Detak ke Enam Belas

414 50 27
                                        

Selamat semuanya, masih ada yang inget Kazu nggak nih?

Maaf ya, baru bisa update lagi. Semoga setelah ini bisa lebih rajin lagi, amiin.

Oke, yuk capcus ke storynya!

"Kegagalan dalam menjaga satu hal menjadi kelalaian yang terkadang tidak disadari bahwa setiap saat apa yang terencana bisa porak poranda dalam sekejap saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kegagalan dalam menjaga satu hal menjadi kelalaian yang terkadang tidak disadari bahwa setiap saat apa yang terencana bisa porak poranda dalam sekejap saja."

Kazu meremas dua tangannya yang tidak hentinya gemetar dan berkeringat, sesekali, dia menoleh ke sebuah pintu gawat darurat yang tertutup rapat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kazu meremas dua tangannya yang tidak hentinya gemetar dan berkeringat, sesekali, dia menoleh ke sebuah pintu gawat darurat yang tertutup rapat. Berkali-kali, dia merutuk dalam pikirannya, seharusnya dia bisa menjaga Ai dan tidak membiarkannya kelelahan.

Kazu menarik napas berat dan mengernyit saat terlintas dalam ingatannya, bagaimana Ai yang tiba-tiba terjatuh. Entah mengapa, melihat orang yang dikasihinya terkulai di pangkuannya terasa begitu menyesakkan, jantungnya seakan diremas yang kemudian mengirimkan rasa sakit di dadanya.

Kazu menunduk, napasnya mulai memburu, namun dia tetap tidak ingin beranjak satu senti pun, sebelum Erian-dokter yang menangani Ai-keluar dan memberitahukan keadaan Ai.

"Plis, Ai," bisik Kazu lirih. "Maafin gue," Kazu mengatakan kalimat itu berulang-ulang sampai tidak menyadari setitik air mata menuruni pipinya dan diikuti titik-titik air yang lainnya.

Mendengar derap langkah panik yang mendekat, Kazu mengusap wajahnya dengan tangan dan berusaha mengatur mimik mukanya kemudian mendongak, menatap sepasang suami-istri yang tampak asing yang dia duga adalah kedua orang tua Ai.

Meremas ujung kemeja seragamnya kusut, Kazu memberanikan berdiri untuk kedua orang tua Ai. "Om, tante," kata Kazu dengan nada penuh sesal dan menyalahkan dirinya. "Maafkan saya. Saya udah buat kesalahan. S-seharusnya, s-saya nggak ngajak Ai pergi."

Kedua orang tua Ai mengerling satu sama lain dan kembali menatap Kazu.

"Kamu?" Herman yang pertama kali membuka suara, entah bagaimana, dia curiga, cowok di hadapannya ini yang kala itu sempat membuat janji dengan Ai di galeri.

"Mas," Soraya memperingatkan suaminya dengan menggenggam tangan Herman dan menggeleng, kemudian, dia beralih pada Kazu. "Kamu Kazuto, ya kan?" Soraya memasang senyum ramah. "Temannya Ai."

Limit Beat Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang