Jernihnya air,
Jantung yang berdegup,
Serta senyum penuh arti
Di olimpiade renang antar sekolah menengah, SMA Bougainvillea kembali mengirim dua perwakilan mereka yang selalu bersaing, Kazuto si cowok keturunan Jepang dan Benji si Pangeran Ambisius...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sedih yang tidak bisa diungkapkan dalam tangis, Kesal yang tidak bisa diteriakkan dalam hati, Ketika mengetahui seseorang yang terkasih pergi,"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bisikan yang dikatakan Andra di telinga Kazu tempo hari saat dia tengah berada di meja yang dikelilingi oleh Ai beserta teman-temannya dan Benji, sebenarnya merupakan sebuah kebohongan–paling tidak, setengahnya, seperti yang dia ucapkan pada Ai serta orang-orang di sana. Kebenarannya, Kazu tidak akan terbang ke negara yang terkenal oleh patung Merlion itu, melainkan ke negara yang berbeda benua dengannya.
"Sudah semua kan, nggak ada yang tertinggal?" tanya Aiko memastikan barang-barang milik Kazu sudah tidak ada yang tertinggal.
"Udah, Ma." jawab Kazu lemas, mengingat dia harus kembali meninggalkan banyak hal di belakangnya.
"Ya udah, ayo! Selene udah nunggu di luar," ajak Aiko lalu menggiring putranya keluar dari rumah.
"Harus banget ya, Ma, kita pergi lagi?"
Sejujurnya, Kazu masih belum siap dengan segala hal termasuk meninggalkan orang-orang yang sudah menjadi orang yang penting dalam hidupnya.
"Kaz, ini demi kebaikan kamu," kali ini, Guntur yang berbicara. Dia menatap putranya dan mencoba menjelaskan betapa sayangnya mereka kepada Kazu. "Nanti, setelah semuanya, kamu bisa bertemu teman-teman kamu lagi. Terus, Selene juga bakal sering main kesana."
"Kalau kali ini Kazu nggak bisa selamat? Apa Mama sama Papa masih tetap berusaha bawa Kazu pergi?" tanya Kazu, suaranya bergetar.
"Kazuto, I promise, you will be fine. Kita melakukan ini agar kamu bisa sembuh. Plis sayang, kamu sayang sama Mama, kan?" Aiko menangkup wajah putranya yang mengalihkan pandangan–seakan enggan menatapnya.
"Kazu sayang Mama," bisik Kazu dan mendapatkan pelukan erat dari Aiko.
Kemudian, saat mereka mereka sudah keluar dari rumah besar itu, di depan teras, berdiri Selene yang sedari tadi menunggu.
Cewek itu segera menghampiri Kazu dan membuka kedua lengannya, meminta pada Kazu dengan jurus puppy eyes-nya, "Hug me, please?"
Kazu terkekeh dan bergerak untuk memeluk Selene. "Baik-baik, ya! Jangan nakal dan jangan berantem mulu sama Benji," pesan Kazu.