Mereka hanya ingin bertahan hidup.
WARNING! This story's about dystopia city. May include horror, violence, blood, and many things that not suitable for children under 18th. [Minimal romantic scene]
Starring:
NCT Jaemin & Renjun, as the main charact...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pemuda bersurai coklat itu membuka sebuah pintu yang mengantarkannya pada sebuah tempat yang tak bisa dibilang besar. Di dalamnya berisi beberapa kursi kayu dan sofa usang. Di tengah lingkaran kursi itu, berdiri meja kayu yang nampak canggung dipadupadankan dengan semua benda di sana. Bukan karena kakinya yang hampir patah satu, atau materialnya yang terbuat dari marmer tiruan yang nyaris retak di mana-mana, namun karena sebentang kain rajut yang melapisi bagian atasnya.
Tidak masalah sebenarnya, hanya jika warnanya bukan kuning cerah yang menuai protesan dari banyak orang yang pernah masuk ke ruangan itu. Warna yang begitu kontras di mata mereka yang terbiasa menikmati nuansa suram.
Chenle, pemuda yang baru saja membuka pintu masuk tak absen mengerutkan mata setiap memandang satu-satunya benda berwarna terang di ruangan itu. Meski setiap pekan dia mengunjungi tempat ini selama tiga tahun belakangan, dia tak pernah terbiasa dengan warnanya yang sedikit membuat heran pendatang.
Setelah menutup pintu, segera dia menaruh kantong plastik berisi beberapa bungkus makanan ringan yang sempat dibelinya di atas meja.
"Ren," Panggilnya saat menemukan satu sosok di dalam ruangan. Panggilan itu disambut keheningan meski orang yang dia panggil tengah duduk di salah satu sofa menghadap jendela tak jauh darinya.
Pemuda bersurai gelap itu, Renjun, sudah berada di tempat ketika dia datang satu jam lalu.
Chenle yang pada dasarnya tak bisa diam berulang kali melontarkan tanya yang hanya dibalas seadanya. Dia lekas tahu jika pemuda di hadapannya itu sedang melamun. Karena berpikir jika Renjun tengah membutuhkan waktu sendiri, jadi dengan penuh kepekaan Chenle memutuskan untuk keluar jalan-jalan sebentar dan membeli beberapa cemilan sebelum yang lain datang.
Tapi lihatlah, satu jam kemudian ketika dia kembali orang bernama Renjun ini masih dalam keadaan yang sama; menatap kosong entah kemana dan melamun yang entah juga memikirkan apa. Hal yang tak biasa, mengingat Renjun jarang sekali menghabiskan waktu untuk berdiam diri.
Chenle mengedikkan bahu. Keberadaannya dianggurkan lagi. Daripada dia bicara dengan angin, lebih baik dia bermain game saja. Dia sedang ingin menaikkan level dengan menaklukan salah satu dungeon yang memang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Dia menyamankan diri di kursi tak jauh dari Renjun dan segera log in pada permainan.
Detik demi detik berlalu. Beberapa menit lagi pukul sepuluh malam dan guilt nya hampir memenangkan pertandingan. Teriakan dan sorakan nya bahkan sudah mengudara ketika akhirnya kemenangan berhasil mereka dapat. Dia baru ingin mengecek reward apa yang mereka peroleh ketika pintu terbuka dari luar. Seorang pria tinggi masuk ke dalam dan mendudukkan diri di sampingnya. Junhui.
"Kenapa anak kecil itu?" Tanyanya ketika melihat Renjun yang tak bergeming sambil menatap jendela kecil yang tertanam di dinding. Lebih heran lagi karena Renjun tak meledak setelah Ia katai demikian.