Ashel pov
Hari ini Chiko bener-bener sudah pergi, entahlah sekarang aku harus senang atau sedih, aku bingung.
Aku terus berjalan menuju mobil, isi kepalaku masih dengan Chiko dan buku diaryku yang hilang, aku yakin buku diary itu pasti tertinggal di mobil Aldo, karena terakhir aku mengeluarkannya di mobil miliknya ,ketika mengambil kotak kado. Bego nya, aku baru menyadarinya subuh tadi,. Aku benar-benar takut ,. Takut jika buku diary itu benar-benar tertinggal di mobil, dan dia membacanya.semua pasti akan selesai
Setelah pulang dari sini, aku akan langsung ke rumah Aldo, karena sejak tadi aku telepon, nomernya tidak bisa di hubungi
Pak dadang mulai menjalankan mobilnya, tiba-tiba ada notif masuk, aku langsung buru-buru membacanya, dan semoga itu chat dari Aldo
Namun tebakanku salah, ternyata itu chat dari grup kelas, aku mulai membacanya ternyata itu pesan dari Oniel, dia memberi tahukan kalau nenek Aldo meninggal dunia, seketika tubuhku lemas, jadi ini alasan kenapa dia tidak bisa di hubungi, aku meminta pak Dadang untuk mempercepat laju mobilnya, aku ingin cepat sampai rumah untuk mengganti pakaian, aku ingin segera menemani Aldo yang pasti dia sedang terpuruk saat ini.
Sekitar 40 menit, akhirnya aku tiba di rumah duka, sudah banyak sekali orang yang datang, aku dan mamah berjalan menyusuri kerumunan orang, ternyata sudah ada Indah, Kathrin di dalam rumah, aku memeluk mereka berdua, aku benar-benar tidak bisa menahan tangis.
Aku datang terlalu lama, hingga tidak sempat melihat wajah nenek untuk terkahir kalinya, karena saat ini jenazah sudah di bawa ke sebuah masjid untuk di sholatkan, pantas saja aku tidak melihat keberadaan Aldo. Aku, Mamah, Indah dan Kathrin menunggu di dekat masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah, dan tak lama Aldo keluar dengan memakai pakaian serba hitam, dia tengah memikul keranda dan berdiri paling depan, dia terlihat tegar namun dari sorot matanya yang sedikit sembab, menandakan kalo dia benar-benar sangat kehilangan salah satu cinta di hidupnya
Kami berempat mulai mengikuti keranda yang akan di bawa ke pemakaman,setibanya di sana Aldo ikut turun dengan 2 orang laki-laki paruh baya untuk membantu mengangangkat jenazah neneknya, untuk dimasukan ke liang lahad
Aku terus memperhatikan dia yang paling sibuk mengurus setiap proses pemakaman, aku semakin kagum sampai akhir hayat neneknya dia masih sangat berbakti sebagai seorang cucu
Aldo kembali naik ke atas, aku segera berdiri di sampingnya, dia sempat menoleh ke arahku sekilas namun kembali dia memfokuskan pandanganya melihat tanah kuburan yang mulai menutupi jenazah neneknya
Tanpa menoleh dia menggenggam tanganku
Aku mengusap punggungnya, ketika dia mulai menitikan air mata,namun pandangannya masih fokus ke depan , sepertinya air mata sudah tidak bisa di tahannya lagi untuk keluar
Ashel Pov end
Sekitar satu jam proses pemakaman selesai, Aldo dan Ashel sudah berada di rumah, Shani sudah kembali pulang,setelah bertemu dengan kedua orang tua Aldo, sementara Arman dan Oniel sedang mengantarkan Indah dan Kathrin pulang, di samping Ashel, Aldo masih terus terdiam dengan tatapan kosong, Ashel mencoba menegurnya beberapa kali namun dia masih melakukan hal yang sama, sampai akhirnya dia meyandarkan tubuhnya di sofa di belakang rumahnya, sementara di dalam rumah, ayah dan ibunya masih sibuk menerima tamu yang melayat
"Maaf ya papah gak bisa dateng dia keburu balik lagi ke jerman,Tapi aku udah chat dia kok, ngasih tau kalo nenek meninggal, sekarang mungkin masih di pesawat, nanti kalo dia udah bales chat, aku kasih tau kamu"
"Iya,
"Kita makan yuk, kamu belum makan kan dari pagi?"
"Aku gak laper"
"Nanti kamu sakit"
"Emang aku udah sakit kok"
"Maksudnya"
"Gak apa-apa"
"Kamu bakalan tetep tinggal di sini?"
"Iya"
"Gak apa-apa sendirian?"
"Gak apa-apa?"
"Gak takut?"
"Aku lebih takut kehilangan kamu Shel"
Mendengar ucapan Aldo, kini Ashel semakin yakin untuk menjaga hubungannya, tanpa ada orang lain di hatinya, bahkan dia akan melupakan Chiko selamanya
"Aku gak bakalan ninggalin kamu Do, aku akan tetap di sini"
"Janji?"
"Aku janji"
Aldo menyandarkan kepalanya di bahu Ashel, dia memejamkan matanya, mencoba melepaskan semua kesedihan dan beban fikirannya hari ini
Cintaku..
Tanpa kalian nyuruh aku lanjut, aku bakalan tetep lanjut up cerita ini, aku tipe orang yang gak mau lama-lama bergelut dalam satu cerita, aku selalu pengen bikin cerita baru lagi..dan lagi, makanya aku selalu berusaha up cerita sehari dua kali atau kalo otak aku lagi encer pasti 3 kali biar ceritanya cepet selesai,
Jadi kalian gak perlu komen "lanjut" Karena tanpa di suruh pun aku bakalan lanjut guys, kalian tenang aja
Aku lebih suka kalian komen sesuai isi cerita yang kalian baca, jujur itu yang bikin aku semangat buat up cerita lagi, aku gak nuntut kalian untuk komen di setiap cerita yang aku up kok,tapi aku yakin setiap author pasti seneng banget bacain komen pembacanya , kita sama-sama saling ngenakin aja ya
Kalo ada yang tersinggung, aku minta maaf ya, dan kalo ada yang marah kalian bisa chat aku langsung😊
Love u guys💖💖
KAMU SEDANG MEMBACA
Jingga 16:24
Teen FictionSecangkir kopi dan sebatang rokok, menemani sore di bawah langit metropolitan, tepatnya di atas balkon gedung yang belum selesai pengerjaannya namun sudah terbengkalai selama 2 tahun,bahkan masih banyak besi panjang yang berserakan di sini. Tempat i...
