Jernihnya air,
Jantung yang berdegup,
Serta senyum penuh arti
Di olimpiade renang antar sekolah menengah, SMA Bougainvillea kembali mengirim dua perwakilan mereka yang selalu bersaing, Kazuto si cowok keturunan Jepang dan Benji si Pangeran Ambisius...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Harapan tak semestinya ada pada manusia, harapan seharusnya hanya untuk Yang Maha Kuasa. Karena menaruh harapan pada manusia hanya akan mendatangkan kecewa."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk pertama kalinya sepulang sekolah, Kazu tampak terburu membereskan buku serta alat tulisnya dan menyandang ransel di bahu kanan. "Selle," kata Kazu sebelum melangkah keluar kelas. "Gue duluan ya? Inget, langsung pulang jangan keluyuran!"
Belum sempat Selene membalas, Kazu sudah menghilang di balik pintu dan berjalan menuju lift. Sambil mengatur napas, dia tidak bisa tidak ingat hari ini dia memiliki janji dengan Ai. Sesuai kesepakatan antara dia dan Ai, mereka memutuskan untuk mengganti kunjungan ke galeri seni yang gagal waktu itu dengan mengunjungi Atlantis. Meski awalnya Kazu sempat ragu, namun, melihat antusiasme serta binar permohonan di mata Ai, Kazu pun akhirnya menyetujui.
Ketika Kazu hendak berjalan melewati gerbang, ekor matanya menangkap sosok Ai yang duduk menunggu di sebuah bangku beton di samping kanannya. "Ai," panggil Kazu dan menghampiri Ai. "Kamu udah lama nunggunya?"
"Nggak juga," jawab Ai sambil beranjak berdiri di depan Kazu. "Tadi Benji sempat telpon, mau ajak aku pulang bareng, tapi aku bohong. Oh, iya, ini," Ai memberikan paper bag berisi blazer milik Kazu yang pernah dia pinjam. "Sebenarnya, aku juga mau tur Bougainvillea lagi, tapi Atlantis jauh lebih menggoda hari ini. Jadi, yuk cabut, sebelum Benji lihat aku!"
"Naik mobil aku nggak apa-apa kan?" Kazu mengangkat tangannya, menunjuk pada Alphard hitam yang parkir tidak jauh dari mereka, yang kemudian melaju ke arah mereka. "Mas Andra," ucap Kazu saat jendela pintu pengemudi perlahan diturunkan. "Kita mampir ke Atlantis dulu ya?"
Andra–orang yang dipercaya oleh orang tua Kazu untuk menjaganya–tampak ragu.
"Plis, Mas, sekali aja, janji." Kazu melirik pada Ai yang berdiri di belakangnya. "We'll be fine."
Andra menatap Kazu dan Ai bergantian kemudian mengangguk.
Kazu mengucapkan thanks tanpa suara lalu membuka pintu penumpang, "Masuk, Ai."
Ai mengangguk dan mengikuti Kazu duduk di kursi belakang. Setelah pintu terkunci, Andra memutar kemudi dan melajukan mobil ke jalanan menuju utara.
Selama perjalanan menuju Atlantis, Ai memperkenalkan dirinya pada Andra. Dengan pembawaannya yang riang, Ai menjadi satu-satunya membangun obrolan dan tidak hentinya berceloteh. Dia tidak hanya berbicara dengan Kazu, tapi juga Andra–meski Ai hanya berbasa-basi dengan Andra. Karena suasana ceria yang dibangun oleh Ai, waktu seakan berjalan lebih cepat hingga tidak terasa, mereka telah memasuki salah satu daerah wisata terkenal di Ibu Kota.