Jika ingin menangkap ikan, butuh umpan tuk memancing.
✨
🤍
🤍
🤍
🤍
✨
"Misi, Lo yang namanya Rhea, kan?"
Rhea menatap heran seorang lelaki tinggi dengan seragamnya yang rapi. Lelaki itu memakai jas berwana biru tua. Wajahnya manis dan terlihat ramah. "Iya. Kenapa?"
Lelaki itu mengulurkan tangannya mengajak Rhea bersalaman. "Gue Zennith, Ketua OSIS tahun ini." ucapnya memperkenalkan diri. Ia tersenyum lebar sehingga matanya menyipit.
Dengan ragu-ragu Rhea pun akhirnya menerima uluran tangan tersebut. "Rhea." gumamnya. Gadis itu tentu tidak lupa jika hanya Almarhumah bundanya dan Acrux lah yang boleh memanggilnya 'Lea'.
Zennith mengangguk. "Kata Sekretaris gue lo belum milih Ekskul. Bener?"
"Ah ... iya kak. Aku masih bingung." balas Rhea sedikit meringis.
Sebagai Ketua OSIS, Zennith memang sudah terbiasa dengan masalah semacam itu. Tetapi, semua murid memang harus memiliki Ekskul. Jadi dia tidak akan lelah untuk memberikan peringatan dan juga saran pada mereka yang masih bingung akan hal tadi.
"Gak masalah, itu wajar. Lo ada pilihan apa aja?"
Rhea nampak berpikir, gadis itu menengadahkan kepalanya dengan tangan yang memegang dagu mungilnya. Ia berpikir keras. "Mungkin Karawitan atau ... Komputer?"
"Pilih salah satu." titah Zennith. Semuanya sudah diatur semenjak pertama kali OSIS/MPK di bangun. Setiap murid hanya boleh memiliki satu Ekskul Pilihan. Sedangkan pramuka adalah Ekskul Wajib.
"Masih bingung, kak." ucap Rhea pelan.
"Oke." Zennith mengangguk. "Lo ada waktu sampe senin depan. Kalo udah bikin keputusan lo temuin gue di ruang OSIS waktu jam istirahat pertama, ngerti?"
Rhea mengangguk kencang. "Ngerti, kak."
"Lo mau ikutan OSIS?"
"Em ... enggak kak."
Zennith menaikan sebelah alisnya. "Kenapa?"
Rhea menggeleng. "Gapapa kak. Gak mau aja."
Bagi Rhea, menjadi anggota OSIS/MPK itu sangatlah melelahkan. Apalagi ini sekolah yang bagus, pasti ia akan sibuk dengan tugas setiap harinya. Jadi, daripada ia kecapean ... lebih baik ia tidak mengikuti Organisasi itu.
Sebenarnya ia bingung memilih Ekskul karena ia lupa belum bertanya kepada Acrux. Bisa berabe jika ia mengambil keputusan penting tanpa melibatkan lelaki itu.
"Kalo berubah pikiran lo boleh kasih tau gue. Nanti gue bantu. Jadi anggota OSIS itu gak semenyeramkan yang lo pikir, kok. Seru malahan."
Senyuman kaku terpampang di wajah Rhea. "Hehe ... iy-"
Rhea tersentak kaget saat ada tangan besar dan kasar yang menggenggam tangan mungilnya. Ia menatap ke bawah dimana tangannya di genggam erat. Lalu matanya mendongak menatap ke samping kirinya. Mata Rhea membola kaget. "R-rius?"
Acrux tak merespon Rhea, ia hanya melirik sekilas gadis itu. Kini mata tajamnya menatap Zennith. "Dia gak bakal berubah pikiran." ucapnya penuh tekanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LITTLE GIRL
Storie d'AmoreAcrux Sirius, lelaki dingin yang terlihat kuat dan keras itu ternyata memiliki banyak kejadian pahit yang menimpa kehidupannya sejak kecil. Hatinya hampa dan sakit kala secara perlahan satu demi satu orang yang ia sayang meninggalkannya, hingga suat...
