Kamu tau? Hujan kali ini nampak berbeda. Dingin rasanya saat hujan membasuh tangan yang tak bisa lagi berjumpa denganmu.
✨
🤍
🤍
🤍
🤍
✨
Hari sudah hampir senja, manusia yang berbondong-bondong mengantar mayat hingga ke tempat pemakaman sudah pulang sekitar sepuluh menit yang lalu, namun tidak dengan Rhea, Karina, Elio, Izar, Zennith dan kedua orang tuanya.
Rhea terus memeluk batu nisan Acrux dengan tangisan yang tak pernah berhenti, tubuhnya sudah lelah, tetapi ia tidak ingin beranjak sedikitpun.
"Rhea, pulang, yuk?" ajak Cordelia dengan nada yang bergetar. Ia sangat terpukul dengan kepergian anak kandung yang padahal baru beberapa bulan bertemu dengannya.
Kepala Rhea menggeleng lemah. "Lea mau disini. Lea mau nemenin Rius."
"Udah sore, Rhea. Nanti kita kesini lagi, oke?" bujuk Karina. Namun, Rhea masih bersikukuh diam di tempatnya. Mata gadis itu bahkan sudah membengkak saking lamanya menangis, Rhea belum terima Acrux pergi meninggalkannya.
"Rhea, ayo pulang." Zennith ikut bersuara, ia tahu Rhea bersedih. Tetapi, gadis itu juga harus istirahat, sampai kapan Rhea akan memeluk batu nisan Acrux?
Dengan lirih, Rhea pun berkata, "Kalian duluan aja, Lea masih mau disini. Lea kangen sama Rius."
"Gue tau lo sedih, Rhea. Tapi, please! Pulang dulu, istirahat." mohon Karina, ia memegang bahu Rhea dan mencoba untuk mengangkat tubuh Rhea agar duduk, karena gadis itu membaringkan kepalanya di atas tanah basah yang menutupi tubuh Acrux yang berlapiskan kain kafan.
Rhea kembali menangis histeris kala ia mengingat wajah pucat Acrux yang di kubur dengan kain putih dan akhirnya harus tidur di liang lahat. Biasanya Acrux akan tidur di kasur yang empuk, yang lelaki itu beli dengan kerja kerasnya sendiri. Namun sekarang? Lelaki itu harus tidur di tanah yang dingin dan keras.
"Rius ... pulang ke rumah yuk sama Lea. Nanti Lea bikinin makanan kesukaan Rius." gumam Rhea dengan isakan yang tak kunjung hilang. Gadis itu bangkit duduk, tangannya mengusap batu nisan Acrux dengan tatapan yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. "Lea pengen ikut Rius."
"E-eh!" kaget Karina saat tiba-tiba Rhea kembali tergeletak diatas tanah kuburan Acrux.
Zennith yang memang posisinya dekat dengan Rhea langsung mengangkat tubuh kecil nan rapuh itu ke mobil di ikuti Atmaja dan juga Cordelia yang sama sedihnya dan khawatir. Lagi-lagi Rhea pingsan.
Dengan menahan tangisnya karena melihat temannya pingsan, Karina dengan perlahan menghampiri Elio.
Elio langsung memeluk tubuh sepupunya dengan air mata yang kembali mengalir. Kepalanya menengadah dengan mata yang terpejam. Kedua insan yang saling berpelukan itu sama-sama menangis.
Dengan kasar Elio menghapus air matanya, ia mengusap pucuk kepala Karina. "Yok, pulang."
Karina mengangguk dan melepaskan pelukannya. Ia segera pergi dari makam Acrux masih dengan sesenggukan. Sedangkan Elio menatap sendu Izar yang hanya terdiam menatap kuburan Acrux. Lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan menangis pun tidak.
"Zar, pulang."
Dengan nada yang datar dan tatapan yang terkunci pada nisan Acrux, Izar menyahut ucapan Elio. "Duluan."
KAMU SEDANG MEMBACA
LITTLE GIRL
RomansaAcrux Sirius, lelaki dingin yang terlihat kuat dan keras itu ternyata memiliki banyak kejadian pahit yang menimpa kehidupannya sejak kecil. Hatinya hampa dan sakit kala secara perlahan satu demi satu orang yang ia sayang meninggalkannya, hingga suat...
