Chapter 16

17.3K 1K 32
                                        

Pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu dibuka paksa oleh Donghyuck. "Jeno, oh astaga, apa yang terjadi?" pekik Donghyuck panik. "Tidak mungkin 'kan jika rut? Aku bahkan tidak merasakan aromamu menyebar pekat di sini."

Donghyuck menatap Jeno dengan lekat. Gejala ini ... Donghyuck seperti pernah melihatnya, tetapi Donghyuck lupa di mana. Sungguh, Donghyuck seakan-akan mengalami dejavu hanya dengan menyaksikan keadaan Jeno.

"J-Jaemin ...."

Gumaman Jeno berhasil menyadarkan Donghyuck. Pemuda berjaket kulit berwarna hitam itu merendahkan sedikit badannya untuk mendengarkan lebih jelas apa yang Jeno gumamkan barusan. "Apa? Apa yang kau katakan?"

"Ja-Jaemin, H-Hyuck ... aku menginginkan Jaemin ...." Tangis alpha Lee itu pecah. Donghyuck dapat melihat wajah Jeno telah memerah. Begitu telapak tangannya menyentuh kening sang sahabat, Ia terkejut merasakan panas yang tak biasa layaknya suhu tubuh normal pada umumnya.

Donghyuck kembali menegakkan badannya. Kini pemuda itu mengeluarkan ponsel pintarnya dan segera menghubungi seseorang.

"Sayang, apa Jaemin bersamamu?"

"...."

"Tidak-tidak! Ini lebih genting daripada mencari gara-gara dengan ketuamu. Katakan padanya untuk segera datang ke rumah Jeno. Sekarang."

"...."

"Aku mencintaimu juga, Manis," ujar Donghyuck mengakhiri sambungan telepon. "Aih, sialan. Apa yang terjadi padamu, Lee Jeno?" Donghyuck kembali memandang Jeno yang masih dalam keadaan menangis histeris.

•••

"Apa yang terjadi?"

Sosok pemuda bersurai hitam legam itu tanpa babibu langsung masuk ke dalam kamar Jeno. Ia menghampiri tempat tidur, di mana ada Jeno yang tengah terbaring dengan gelisah. Di samping ranjang, terdapat Donghyuck yang memandangnya sengit, sarat akan permusuhan diantara kedua kelompok mereka yang saling tidak akur.

Jeno, pemuda itu menyadari adanya aroma milik Jaemin lantas membuka kedua matanya. Tatapannya sedikit memburam, tapi Jeno tahu kalau orang ke tiga yang bersamanya selain Donghyuck kini adalah sosok Jaemin.

Dengan rasa sakit menjalar di seluruh tubuh—terkhususnya bagian kepala, Jeno memaksakan diri untuk bangun. Tanpa aba-aba, dirinya pun berhambur ke dalam pelukan alpha Na yang dengan sigap langsung menangkapnya meski sedikit limbung akibat tubrukan tubuh Jeno yang sedikit mendorongnya ke belakang.

"A-Alpha ...." Jeno bergumam pelan. Wajahnya menelusup masuk ke ceruk leher Jaemin dan menghirup dalam-dalam bagian kelenjar feromon milik alpha itu. Rasanya menenangkan. Jeno tak tahan dengan aromanya lantaran tercium begitu damai.

Donghyuck menutup hidungnya dengan segera. Damn, his pheromon. Ia mengumpat dan buru-buru meninggalkan kamar yang terasa berubah sedikit tidak enak.

"Aku menyerahkannya padamu, tapi jika kau melakukan sesuatu yang buruk pada Jeno, aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu!" ancamnya sebelum Ia menutup pintu dari luar.

Jaemin paham, mana mungkin Ia menyakiti Jeno. Pemuda itu dengan perlahan melepaskan pelukan Jeno. Dilihat Jeno menolak melepaskan, membuat Jaemin terkekeh menyaksikan tingkah manja sosok yang tengah memeluknya erat ini.

"Berbaringlah, aku tidak akan ke mana-mana."

Jeno menggeleng. Ia enggan beranjak sedikitpun hanya untuk melepaskan sang alpha. Jaemin kemudian menggendong Jeno dan membawanya ke arah tempat tidur. Pelukan mereka sempat lepas, tapi Jeno yang notabenenya juga seorang alpha seperti dirinya, menarik pergelangan Jaemin hingga pemuda Na itu langsung memasang ancang-ancang agar tidak jatuh menimpa tubuh Jeno.

Jaemin jatuh di atas badan Jeno, tapi tidak sampai menindihnya. Dari jarak sedekat ini, Jaemin bisa melihat dengan leluasa paras cantik yang dimiliki oleh Jeno. Tampak indah dan mempesona.

"Hei, aku jadi terpikirkan kalau kau bukanlah alpha, Lee Jeno," bisik Jaemin jenaka. Jemarinya kini sudah ada di atas pipi putih bersih yang terasa kenyal dan lembut. "Kau pasti omega, 'kan? Kau salah mengira bahwa dirimu alpha. Tidak ada alpha secantik dirimu."

"Alpha ...." Suara Jeno mendayu, memanggil Jaemin dengan sorot sayu yang menggoda.

"Bajingan! Aku tidak bisa merusakmu. Jangan menatapku seperti itu!" Jaemin hendak menyingkir dari atas tubuh Jeno. Namun, dengan cepat Jeno melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jaemin. Kedua tangannya sengaja dikalungkan ke leher sang Alpha, sehingga kini Jaemin terjebak.

"Jeno ... tolong mengertilah. Aku tidak ingin kau semakin membenciku jika aku melakukan hal yang melewati batas. Aku bisa memandangmu pun sudah lebih dari cukup bagiku, tapi kalau kau sampai memaksaku untuk melakukannya, aku tidak ingin berakhir kau menjauh dan membenciku. Cukup ... cukup permusuhan antara kelompok kita, aku tidak mau kau menjadi lawanku. Aku mencintaimu, Lee Jeno, sangat, sangat mencintaimu."

"Kali ini aku berserah diri dengan penuh kesadaran, Na. Se-sentuh aku, Alpha," bisik Jeno menggoda. Bahkan Ia dengan sengaja mengangkat pinggulnya dan menggesekkannya pada kebanggaan alpha Na itu. "Emmhh ...."

"Fuck! Aku tidak akan berhenti meskipun kau meminta!"

•••

Mereka benar-benar melakukan hubungan yang seharusnya tidak dilakukan oleh sepasang alpha. Keduanya saling menikmati permainan masing-masing dan mencari titik ternikmat hingga mencapai puncak kenikmatan dunia yang benar-benar membahagiakan perasaan.

Saling menyebut nama satu sama lain, saling menggoda untuk merangsang, hingga saling bergantian untuk memuaskan hasrat yang membumbung tinggi.

Jaemin dengan bengis mengobrak-abrik kenikmatan Jeno menggunakan kebanggaannya yang tengah dijepit kuat. Menambah sensasi panas dan nikmat bersamaan sembari saling bertautan tangan. Mereka seolah bermandikan keringat, tapi tak menghentikan permainan yang dimulai dari langit masih terang hingga telah berganti gelap.

Jeno medesah lirih dari bawah. Titik nikmatnya berulang kali mendapat sentuhan bertubi-tubi dari benda besar yang tengah bersarang di bawah. Terus bergerak keluar masuk dengan tempo cepat hingga membuatnya berulang kali menumpahkan ejakulasinya dengan sangat banyak.

Keduanya terus bermain tanpa kenal lelah. Berulang kali pula Jaemin menyemburkan cairannya di dalam, dibersamai berbagai posisi yang telah mereka jajal di beberapa jam selama berolahraga ranjang.

Sebelum mengakhiri kegiatan mereka, Jaemin mendekatkan wajahnya ke leher Jeno. Ia menghirup aroma yang membuatnya hilang kendali itu. Aroma lavender milik Jeno mampu menenangkan pikirannya. Jaemin sedikit menjilat leher tersebut, kemudian langsung menggigitnya tepat pada kelenjer feromon Jeno menggunakan taringnya. Jeno memekik, berteriak penuh kesakitan.

Apa yang dilakukan Jaemin? Dia melakukan bonding dengannya? Pikir Jeno begitu. Air matanya berjatuhan. Sungguh, rasanya sakit sekali. Rasa sakitnya membuat Jeno hampir kehilangan kesadaran.

Jaemin menyudahi itu. Ia menjilat bekas darah yang keluar akibat gigitannya. Ia menatap Jeno dengan bekas air mata tampak seribu kali lebih mempesona. Jaemin pun mencium kening Jeno lama sembari mengusap lembut leher Jeno yang kini meninggalkan sebuah tanda bunga tulip mekar yang tampak indah meskipun tanda itu tak terlalu besar.

Mereka kemudian berpelukan. Jeno menjadikan lengan bisep Jaemin sebagai bantal, sementara dirinya memeluk tubuh telanjang Jaemin. Alpha Na itu mengusap-usap punggung Jeno, membantu si manis agar terlelap setelah permainan panjang mereka yang menghabiskan banyak energi.

"Maaf aku menyakitimu." Jaemin membubuhkan kecupan ke kening Jeno lagi. Kini, Jeno menjadi miliknya, satu-satunya yang menjadi pendamping hidup Jaemin selamanya.

•••

Jan ngadi-ngadi, ane kagak bisa buat NC🗿

Kalo ada yang protes, ane tabok online, sumpah🗿

Alpha's Sworn EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang