06 : Love Me Like You Do

474 53 19
                                        

Pagi datang, tapi tak membawa kehangatan.

Matahari memanjat jendela apartemen perlahan, namun sinarnya yang hangat tak sanggup menembus dinginnya udara di dalam kamar Perth. Lelaki itu masih memunggungi dunia. Tubuhnya terbaring menyamping, selimut menutup tubuhnya sampai ke dagu, tapi tak mampu menghalau gigil yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri.

Ia belum tidur.

Malam tadi dia hanya berganti posisi puluhan kali, berperang dengan pikirannya sendiri. Setiap kali matanya terpejam, bayangan pria-pria asing itu datang. Setiap kali dia menarik napas, rasanya sesak seperti tenggelam. Dan setiap kali dia mengingat Meen, jantungnya berdetak terlalu keras sampai-sampai dia ingin mencabutnya dari dadanya.

Perth tidak ingin bicara. Tidak ingin melihat Meen. Tidak ingin disentuh.

Pintu kamar mandi diketuk pelan dari luar. Sekali. Dua kali.

"Perth... sudah pagi. Hari ini jadwal terapi jam sepuluh," suara Meen terdengar tenang. Terlalu tenang. Seolah semalam tidak terjadi apapun.

Tidak ada balasan dari dalam kamar.

"Kalau kamu tidak mau sarapan... setidaknya minum dulu obatmu. Kakak taruh di depan pintu."

Langkah kaki Meen menjauh, suara sendalnya menghilang. Perth menunggu beberapa menit sebelum akhirnya membuka pintu perlahan. Matanya sembab. Tatapannya kosong. Dia mengambil botol air dan obat itu, lalu menutup pintu lagi tanpa suara.

Bibirnya bergetar, tapi bukan karena emosi. Karena tubuhnya sudah terlalu lelah. Ia tak tahu lagi harus merasa apa. Sakit? Marah? Sedih? Sudah terlalu banyak. Sudah terlalu penuh.

Dia tidak ingin ikut terapi hari ini.

Tapi dia tahu, kalau dia tidak pergi, Meen akan kembali mengurungnya. Atau lebih buruk: menyentuhnya. Maka meski berat, Perth tetap bersiap. Mandi sekadarnya. Menyisir rambut seadanya. Mengenakan pakaian tanpa benar-benar melihat apa yang dia kenakan. Lalu keluar kamar tanpa menatap Meen sama sekali.

Meen berdiri di ruang tengah. Wajahnya cemas namun ditutupi oleh senyum paksa. Dia memegang jaket Perth yang akan dibawa ke luar. Tapi Perth hanya berjalan melewatinya.

"Perth, jaketmu... di luar dingin."

Lelaki itu tidak menggubris. Dia membuka pintu sendiri. Tidak meminta izin. Tidak menunggu Meen. Dia bahkan tidak peduli apakah Meen mengikutinya atau tidak.

Mereka naik mobil bersama, duduk berdua dalam diam. Radio mobil hanya mengisi kehampaan. Perth menatap keluar jendela selama perjalanan, tangannya terkepal di atas paha, menahan gelisah dan muak.

Sesampainya di klinik, Meen hendak ikut masuk ke ruang terapi.

"Sendiri." Ucap Perth tanpa menoleh. Satu kata dingin yang membuat langkah Meen terhenti.

Dokter Yai membiarkan Perth masuk tanpa paksaan. Tatapan Yai lembut, namun tidak memanjakan. Dia menunggu sampai Perth duduk, lalu memulai dengan kalimat ringan.

"Selamat pagi, Perth. Senang melihatmu datang lagi hari ini."

Perth tidak menjawab.

"Aku dengar kamu tidak tidur tadi malam?"

Masih diam.

"Tidak apa-apa kalau belum siap bicara. Kita duduk diam saja juga tidak apa-apa hari ini."

Perth menunduk. Rahangnya menegang. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Saya mimpi...," ucapnya pelan.

Yai mengangguk, mendengarkan.

The Unconditionally - The EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang