudah, habiskan. Kamu yang minta." Jeno menyuapkan lagi sesendok bubur kepada Jaemin. Bisa dilihat setelah bubur masuk ke dalam mulut, Jaemin terlihat sedikit meringis. Namun, sama sekali tidak melunturkan senyumnya.

Hingga suapan terakhir, semangkuk bubur telah habis dimakan Jaemin. Jeno memberikan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh pemuda itu.

"Sudah lebih baik?"

"Sedikit."

Jeno mengusap sisa air yang ada di atas bibir tipis Jaemin. "Aku tadi ke rumah Donghyuck. Aku hanya ingin minta pendapat soal keadaan kamu ini, dan ternyata ada Mark hyung di sana. Kamu tahu, sejak kapan Donghyuck dan Mark hyung berhubungan? Aku cukup terkejut melihat mereka bersama, padahal sejauh yang aku tahu, sebelum kita bisa sedekat ini, mereka juga tidak ada interaksi apapun."

"Sungguh?"

Jeno mengangguk cepat. Melihat itu membuat Jaemin tak kuasa mengacak-acak surai halus Jeno.

"Mereka memang sudah lama menjalin hubungan, bahkan sebelum kita bersama. Kalau tidak salah mereka sudah berhubungan ketika masalah kita tentang aku yang merebut Eric darimu. Kamu ingat?"

Jeno menepis tangan Jaemin. "Aku masih tidak terima kamu merebut Eric! Dia omega yang sangat cantik, aku bersusah payah mendapatkan hatinya, benar-benar menjaganya sebaik mungkin, tapi kamu datang dan langsung membuatnya selingkuh dariku. Kamu benar-benar keparat, Na Jaemin!" sungut Jeno kesal, tak segan memukul lutut Jaemin, walau pelan. Ia masih dibuat terbayang-bayang oleh peristiwa yang membuat hatinya sangat sakit.

"Itu satu-satunya caraku supaya kamu tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Aku tahu caraku salah untuk mendapatkan perhatianmu, dan aku minta maaf. Tapi sekarang kamu sudah punya mate setampan aku, jadi Eric bukan apa-apa lagi di mata kamu," ujarnya narsis. Menaik-turunkan alisnya dengan penuh percaya diri.

Jeno memutar bola matanya jemu. "Tapi bukan hanya ini yang ingin aku bahas sekarang. Aku memang membicarakan keadaan kamu kepada Donghyuck, tapi Mark hyung menyarankanku untuk menemui dokter kandungan. Jelas aku menolak. Kamu sakit tapi Mark hyung malah memintaku menemui dokter kandungan. Dia benar-benar sudah tidak waras! Dia mengira dokter kandungan bisa memeriksa orang yang sedang sakit kah? Aku tidak habis pikir dengan temanmu itu, Na."

"Bukankah dia mahasiswa jurusan kedokteran? Aku rasa Mark hyung sering membolos saat pelajaran, jadinya dia tidak bisa membedakan tugas dokter biasa dan dokter kandungan. Aku sangat menyayangkan kal—"

"Sayang, kamu hamil!"

"Hahh?!"

....

Nggak ada yang nanya kok book ini jadi update terus, gitu? 🙃

Alpha's Sworn EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang