Detak ke Empat Belas

325 37 0
                                        

>><<

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

>><<

"Perasaan terkadang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata saja. Tapi, ada banyak cara untuk mengungkapkannya, tak dengan kata hatipun sudah bisa membaca perasaan yang begitu nyata."
>

><<

 Di suatu malam, Ai duduk di meja belajarnya yang penuh oleh kertas-kertas, pensil,  peralatan menggambar digital; tablet dan pulpennya, serta sebuah buku berjudul Don't Take My Beat  karya Kamura yang tidak lain adalah Kazuto Himura

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di suatu malam, Ai duduk di meja belajarnya yang penuh oleh kertas-kertas, pensil,  peralatan menggambar digital; tablet dan pulpennya, serta sebuah buku berjudul Don't Take My Beat  karya Kamura yang tidak lain adalah Kazuto Himura.

Setelah menamatkan membaca perjalanan Kazu yang di ratusan lembar penuh rasa dan kata, Ai pun tidak bisa tidak meluapkan apa yang ada dipikirannya sekarang. Selain melanjutkan serial komiknya yang berjudul Blue and Bliss, Ai juga berencana membuat satu kisah pendek berdasarkan sepenggal isi dari buku yang dia pinjam dari Kazu.

Seperti yang pernah Ai niatkan, dia ingin memperlihatkan kisah Kazu yang luput dari pandangan Benji. Meski Ai tahu, hubungan Kazu dan Benji bukan urusannya, tapi dia memiliki harapan, jika  suatu saat nanti, Benji bisa membuka diri kemudian memperbaiki pertemannya dengan Kazu.

Ai yang sudah beberapa tahun dekat dengan Benji, tentu tahu dan yakin, jika Benji sebenarnya membutuhkan teman sebaik Kazu.

Ai sangat mengingat kata-kata Kazu saat itu. Kalimat yang tidak sederhana dan sarat akan makna, ketika Ai bertanya tentang pertemanannya dengan  Benji.

Dari obrolan itu, Ai bisa melihat siapa Kazu untuk Benji. Kazu bukan hanya rival yang membuat Benji terus berjuang maju, tapi juga seseorang yang menunjukkan bahwa daripada membandingkan diri sendiri dengan orang lain, akan lebih baik jika melihat ke dalam diri karena disana ada potensi besar yang tidak orang lain miliki. Namun, sekali lagi, Benji belum melihat maksud Kazu yang itu. Karenanya, melalui gambar, Ai ingin Benji mengerti dan berharap jika karya kecilnya yang tulus ini, bisa menjadi penghubung pertemanan Kazu serta Benji.

Berhari-hari berkutat antara belajar dan menggambar, Ai tidak sadar jika waktu berlalu dengan sangat cepat. Tanpa terasa, jam di tabletnya menunjukkan sudah lewat tengah malam. Ai pun meregangkan kedua tangannya lalu menyimpan karyanya sebelum meletakkan penanya.

Limit Beat Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang