-Kau?

609 22 5
                                        

Beberapa bulan kemudian...

Tak terasa Savina menjalani hari-hari dengan keadaan hamil. Perutnya mulai membesar, dan kata dokter kehamilannya memasuki usia tua. Tapi Savina tak khawatir akan hal itu. Dia menjalani hidupnya seolah-olaah seperti biasanya, dia masih bekerja di usia kehamilannya yang tua itu.

"Nyonya, bagaimana perasaan anda akan menjadi seorang ibu? Pasti sangat senang bukan?" tanya asistant yang bekerja di butiknya.

"Hmm biasa saja," sahut Savina datar.

"Aku sangat iri dengan anda yang akan segera menjadi ibu."

"Jangan cepat-cepat menikah. Kehidupan pernikahan tidak seindah yang kalian bayangkan. Tetaplah bekerja dan nikmati masa muda kalian."

"Nyonya, ada kiriman lagi untuk anda," ucap seorang asistant lainnya yang berjalan kearah Savina.

Savina menghela napasnya. Memang, selalu ada pengirim parcel dan bucket bunga tulip kesukaannya setiap tiga hari sekali. Dia tidak tahu siapa orangnya, entahlah Savina juga tidak peduli.

"Apa anda tahu siapa pengirim parcelnya?"

"Entahlah. Mungkin orang yang tidak punya kerjaan."

"Tapi aku rasa suami anda. Dia menyelipkan surat ini."

Savina langsung membaca surat itu.

"Aku merindukanmu Savina."

Namun, Savina langsung meremas surat itu. Ini pasti ulah mantan suaminya yang terus menerornya. Jangan harap Savina memaafkan bajingan itu.

"Sudahlah, aku tidak ingin berhubungan dengan bajingan itu lagi."

"Apa anda tidak mau mencobanya lagi? Aku dengar suami anda sangat tampan."

"Benar, dia sangat tampan. Bukankah dia pewaris dari..."

"Jangan membicarakan dia lagi!" sela Savina cepat.

Memang, para asistannya sudah tahu jika Savina sudah menikah, karena ayah Savina yang memberitahu kepada mereka, dengan alasan agar anak yang dikandung Savina memiliki nama baik di masyarakat, bukan anak hamil yang diluar nikah tanpa suami.

"Nyonya, hari ini ada jadwal USG, setengah jam lagi kita harus sudah disana."

"Sudahlah, aku tidak akan kesana."

"Tapi nyonya, taksi sudah menunggu di depan. Ayah anda.."

"Sebaiknya anda jangan terlalu bekerja keras, karena ini masa masa memasuki persalinan."

"Aku tidak peduli," sahut Savina acuh.

"Nyonya, kali ini dengarlah kami.., kami takut jika..."

Savina menghela napasnya. "Baiklah jika kalian memaksa, aku akan pergi."

Savina dengan malas langsung menaiki taksi yang menunggunya.

"Antarkan aku ke restoran seperti biasanya. Jadwal USG ku bukan hari ini," ucapnya berbohong.

Supir taksi itu tak menjawabnya. Dia melaju mobilnya ke arah jalanan.

Savina memandangi ke arah jalanan. Namun, restoran favoritnya terlewatkan begitu saja.

"Hei, kau tidak dengar aku!"

"Dokter sudah menunggu anda," ucap pria itu dengan nada bariton dibalik maskernya.

"Ah, sial! Kau bukan supir taksi yang biasanya."

Mereka akhirnya sampai di depan rumah sakit. Supir itu tampak aneh memakai topi hitam dan masker hitam.

SavinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang