Detak ke Delapan Belas

244 33 14
                                        

Nah, loh tak kasih bonus satu lagi! Biar kalian tidak ngambek sama Minvan.

"Ada banyak drama dan cerita di dunia,Luka dan bahagia,Keceriaan juga kesedihan yang berdampingan,Hanya, kadang, bagaimana melewatinya?Bagaimana merangkul dan menerimanya?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ada banyak drama dan cerita di dunia,
Luka dan bahagia,
Keceriaan juga kesedihan yang berdampingan,
Hanya, kadang, bagaimana melewatinya?
Bagaimana merangkul dan menerimanya?"

"Ada banyak drama dan cerita di dunia,Luka dan bahagia,Keceriaan juga kesedihan yang berdampingan,Hanya, kadang, bagaimana melewatinya?Bagaimana merangkul dan menerimanya?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sampai di bangsal Kazu, Kenzi membantu saudara kembarnya itu naik ke ranjangnya dan melihat saat sesekali Kazu meringis memegangi dadanya. "Are you okay, Kaz?" 

"I'm okay," balas Kazu menatap Kenzi. "Gue terlalu seneng aja bisa ketemu sama lo." 

Sementara Kazu dan Kenzi mengobrol, Ai terus mengamati mereka dari ambang pintu kamar rawat Kazu.

"Tuh cewek siapa sih?" Kenzi mengerling ke arah Ai. "Pacar lo? Ngekor mulu dari tadi." 

Mendengar nada ketus yang terus Kenzi tunjukkan padanya, Ai pun menaikkan sebelah alisnya kesal lalu melangkah masuk. 

"Kazu," panggil Ai di ujung ranjang Kazu. "Kok aku nggak yakin sih dia itu saudara kamu." 

"Hah? Terus, lo pikir, gue lahir dari batu gitu?! Ngadi-ngadi nih cewek!"

Melihat adu pendapat antara saudara kembarnya dengan Ai yang membuat suasana ruangan menjadi lebih warna-warni, membuat Kazu pun terkekeh, "Aku juga sebenernya nggak yakin, Ai, tapi mau gimana lagi, akte kelahirannya sama.

Ai memicingkan mata, memindai Kenzi dan memberitahu Kazu, "Kalau dari kacamata pengamat tokoh dongeng ya, Kaz, dia ini lebih mirip kayak serigala yang diam-diam keluar dari pintu gelap terus suka makan anak-anak domba gitu."

"Sembarangan lo!" sungut Kenzi tidak mau kalah. "Asal lo tahu, dari pada serigala yang lo sebut pemakan domba, gue tuh lebih tepatnya Pangeran dari negeri matahari terbit." 

"Hah, iya, iya, percaya," balas Ai sambil memutar bola matanya. "Matahari terbit yang terus bakar rambut kamu jadi kuning gitu ya, Ken?" Ai kemudian beralih pada Kazu untuk mendapat dukungan. "Ya nggak, Kaz?"

Lagi-lagi, Kazu terkekeh lalu mengangguk, "Iya." 

Sementara Kenzi berdecak sebal pada Ai yang menaikkan dagu sambil menyunggingkan senyum miring, Kazu yang awalnya tersenyum mendadak berdeguk dan mengernyit memegangi dadanya yang terasa seperti dirajam ribuan pisau.

Limit Beat Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang